Selasa, 07 April 2026

Dampak Popi bagi Nelayan Pulau Kosong: Matahari, Ilmu, dan Harapan Baru

Minggu, 14 Desember 2025 09:14 WIB
Dampak Popi bagi Nelayan Pulau Kosong: Matahari, Ilmu, dan Harapan Baru
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie berdialog dengan warga dan anak-anak nelayan saat kunjungan ke Pulau Kosong, Jayapura, Papua, dalam rangka meninjau dampak inovasi teknologi pengering ikan berbasis
Jayapura (buseronline.com) - Tersembunyi di timur Jayapura, sebuah pulau kecil muncul dari hamparan laut biru Papua. Pulau itu bernama Pulau Kosong, tempat sekitar 160 kepala keluarga bermukim dan menggantungkan hidup dari laut.

Di pulau inilah, perpaduan ilmu pengetahuan, teknologi, dan semangat pengabdian menghadirkan harapan baru bagi komunitas nelayan.

Warga Pulau Kosong yang mayoritas bermigrasi dari Pulau Buton puluhan tahun lalu hidup sebagai nelayan tradisional. Hasil tangkapan ikan menjadi sumber utama pangan dan penghasilan. Namun, keterbatasan sarana pascapanen membuat mereka kerap menghadapi persoalan serius.

Ikan asin dijemur secara terbuka di atas papan kayu atau jembatan tanpa penutup, terpapar hujan, debu, asap dapur, hingga hewan. Proses pengeringan bisa memakan waktu hingga satu minggu dengan risiko pembusukan dan penurunan kualitas.

Sementara itu, ikan segar hanya mampu bertahan satu hari karena ketergantungan pada es batu yang sulit diperoleh akibat minimnya akses. Kondisi tersebut berdampak langsung pada rendahnya harga jual dan banyaknya hasil tangkapan yang terbuang atau tidak termanfaatkan secara optimal.

Berangkat dari persoalan tersebut, dosen Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Cenderawasih, Popi Ida Laila Ayer, bersama timnya menghadirkan solusi berbasis sains dan teknologi.

Inovasi yang dibawa berupa alat pengering ikan berbasis efek rumah kaca, sistem penyimpanan bertenaga surya, serta pelatihan manajemen usaha dan pemasaran bagi masyarakat nelayan.

“Ikan yang biasanya ditangkap harganya jadi rendah, bahkan kadang tidak sempat dijual sehingga hanya dibagikan. Kami mencoba memberi solusi dengan teknologi alat pengering ikan dan juga mengajarkan manajemen keuangan, bagaimana pemasukan dan pengeluaran bisa dicatat dengan baik,” ujar Popi.

Teknologi pengering ikan tersebut memanfaatkan panas matahari yang ditangkap oleh dinding transparan berbahan plastik UV. Panas terperangkap dan menaikkan suhu ruang secara merata, sementara sistem ventilasi terarah menjaga sirkulasi udara agar kelembapan menurun.

Dengan teknologi ini, proses pengeringan yang sebelumnya memakan waktu hingga satu minggu kini hanya berlangsung satu hari, dengan kualitas ikan yang lebih higienis dan tahan lama.

Usai dikeringkan, ikan disimpan dalam wadah tertutup berbasis panel surya yang menjaga suhu tetap stabil dan mencegah kontaminasi. Sistem ini memungkinkan ikan disimpan lebih lama sebelum dipasarkan ke daratan Papua.

Seluruh teknologi dirancang sebagai teknologi tepat guna, memanfaatkan energi matahari yang melimpah, tidak bergantung pada listrik, mudah dirawat, dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat.

“Energi matahari ditangkap panel surya, disimpan dalam baterai, lalu diubah menjadi energi listrik yang dialirkan ke freezer. Dengan begitu, ketergantungan nelayan terhadap listrik bisa dikurangi,” jelas Popi.

Dalam pelaksanaannya, Popi melibatkan dosen lain serta mahasiswa sebagai mitra lapangan. Ones Elopere dari Prodi Ilmu Kelautan dan Perikanan dan Rachmadani Octalia Susilowati (Rose) dari Prodi Fisika turut terlibat sejak tahap riset hingga penerapan teknologi di lapangan.

“Pengabdian seperti ini sangat berpengaruh bagi kami. Ada pengalaman nyata, tidak hanya belajar di kelas. Kami juga bisa membantu masyarakat agar hidup lebih sejahtera,” kata Ones.

Sementara itu, Rose berencana mengembangkan inovasi ini melalui tugas akhirnya dengan menambahkan sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau suhu dan kelembapan secara real time agar proses pengeringan lebih efisien di tengah cuaca yang tidak menentu.

Tim pengabdian juga melakukan sosialisasi berulang kali kepada warga dan tokoh kampung. Mereka mengajarkan cara penggunaan alat, perawatan panel surya, hingga memastikan proses pengeringan berjalan aman. Setidaknya enam kali tim mengunjungi Pulau Kosong untuk memastikan teknologi benar-benar dipahami dan dimanfaatkan masyarakat.

“Produksi meningkat, pemasaran juga meningkat. Mereka memanfaatkan jaringan komunitas Buton untuk mengirimkan ikan ke Papua Pegunungan dan Papua Tengah,” ungkap Popi.

Pada salah satu kunjungan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie turut hadir dan menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Pulau Kosong serta tim pengabdian. Menurutnya, inovasi berbasis sains dan teknologi seperti ini memberikan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat.

Teknologi pengering ikan tersebut mampu meningkatkan kapasitas pengolahan dari 100 kilogram menjadi 300 kilogram per siklus. “Agar inovasi ini berkelanjutan, harus ada masyarakat yang benar-benar memahami cara menggunakan dan merawat alat-alat ini. Alatnya akan ada di sini selamanya,” tegas Wamen Stella.

Program ini menjadi wujud nyata arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi kampus hadir langsung sebagai solusi bagi masyarakat.

Pengabdian yang tepat sasaran dinilai mampu meningkatkan kapasitas desa, memperkuat ekonomi berbasis komunitas, dan menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan.

“Kami melihat antusiasme masyarakat sangat besar. Meski ada kendala, kami terus maju karena niat dan semangat masyarakat untuk berkembang juga besar. Dukungan Kemdiktisaintek membuat kami bisa menghadirkan manfaat nyata melalui kampus,” pungkas Popi.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memastikan akan terus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kehadiran inovasi ini membuktikan bahwa sains tidak hanya hidup di laboratorium, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat, menghadirkan matahari, ilmu, dan harapan menuju kemandirian ekonomi. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru