Selasa, 14 April 2026

Indonesia Siap Jadi Pemimpin Global Industri Tanah Jarang, Fokus pada Penguasaan Teknologi dan Riset

Jumat, 17 Oktober 2025 07:05 WIB
Indonesia Siap Jadi Pemimpin Global Industri Tanah Jarang, Fokus pada Penguasaan Teknologi dan Riset
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan sambutan pembukaan pada International Process Metallurgy Conference (IPMC) 2025 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (14/10/2025).
Bandung (buseronline.com) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat posisi nasional di sektor mineral strategis, khususnya industri tanah jarang (rare earth elements), melalui penguasaan teknologi, riset, dan kolaborasi lintas sektor.

Hal itu disampaikan Menteri Brian saat membuka International Process Metallurgy Conference 2025 (IPMC 2025) yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa.

Konferensi ilmiah dua tahunan ini mempertemukan akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas kemajuan riset serta inovasi di bidang proses metalurgi.

Dengan mengusung tema “Advancing Sustainable Metallurgy towards Circularity & Carbon Neutrality”, IPMC 2025 menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam mewujudkan industri metalurgi yang berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan.

Menteri Brian menekankan pentingnya penguasaan teknologi nasional dalam pengolahan unsur tanah jarang sebagai langkah strategis memperkuat kedaulatan industri dan ekonomi Indonesia di tengah persaingan global.

“Industri tanah jarang adalah sektor yang kompleks dan sangat kompetitif. Tantangan kita mencakup penguasaan teknologi, volatilitas pasar, serta tuntutan keberlanjutan lingkungan. Namun di balik tantangan itu, tersimpan peluang besar. Dengan kekayaan sumber daya alam, talenta manusia, dan komitmen terhadap inovasi, Indonesia memiliki peluang nyata menjadi pemimpin global dalam industri mineral kritis dan teknologi energi masa depan,” ujar Menteri Brian.

Indonesia selama ini dikenal sebagai negara dengan sumber daya mineral melimpah, seperti nikel, timah, tembaga, dan bauksit. Namun, potensi besar dalam unsur tanah jarang belum dimanfaatkan secara optimal karena sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan mentah.

Brian menegaskan, pengembangan rantai nilai industri tanah jarang di dalam negeri akan memperkuat struktur ekonomi nasional.

Menurutnya, industrialisasi tidak boleh berhenti pada tahap downstreaming, melainkan harus berkembang ke arah industri manufaktur yang mampu memanfaatkan bahan tanah jarang untuk produk bernilai tambah tinggi, seperti magnet permanen, material energi, dan komponen teknologi canggih.

“Transformasi besar ini tidak bisa dijalankan hanya dengan pendekatan top down. Keberhasilan pembangunan industri tanah jarang membutuhkan kolaborasi erat antara industri, akademisi, masyarakat lokal, dan pembuat kebijakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembangunan industri tanah jarang bukan semata soal menggali sumber daya alam, tetapi membangun kapasitas nasional di bidang sains, teknologi, dan industri.

“Ini adalah perjalanan untuk mengubah sumber daya alam menjadi pengetahuan, produk, dan lapangan kerja, serta memastikan kemajuan ekonomi berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan dan keadilan sosial,” ujarnya.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sendiri memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi ekosistem riset dan inovasi nasional.

Melalui berbagai kebijakan dan program, kementerian tersebut mendorong penguatan kapasitas penelitian di perguruan tinggi, memperkuat kolaborasi antara kampus, lembaga riset, dan industri, serta mempercepat hilirisasi teknologi agar hasil riset dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional.

Menteri Brian pun mengajak para ilmuwan, teknolog, pengusaha, investor, dan pembuat kebijakan untuk berkontribusi aktif dalam memperkuat kemandirian teknologi nasional.

“Dengan kerja bersama dan semangat kolaboratif, saya yakin Indonesia dapat mewujudkan masa depan industri mineral strategis yang membawa kemakmuran bagi bangsa,” kata Brian.

Adapun topik yang dibahas dalam IPMC 2025 meliputi pengolahan mineral dan batubara, ekstraksi serta pemurnian logam suhu tinggi, hidrometalurgi, biohidrometalurgi, dan elektrometalurgi. Selain itu juga dibahas perancangan paduan logam, perlakuan permukaan material, serta isu korosi dan degradasi logam.

Melalui riset metalurgi dan inovasi teknologi proses, Indonesia diharapkan dapat memperkuat daya saing global dan mewujudkan kemandirian industri nasional berbasis sains dan inovasi. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
KPK OTT Bupati Tulungagung dan Ajudan, Diduga Lakukan Pemerasan hingga Rp5 Miliar
Jawa Tengah Jadi Percontohan Penguatan Kemitraan Program MBG
Skrining Pendengaran Digelar, Pemkab Bekasi Luncurkan Sekolah Peduli Pendengaran
Swasta Didorong Terlibat, TP PKK Medan Targetkan Penurunan Zero Dose Imunisasi
Patroli Humanis Satgas Damai Cartenz 2026 Hidupkan Suasana Distrik Muara
Bareskrim Polri Ungkap Produksi Kosmetik Ilegal di Bogor, Tiga Tersangka Ditangkap
komentar
beritaTerbaru