Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong pemerataan kualitas pendidikan tinggi di seluruh Indonesia.
Salah satu langkah nyata yang diambil adalah dengan menghadirkan Program Beasiswa Pra-Doktoral bagi Perguruan Tinggi Terdepan, Terluar, Tertinggal (PT3T) dan Daerah Afirmasi Bidang Sains Dasar dan Keteknikan Tahun 2025, yang resmi diluncurkan dan diberikan pembekalan kepada peserta secara daring pada Kamis.
Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian beasiswa, tetapi juga menjadi bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap peningkatan akses dan kualitas pendidikan tinggi, terutama di wilayah 3T dan daerah afirmasi.
Direktur Sumber Daya Kemdiktisaintek, Prof Dr Sri Suning Kusumawardani ST MT, menjelaskan bahwa program ini merupakan inisiatif baru Kemdiktisaintek untuk menyiapkan dosen-dosen dari PT3T agar siap melanjutkan studi ke jenjang doktoral.
“Program Beasiswa Pra-Doktoral PT3T dan Daerah Afirmasi ini merupakan program baru tahun ini. Kami menjemput bola ke PT3T untuk membantu meningkatkan kualifikasi dosen. Harapannya, para peserta dapat mengikuti proses ini dengan serius, tekun, dan mulai merancang proposal doktoralnya agar bisa langsung terkoneksi dengan program pascasarjana (S3),” ujar Sri Suning dalam sambutannya.
Sebanyak 40 peserta dari 20 perguruan tinggi di 13 provinsi terpilih setelah melalui proses seleksi ketat dari total 94 pendaftar. Para peserta akan menempuh program pra-doktoral selama satu semester, terdiri atas dua bulan pembelajaran daring dan dua bulan luring di tiga perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kepala Subdirektorat Pengelolaan Dosen dan Tenaga Kependidikan, Pauzan, menjelaskan bahwa pembagian peserta di tiga kampus tersebut dilakukan agar proses pembelajaran lebih fokus dan efektif.
“Total pendaftar ada 94 orang, dan yang lolos sebanyak 40 peserta dari 13 provinsi. Persebarannya di tiga kampus besar: ITB 12 peserta, ITS 14 peserta, dan UGM 14 peserta,” jelasnya.
Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga untuk memperkuat aspek riset, kepemimpinan, serta adaptasi sosial dan budaya.
Melalui pendampingan intensif, peserta akan mendapatkan penguatan metodologi penelitian, penulisan ilmiah, penyusunan proposal riset S3, hingga pengayaan bahasa Inggris dan manajemen waktu.
Dalam kesempatan yang sama, Juniarti D Lestari, Ketua Tim Kerja Pembinaan Kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, menegaskan bahwa program ini memiliki peran strategis dalam menjembatani keterbatasan akses pendidikan tinggi di wilayah 3T.
“Keterbatasan akses ke jenjang doktoral adalah tantangan nyata di wilayah 3T. Melalui program ini, kita menyiapkan dosen muda agar tidak hanya siap studi lanjut, tapi juga mampu menjadi motor perubahan sosial dan penggerak inovasi sesuai dengan semangat Kampus Berdampak,” ujar Juniarti.
Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam memastikan keberlanjutan program ini.
Harapannya, para penerima beasiswa dapat melanjutkan ke jenjang doktoral dan kembali mengabdi ke daerah masing-masing, guna memperkuat ekosistem pendidikan tinggi di wilayah 3T dan afirmasi.
Program ini menjadi bagian dari upaya Kemdiktisaintek mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di mana pemerataan sumber daya manusia unggul menjadi kunci kemajuan bangsa. Saat ini, proporsi dosen bergelar doktor di Indonesia baru mencapai 25,7%, dan angkanya lebih rendah di wilayah tertinggal.
Dengan hadirnya Beasiswa Pra-Doktoral PT3T dan Daerah Afirmasi, pemerintah ingin membuktikan bahwa kemajuan bangsa bukan hanya ditentukan oleh pusat-pusat kota besar, melainkan juga oleh potensi dan semangat yang tumbuh dari pelosok negeri.
“Dari pelosok, untuk kemajuan. Dari sudut 3T, untuk Indonesia,” tutup Sri Suning. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar