Selasa, 07 April 2026

Wagub Jateng Dorong Pesantren Jadi Lingkungan Aman dan Ramah Santri

Minggu, 14 Desember 2025 06:19 WIB
Wagub Jateng Dorong Pesantren Jadi Lingkungan Aman dan Ramah Santri
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin memberikan arahan pada kegiatan halaqah bertema Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak di Pondok Pesantren Girikesumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (12/12/2025). (Dok/Humas Jateng)
Demak (buseronline.com) - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa pondok pesantren harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi para santri. Isu perlindungan anak di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan sepele.

Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menghadiri halaqah bertema Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak yang digelar di Pondok Pesantren Girikesumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat.

Menurut wagub yang akrab disapa Gus Yasin itu, masih ditemukannya puluhan kasus kekerasan di lingkungan pesantren dalam beberapa tahun terakhir harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Bentuk kekerasan tersebut tidak selalu berupa fisik, melainkan lebih banyak terjadi dalam bentuk perundungan dan tekanan mental.

“Bentuk kekerasan itu tidak selalu fisik. Yang paling tinggi justru bullying dan tekanan mental. Ini menimbulkan ketidakpercayaan anak-anak didik kita untuk tumbuh dan menjadi pemimpin,” ujar Taj Yasin.

Ia memaparkan, sejak 2019 hingga 2025 tercatat puluhan kasus kekerasan di lingkungan pesantren. Namun, angka tersebut diyakini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan karena masih banyak santri yang enggan melaporkan kejadian yang mereka alami.

“Sering kali santri berasumsi, kalau mereka bicara, harus menjaga nama pesantren dan kiai, sehingga tidak berani menyampaikan persoalan yang mereka alami,” jelasnya.

Gus Yasin menegaskan, pesantren sejatinya merupakan lembaga pendidikan yang bersifat inklusif dan harus menjadi ruang aman bagi seluruh santri, termasuk mereka yang sedang menghadapi persoalan psikologis. Karena itu, pengasuhan dan sistem pembinaan perlu diperkuat agar santri merasa terlindungi.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pola senioritas di pesantren. Menurutnya, penugasan santri senior sebagai pengurus merupakan bagian dari proses pendidikan, namun harus tetap disertai pendampingan agar tidak berubah menjadi bentuk tekanan atau kekerasan.

“Pemberian ta’zir atau hukuman harus bersifat mendidik, bukan menyakiti,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Fatkhurronji, mengatakan bahwa upaya mewujudkan pesantren ramah anak membutuhkan sistem dan jejaring yang saling terhubung.

“Pesantren yang aman dan nyaman tidak cukup dilihat dari sisi fisik saja. Harus ada kenyamanan dalam proses pendidikan, dengan jejaring yang kuat antara pengasuh, orang tua, santri, masyarakat, serta dukungan pemerintah,” terangnya.

Ia menambahkan, halaqah tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen para ustaz dan ustazah dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak, tanpa meninggalkan nilai-nilai keilmuan dan akhlakul karimah yang menjadi ciri khas pesantren.

Dengan penguatan sistem pengasuhan dan pengawasan yang berkelanjutan, diharapkan pesantren di Jawa Tengah benar-benar menjadi tempat tumbuh kembang santri yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru