Jakarta (buseronline.com) - Wamendiktisaintek Stella Christie, menegaskan bahwa pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global Artificial Intelligence (AI) dan memperkuat ketahanan nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam Kuliah Umum Angkatan XXVI Tahun Ajaran 2025 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, yang digelar di Jakarta, Senin.
Dalam kuliah umum bertema “Optimalisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Kemandirian Teknologi Nasional dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional di Era Geopolitik Digital”, Wamen Stella menjelaskan bahwa AI kini menjadi fenomena global yang membawa dampak besar bagi kehidupan manusia, baik sebagai peluang kemajuan maupun ancaman disrupsi.
“Kuncinya bukan pada teknologinya, tetapi pada manusianya. SDM yang memiliki empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir analitis tidak akan tergantikan oleh AI,” ujar Wamen Stella.
Ia menyoroti fenomena global yang menunjukkan bagaimana teknologi berbasis AI mulai mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk kesehatan. Salah satu studi internasional bahkan menunjukkan bahwa sistem berbasis AI seperti ChatGPT dinilai lebih empatik dan akurat dibanding dokter manusia dalam sejumlah kasus medis.
Menurutnya, hal ini menjadi peringatan bahwa manusia dapat tertinggal jika berhenti mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kemampuan berpikir kritis.
Data dari World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa pada tahun 2025, AI diperkirakan akan menciptakan 97 juta pekerjaan baru, namun sekaligus menghilangkan 92 juta pekerjaan lama akibat otomatisasi. Karena itu, upskilling dan reskilling menjadi langkah mendesak bagi SDM Indonesia.
“Kalau kita tidak beradaptasi, AI akan menjadi disruptor. Tapi kalau kita bijak mengelolanya, AI akan menjadi enabler — penguat SDM dan ketahanan nasional,” tegasnya.
Wamen Stella memaparkan empat dimensi tantangan global AI yang perlu diantisipasi bersama, yaitu:
1. Ancaman terhadap ketenagakerjaan dan kesenjangan ekonomi.
2. Kerentanan terhadap keamanan siber.
3. Penurunan reliabilitas informasi akibat hoaks dan disinformasi.
4. Kesenjangan digital antarnegara dan antarkelompok masyarakat.
Namun, ia juga menekankan bahwa keempat tantangan tersebut dapat berubah menjadi peluang strategis bila dikelola dengan tepat. AI dapat mendorong terciptanya lapangan kerja baru, memperkuat sistem keamanan siber berbasis kecerdasan buatan, membantu verifikasi informasi, serta memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan.
“AI bukan musuh manusia. AI adalah alat. Jika kita mampu mengarahkan, mengatur, dan mengawasinya, maka AI akan memperkuat bangsa, bukan melemahkannya,” jelas Stella.
Dalam konteks geopolitik global, Wamendiktisaintek menekankan pentingnya diplomasi internasional agar negara berkembang seperti Indonesia tidak tertinggal dalam penguasaan teknologi AI dan pertahanan digital. Ia mencontohkan distribusi vaksin COVID-19 sebagai pelajaran penting tentang kesenjangan akses global terhadap teknologi vital.
Selain itu, Stella menegaskan pentingnya membangun narasi digital Indonesia melalui pengembangan model AI berbasis data lokal.
“Kita negara besar dengan lebih dari 270 juta penduduk. Sudah waktunya narasi digital dan data kita sendiri menjadi bagian dari percakapan global,” ujarnya.
Dalam paparannya, Wamen Stella menguraikan empat langkah strategis untuk menghadapi revolusi AI secara komprehensif:
1. Meningkatkan kompetensi SDM nasional melalui pendidikan berbasis kreativitas, analisis, dan kepemimpinan sosial.
2. Menempatkan manusia di pusat keamanan digital (human in the loop) agar AI tidak mengambil alih keputusan strategis.
3. Membangun ekosistem literasi digital dan AI nasional yang inklusif dan berbasis nilai kemanusiaan.
4. Memanfaatkan AI untuk pemerataan akses pendidikan dan kesehatan, agar seluruh masyarakat memperoleh manfaat nyata dari teknologi.
Kegiatan kuliah umum ini turut dihadiri Gubernur Lemhannas RI R Z Panca Putra S, peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI TA 2025, tenaga pengajar, dan berbagai profesional lintas instansi.
Gubernur Lemhannas menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wamen Stella, yang dinilai membawa perspektif strategis baru tentang AI sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menutup kuliah umumnya, Stella mengajak seluruh peserta untuk memandang AI sebagai peluang, bukan ancaman.
“AI adalah cermin dari kualitas manusia yang menggunakannya. Jika kita menyiapkan SDM yang unggul, maka AI akan menjadi mitra strategis bangsa, bukan ancaman bagi kemanusiaan,” pungkasnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar