Minggu, 12 April 2026

Sinkronisasi Pendidikan Tinggi dan Dunia Kerja, Mendiktisaintek dan Menaker Tingkatkan Kolaborasi

Sabtu, 25 Oktober 2025 10:21 WIB
Sinkronisasi Pendidikan Tinggi dan Dunia Kerja, Mendiktisaintek dan Menaker Tingkatkan Kolaborasi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto (kiri) berbincang dengan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat pertemuan di Kantor Kemenaker, Jakarta, Selasa (21/10/2025). (Dok/Diktisaintek)
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) berkomitmen memperkuat sinergi antara pendidikan tinggi, pelatihan vokasi, dan kebutuhan industri.

Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak yang menekankan relevansi, kolaborasi, serta kontribusi nyata pendidikan tinggi bagi pembangunan nasional.

Sinergi tersebut ditandai melalui pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dengan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli, di Kantor Kemenaker, Selasa.

Dalam pertemuan itu, kedua kementerian sepakat mengintegrasikan perencanaan pendidikan dan ketenagakerjaan berbasis data (data driven policy), memperkuat sistem sertifikasi profesi, serta mengembangkan kurikulum adaptif yang menjawab kebutuhan masa depan, termasuk bidang green jobs, teknologi digital, dan manufaktur berkelanjutan.

“Untuk rencana pembangunan Indonesia dan delapan Asta Cita, kita coba breakdown menjadi bidang-bidang yang membutuhkan keahlian khusus. Dari Kemnaker juga memiliki prediksi tenaga kerja apa yang akan dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Menteri Brian Yuliarto.

Mendiktisaintek menegaskan bahwa penguatan sinergi antara pendidikan tinggi dan dunia kerja merupakan langkah strategis untuk memastikan pembangunan nasional berjalan sesuai kebutuhan zaman.

Ia menilai, perencanaan pendidikan harus selaras dengan arah kebijakan pembangunan serta kebutuhan tenaga kerja masa depan, agar lulusan perguruan tinggi mampu menjadi bagian dari solusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, Menaker Yassierli menuturkan bahwa kolaborasi antarkementerian ini diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja. Ia menekankan pentingnya penyelarasan kurikulum dan metode pembelajaran dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

Sebagai tindak lanjut, Kemdiktisaintek dan Kemenaker akan mengembangkan sistem prediksi tenaga kerja nasional atau national workforce forecasting, yang dapat digunakan oleh perguruan tinggi untuk merancang program studi dan kurikulum yang relevan dengan tren industri masa depan.

Kemdiktisaintek juga akan menyediakan basis data pendidikan tinggi terintegrasi dengan kebutuhan industri nasional, guna memperkuat kebijakan berbasis bukti dan menekan angka ketidaksesuaian kompetensi lulusan.

Sebagai bagian dari kebijakan Diktisaintek Berdampak, kementerian tersebut menempatkan pendidikan vokasi dan politeknik sebagai ujung tombak penyiapan tenaga kerja terampil. Kedua kementerian juga sepakat memperkuat peran Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di kampus sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri.

“Kami ingin memastikan sertifikasi profesi di kampus berjalan transparan, akuntabel, dan berorientasi mutu. Untuk itu, Kemdiktisaintek akan memperkuat koordinasi dengan BNSP dan asosiasi industri,” tambah Menteri Brian.

Selain itu, pertemuan juga membahas penguatan program magang internasional bagi mahasiswa Indonesia, sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing global. Program ini dilakukan melalui kerja sama dengan negara mitra seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Skema magang akan mencakup pelatihan bahasa, pembekalan budaya kerja, serta jaminan keberlanjutan karier pasca-magang. Kemdiktisaintek berkomitmen mendukung penyusunan kurikulum magang berbasis kemitraan industri dan pembiayaan pelatihan berkelanjutan melalui program vokasi global.

Kedua kementerian juga menyoroti pentingnya reformasi kebijakan beasiswa nasional, termasuk optimalisasi dana LPDP agar lebih terarah pada kebutuhan strategis pembangunan ekonomi dan industri nasional.

“Beasiswa dan riset harus ditempatkan sebagai investasi produktif bagi penguatan ekonomi nasional, bukan hanya sekadar dukungan akademik,” tegas Mendiktisaintek.

Sebagai wujud kolaborasi berkelanjutan, kedua kementerian sepakat membentuk Forum Rektor–Industri–Pemerintah, yang berfungsi sebagai wadah koordinasi kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan. Forum ini akan fokus pada integrasi data lulusan, penyusunan sistem forecasting tenaga kerja berbasis data industri, serta penguatan riset terapan dan inovasi dalam desain kurikulum.

Kemdiktisaintek menegaskan komitmen untuk mengawal hasil pertemuan ini melalui kebijakan kolaboratif lintas kementerian dan lembaga, memastikan seluruh program pendidikan tinggi, sains, dan teknologi benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan daya saing nasional. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Pertamina Patra Niaga Optimalkan Armada Laut untuk Jaga Distribusi LPG Nasional
Ribuan Kafilah Meriahkan Pawai Ta’aruf MTQ ke-59 Kota Medan
KPK: Kampus Jadi Garda Depan Pembentukan Integritas Generasi Muda
Semarang Mountain Race 2026 Resmi Digelar, Ratusan Pelari Taklukkan Gunung Ungaran
Patroli Taktis Operasi Damai Cartenz 2026 Perkuat Keamanan di Sinak
Kakorlantas: Kolaborasi dan Teknologi Kunci Sukses Operasi Ketupat 2026
komentar
beritaTerbaru