Selasa, 07 April 2026

Tim Medis Kampus Turun Tangan, Layani Kesehatan Korban Banjir Sumatera Barat

Selasa, 16 Desember 2025 11:09 WIB
Tim Medis Kampus Turun Tangan, Layani Kesehatan Korban Banjir Sumatera Barat
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek Khairul Munadi berdialog dengan relawan dan tenaga kesehatan perguruan tinggi di Posko UNP Peduli Tanggap Darurat Bencana, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Jumat (12/12/2025), dalam rangka koordinasi dan p
Padang (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat kolaborasi bersama perguruan tinggi dalam merespons cepat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat.

Melalui implementasi kebijakan Diktisaintek Berdampak, berbagai perguruan tinggi di Sumatra dan sekitarnya bergerak serentak menyalurkan bantuan, mengerahkan tenaga kesehatan, serta memperluas akses layanan medis dan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, turun langsung ke Sumatra Barat untuk melakukan koordinasi dan pemantauan bersama Rektor Universitas Andalas (Unand), tenaga medis setempat, serta Tim Satuan Tugas (Satgas) di Posko Kesehatan Universitas Andalas, Jumat. Posko tersebut saat ini menjadi salah satu klaster pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir di wilayah Sumatra Barat.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, Dirjen Dikti menyampaikan apresiasi atas kerja cepat dan sinergi yang terbangun antarperguruan tinggi dalam memberikan layanan kesehatan bagi korban bencana. Ia menegaskan, kolaborasi lintas kampus menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas penanganan di lapangan.

“Kolaborasi antarperguruan tinggi ini berjalan sangat baik. Dengan menggabungkan tenaga dan sumber daya, penanganan di lapangan menjadi lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Khairul Munadi.

Sementara itu, Relawan Kesehatan Unand menjelaskan bahwa Posko Kesehatan Universitas Andalas berfungsi sebagai pusat pelaporan, pengolahan data kesehatan, serta pengendali distribusi tenaga medis ke wilayah terdampak. Sistem pelaporan kesehatan yang digunakan mengacu pada Medical Data System (MDS) yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

“Melalui sistem yang sudah disesuaikan dengan standar WHO, setiap posko dapat melaporkan temuan kasus harian secara terstruktur. Semua data direkap setiap hari untuk mengetahui jenis penyakit yang paling banyak diderita pasien,” jelas relawan kesehatan Unand, Aldi.

Ia menambahkan, saat ini terdapat enam posko pelayanan kesehatan aktif dengan jumlah pasien yang ditangani mencapai sekitar 400 orang per hari. Selain itu, puskesmas di wilayah terdampak juga mengalami lonjakan pasien, dengan total penanganan mencapai sekitar 150 orang per hari.

Berdasarkan hasil rekap data sementara, penyakit yang paling banyak ditemui di antaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam tinggi, serta beberapa kasus kejang akibat demam yang diduga berkaitan dengan dehidrasi. Tim medis juga menangani berbagai kasus lain seperti luka, patah tulang, hingga tindakan bedah ringan.

Di sejumlah wilayah, akses menuju lokasi terdampak masih terhambat akibat kerusakan jalan dan material longsor. Kondisi tersebut mengharuskan tenaga kesehatan menjangkau lokasi dengan sepeda motor bahkan berjalan kaki.

Usai melakukan koordinasi di Posko Unand, Dirjen Dikti melanjutkan kunjungan ke Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam, salah satu wilayah yang terdampak cukup parah. Kunjungan tersebut dilakukan bersama relawan kesehatan dari Universitas Brawijaya (UB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), serta tenaga kesehatan setempat.

Kepala Puskesmas Koto Alam, Yulwita Jurnawis, menyampaikan bahwa penanganan bencana di wilayahnya sangat terbantu dengan kehadiran relawan kampus.

“Kehadiran relawan kampus sangat membantu, termasuk untuk layanan malam hari, mobilisasi ke wilayah sulit, dan pendampingan psikososial. Kolaborasi seperti ini sangat kami butuhkan agar dapat membantu lebih banyak masyarakat,” ujar Yulwita.

Koordinasi kesehatan di wilayah bencana juga diperkuat oleh kehadiran tim relawan dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Andalas, Universitas Airlangga (Unair), UB, Universitas Syiah Kuala (USK), UMM, serta relawan kesehatan dari berbagai organisasi mahasiswa.

Selain layanan medis, relawan gabungan dari UB dan UMM turut mengambil peran penting dalam penyediaan sanitasi air bersih dan dukungan psikososial. Koordinator relawan kesehatan UB dan UMM, Yusika Windayawara, menjelaskan bahwa tim gabungan menjalankan tiga tugas utama, yakni layanan medis, penyediaan sanitasi air bersih, dan pendampingan psikososial.

“Sanitasi air bersih sangat penting di area pengungsian karena banyak sumber air yang keruh bahkan tidak tersedia. Kami telah memasang sistem sanitasi di 10 titik untuk memastikan warga tetap mendapatkan air bersih,” ujar Koordinator UB dan UMM, Aurick Yudha.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Posko Universitas Negeri Padang (UNP) di Kabupaten Agam. Di lokasi tersebut, tim melakukan koordinasi dengan relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dan relawan kesehatan untuk memastikan keberlanjutan layanan bagi masyarakat terdampak. Selain layanan medis, dukungan psikososial menjadi fokus penting dalam proses pemulihan pascabencana.

Perwakilan tim relawan kesehatan UNP, Dedy Kurniadi, menjelaskan bahwa pendampingan trauma healing dilakukan untuk membantu anak-anak, remaja, hingga lansia dalam mengurangi dampak psikologis akibat bencana.

“Kami memberi pendampingan psikososial kepada anak-anak, remaja, hingga lansia untuk mereduksi trauma pascabencana. Kampus memfasilitasi penuh agar kami bisa menjangkau wilayah-wilayah terdampak,” ujar Dedy.

Sementara itu, relawan Mapala UNP, Rama Zikri, turut terlibat dalam proses evakuasi, pendistribusian logistik, peminjaman alat Search and Rescue (SAR), hingga pembukaan dapur umum di beberapa nagari. Ia menilai, tantangan utama dalam penanganan bencana adalah memastikan distribusi bantuan menjangkau seluruh masyarakat.

“Terkadang bantuan hanya berhenti di posko. Karena itu, peran kami sebagai mahasiswa dan relawan kampus adalah turun langsung ke lapangan agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan warga,” katanya.

Kemdiktisaintek memastikan akan terus memantau perkembangan situasi di Sumatra Barat dan mendorong perguruan tinggi untuk tetap aktif mendukung penanganan hingga tahap pemulihan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan relawan mahasiswa dinilai menjadi kekuatan strategis dalam mempercepat pemulihan masyarakat.

Melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek berkomitmen menghadirkan peran nyata pendidikan tinggi sebagai pilar kemanusiaan, khususnya dalam situasi darurat dan kebencanaan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru