Minggu, 12 April 2026

Perguruan Tinggi Didorong Jadi Problem Solver bagi Bangsa

Selasa, 16 September 2025 10:28 WIB
Perguruan Tinggi Didorong Jadi Problem Solver bagi Bangsa
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-68 Universitas Padjadjaran di Bandung, Kamis (11/9/2025). (Dok/Diktisaintek)
Bandung (buseronline.com) - Menyongsong satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi ruang reproduksi pengetahuan, tetapi juga motor penggerak transformasi bangsa.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai problem solver dalam menjawab keresahan masyarakat dan mendukung visi Indonesia Emas. Hal tersebut disampaikannya dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-68 Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung, Kamis.

“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai ruang reproduksi pengetahuan. Sebagai Kampus Berdampak, universitas harus hadir sebagai problem solver, penjawab keresahan masyarakat, dan penggerak transformasi bangsa. Produk riset jangan hanya berhenti di prototipe, tetapi harus dihilirisasi kepada masyarakat,” tegas Wamen Fauzan.

Indonesia memiliki lebih dari 4.300 perguruan tinggi, namun masih menghadapi tantangan besar terkait kualitas dan relevansi. Data tahun 2024 menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi baru 32%, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang telah melampaui 90%. Selain itu, terdapat 1,01 juta sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan, meski Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Kondisi ini disebut Presiden RI Prabowo Subianto sebagai “Paradoks Indonesia.”

Untuk menjawab tantangan tersebut, Wamendiktisaintek Fauzan merumuskan empat strategi utama:

1. Penguatan tata kelola, kepemimpinan, dan SDM unggul.

2. Transformasi akademik dan digitalisasi kurikulum.

3. Pembangunan ekosistem inovasi, riset, dan keberlanjutan.

4. Kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah, industri, masyarakat, dan media.

Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menekankan perluasan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas dosen, serta riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Presiden Prabowo melalui visi Asta Cita menempatkan pembangunan manusia unggul dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai pilar utama kemandirian bangsa. Pendidikan tinggi dipandang sebagai instrumen penting dalam mencetak sumber daya manusia yang produktif, inovatif, dan berdaya saing global.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak. Program ini bertujuan menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif terhadap disrupsi, sekaligus mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Wamen Fauzan menutup orasinya dengan mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai lokomotif bangsa.

“Mari wujudkan tata kelola yang mendorong deelitisasi dan mengutamakan kebermanfaatan. Perguruan tinggi, industri, media, dan masyarakat harus bahu-membahu memperluas akses, menumbuhkan mutu, memperkuat relevansi, dan memberi dampak,” pungkasnya.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap perguruan tinggi dapat benar-benar menjadi pusat solusi dan inovasi dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Paris FC Hancurkan Monaco 4-1, Putus Tren Kemenangan Tamu di Ligue 1
MT Gas Attaka Perkuat Distribusi LPG ke Kalimantan dan Sulawesi
Marseille Akhiri Tren Negatif Usai Tumbangkan Metz 3-1
PSSI Gelar Program Coach Educator Development untuk Tingkatkan Kualitas Pelatih
Presiden Prabowo Dorong Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade
Pj Sekda Sumut Tekankan Pemerataan Dokter Spesialis hingga Kepulauan
komentar
beritaTerbaru