Selasa, 07 April 2026

Dirjen Risbang Dorong Riset Transisi Kompor Listrik dalam FGD UGM Menuju Energi Bersih

Selasa, 16 Desember 2025 09:21 WIB
Dirjen Risbang Dorong Riset Transisi Kompor Listrik dalam FGD UGM Menuju Energi Bersih
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman (tengah), berfoto bersama para narasumber, akademisi UGM, serta pemangku kepentingan usai kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Gedung Danareksa
Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah terus mendorong penguatan riset dan kajian akademik sebagai dasar pengambilan kebijakan strategis nasional, termasuk dalam agenda transisi energi bersih.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transisi Penggunaan Kompor LPG ke Kompor Listrik untuk Menjaga Ketahanan Energi Nasional” yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Gedung Danareksa, Jakarta, Jumat.

Forum diskusi ini menjadi wadah strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri.

FGD bertujuan menggali kesiapan dan tantangan dalam transisi penggunaan kompor LPG menuju kompor listrik, sekaligus merumuskan langkah kebijakan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan keandalan sistem kelistrikan nasional.

Dalam paparannya, Fauzan Adziman menekankan peran penting perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang berkualitas dan aplikatif guna memperkuat kebijakan publik berbasis sains (science-based policy).

“Yang ingin kami kedepankan adalah bagaimana riset dan kajian di kampus dapat menjadi dasar science-based policy. Ini penting untuk membantu Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen sebagaimana arahan Presiden Prabowo,” ujar Fauzan.

Ia menegaskan, penyelesaian persoalan strategis nasional, termasuk transisi energi, harus dilakukan berbasis kepakaran dan kolaborasi yang kuat dengan dunia industri.

Menurutnya, peralihan dari kompor LPG ke kompor listrik bukan sekadar pergantian alat memasak, melainkan bagian dari transformasi besar menuju bauran energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Saat ini, capaian energi bersih nasional baru berada di kisaran 14 persen dari target 23 persen.

Untuk memastikan transisi berjalan efektif dan diterima masyarakat, Dirjen Fauzan menyoroti empat strategi utama:

- Pertama, penguatan sumber daya manusia di perguruan tinggi dan instansi terkait.

- Kedua, pembangunan jembatan sosial agar masyarakat memahami manfaat dan urgensi peralihan energi.

- Ketiga, penciptaan narasi kebijakan yang tepat dan komunikatif.

- Keempat, aksi solutif yang harus segera dilakukan mengingat tingginya urgensi transisi energi bagi ketahanan nasional.

FGD ini dipimpin oleh Prof Tumiran dari UGM yang menekankan bahwa transisi kompor listrik perlu ditempatkan dalam kerangka jangka panjang menuju sistem energi nasional yang mandiri dan berkelanjutan.

Ia mencontohkan pengalaman negara lain seperti Malaysia dan Singapura yang menunjukkan pentingnya perencanaan komprehensif, mencakup aspek teknologi, regulasi, ekonomi, serta kesiapan sosial masyarakat.

“Dukungan kebijakan atau political will menjadi kunci agar transisi ini dapat berjalan konsisten dan memberikan dampak nyata, baik dalam efisiensi energi, penguatan industri dalam negeri, maupun peningkatan kebutuhan listrik yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Dari sisi teknis, Prof Sarjiya dari UGM memaparkan besarnya potensi konversi kompor LPG ke kompor listrik di Indonesia. Namun demikian, ia mengingatkan perlunya perhatian serius terhadap kesiapan jaringan listrik, keamanan instalasi, serta kenyamanan pengguna rumah tangga.

“Transisi hanya akan berhasil jika masyarakat merasa aman dan nyaman, didukung oleh desain produk yang tepat serta kesiapan industri nasional,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif.

Sementara itu, dari perspektif sosial, Derajad Sulistyo Widhyharto dari UGM menyoroti bahwa persepsi masyarakat terhadap kompor listrik sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, kebiasaan memasak, serta tingkat kepercayaan terhadap keandalan pasokan listrik.

Menurutnya, terdapat tiga pendorong utama keberhasilan transisi, yakni stabilitas infrastruktur, dukungan kebijakan dan program pemerintah, serta komunikasi publik yang efektif dan dua arah.

Ia juga menambahkan bahwa tingkat penerimaan masyarakat berbeda-beda antar kelompok, termasuk perempuan dan generasi muda, sehingga strategi sosialisasi perlu disesuaikan dengan segmentasi sosial agar lebih tepat sasaran.

Melalui forum FGD ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menilai kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri sebagai kunci dalam merumuskan langkah strategis transisi kompor listrik.

Berbagai kajian yang disampaikan UGM diharapkan mampu memperkaya perspektif kebijakan dari sisi teknis, sosial, dan ekonomi, sehingga rekomendasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan nasional serta ketahanan energi Indonesia. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru