Selasa, 07 April 2026

Transformasi Literasi Sains Digenjot Kemdiktisaintek Lewat Kerja Sama Akademisi dan Platform Digital

Minggu, 07 Desember 2025 09:07 WIB
Transformasi Literasi Sains Digenjot Kemdiktisaintek Lewat Kerja Sama Akademisi dan Platform Digital
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani bersama perwakilan mitra dan narasumber berfoto usai Seminar dan Workshop Nasional Fuel Your Potential #FYP bertema “Civitas Akademika sebagai Agen Komunikator Sains di Era Digital”
Bandung (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mempertegas komitmen memperkuat literasi sains nasional melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan ekosistem teknologi digital.

Upaya ini diwujudkan dalam Seminar dan Workshop Nasional Fuel Your Potential (FYP) bertema “Civitas Akademika sebagai Agen Komunikator Sains di Era Digital” yang digelar di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, Kamis.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak boleh hanya dipahami sebagai digitalisasi ruang belajar atau pemanfaatan teknologi canggih seperti AI dan big data.

Menurutnya, esensi transformasi adalah kemampuan perguruan tinggi mengalirkan ilmu pengetahuan kepada publik secara luas.

“Di tengah banjir informasi dan gelombang digitalisasi, jurang antara akademisi dan masyarakat justru semakin melebar. Fenomena death of expertise dan weaponization of expertise melemahkan kepercayaan publik terhadap ilmuwan,” ujar Dirjen Najib.

Ia menjelaskan tiga sekat besar yang membuat sains terpisah dari masyarakat: sekat eksklusivitas ilmu yang dianggap elitis, sekat komunikasi karena minimnya ruang komunikasi sains yang kredibel, serta sekat keterlibatan publik akibat terbatasnya ruang partisipasi masyarakat dalam proses ilmiah.

“Sains tidak boleh menjadi kemewahan menara gading. Ilmu pengetahuan harus menjadi gerakan publik,” tegasnya. Transformasi, lanjutnya, perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem partisipasi publik melalui citizen science, kolaborasi co-creation lewat living labs, dan penguatan open science.

Dirjen Najib juga menekankan empat peran strategis akademisi: sebagai komunikator sains, fasilitator co-creation, penghubung sains modern dengan pengetahuan lokal, serta pencipta budaya sains di masyarakat.

Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek Kemdiktisaintek, Yudhi Dharma, menyampaikan bahwa acara FYP digelar untuk menjawab tantangan komunikasi sains di era digital. Menurutnya, melimpahnya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman masyarakat terhadap sains.

“Transformasi komunikasi sains bukan hanya memindahkan pembelajaran dari kelas ke gawai. Ini tentang bagaimana masyarakat memahami sains dengan benar,” ujarnya. “Semangat inilah yang membuktikan bahwa sains bisa tampil inklusif dan bermanfaat bagi semua.”

Seminar FYP menghadirkan dialog antara pemerintah, akademisi, pelaku industri digital, dan kreator edukasi. Rangkaian workshop turut disiapkan, antara lain ‘Membuat Konten Edukatif Berbasis Sains dan Teknologi’ serta ‘Strategi Monetisasi Konten Edukatif di TikTok’. Kegiatan ini mendorong peserta menguasai pembuatan konten STEM serta etika bermedia sosial.

Head of Executive Director Tokopedia dan TikTok E-Commerce Indonesia, Stephanie Susilo, menyebut platform digital memiliki peran strategis dalam memperluas akses STEM dan meningkatkan literasi sains generasi muda. TikTok, kata dia, kini menghadirkan fitur khusus STEM feed untuk memperkuat ekosistem pembelajaran.

“TikTok bukan hanya ruang berbagi konten, tetapi wadah akselerasi ilmu pengetahuan. Format kreatifnya dapat membentuk generasi yang kritis dan konstruktif,” ujarnya.

Staf Khusus Mendiktisaintek Bidang Riset dan Pengembangan, I Gede Wenten, menambahkan bahwa dunia saat ini memasuki era kompetisi berbasis pengetahuan. Penguasaan, produksi, dan diseminasi ilmu menjadi faktor penting daya saing bangsa.

Namun, ia menilai literasi sains masyarakat masih rendah sehingga banyak riset bernilai tinggi belum termanfaatkan optimal.

“Akselerasi diseminasi sains menjadi kunci memperkuat ekosistem inovasi nasional,” ungkapnya. Media sosial, menurut SKM Wenten, kini menjadi kanal inklusif yang mampu menyebarkan ilmu kepada audiens luas melalui konten visual, naratif, dan interaktif.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa percepatan diseminasi harus berpijak pada substansi ilmiah. “Reputasi ilmiah bukan dibangun oleh intensitas tampil di media, melainkan oleh ketajaman penelitian dan dampak nyata bagi masyarakat.”

Ia menegaskan pentingnya peran akademisi sebagai science ambassador yang mampu menerjemahkan konsep ilmiah kompleks ke dalam bahasa publik yang mudah dipahami.

Melalui inisiatif seperti FYP, Kemdiktisaintek berharap ekosistem komunikasi sains nasional semakin kuat dan generasi muda semakin dekat dengan sains sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru