Rabu, 28 Oktober 2026

Kemendikdasmen Luncurkan Peta Jalan Pendidikan Multibahasa Asia Tenggara

Rabu, 28 Oktober 2026 18:30 WIB
Kemendikdasmen Luncurkan Peta Jalan Pendidikan Multibahasa Asia Tenggara
Kemendikdasmen RI melalui SEAQIL meluncurkan Peta Jalan Asia Tenggara tentang Pendidikan Multibahasa (SEA-MLE Roadmap) dan dua ringkasan kebijakan mengenai penguatan literasi serta peningkatan kapasitas guru bahasa Inggris.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI melalui SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) meluncurkan Peta Jalan Asia Tenggara tentang Pendidikan Multibahasa (SEA-MLE Roadmap) dan dua ringkasan kebijakan mengenai penguatan literasi serta peningkatan kapasitas guru bahasa Inggris.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, peluncuran ini berlangsung dalam rangkaian Simposium Internasional Tahunan ke-17 tentang Pembelajaran Bahasa Asing (AISOFOLL) di Jakarta.

Ketiga publikasi tersebut diharapkan menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dalam mengembangkan pendidikan multibahasa, meningkatkan kemampuan literasi siswa, dan memperkuat kompetensi guru bahasa Inggris. Dokumen ini juga memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat disesuaikan dengan keragaman bahasa dan kebutuhan pembelajaran di setiap negara.

Direktur SEAQIL, Brian Arieska Pranata, mengatakan bahwa penerbitan ketiga dokumen tersebut merupakan upaya SEAQIL untuk menghubungkan hasil penelitian dengan pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan bahasa.

Peta Jalan SEA-MLE disusun SEAQIL bersama Sekretariat SEAMEO dengan dukungan teknis dari Kantor Regional UNESCO di Bangkok dan Kantor Koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik.

Dokumen tersebut menjadi kerangka kerja bagi negara-negara anggota SEAMEO dalam mengembangkan, menerapkan, dan memantau kebijakan pendidikan multibahasa sesuai prioritas nasional dan kondisi lokal.

Brian menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam pendidikan multibahasa adalah perbedaan antara bahasa yang digunakan siswa di rumah dan bahasa pengantar di sekolah.

"Pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu memungkinkan siswa untuk membangun keterampilan dasar dalam bahasa yang paling mereka pahami, sambil secara bertahap mengembangkan penguasaan bahasa nasional dan bahasa lainnya," ujar Brian.

Peta jalan tersebut mencakup enam pilar utama, yaitu akses, pembelajaran, guru, kebijakan, data, dan komunitas. Pilar-pilar ini menitikberatkan pada perluasan akses pendidikan multibahasa, pengembangan kurikulum dan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan bahasa siswa, peningkatan kapasitas guru, dukungan kebijakan dan pendanaan, pemanfaatan data untuk perencanaan, serta pelibatan masyarakat.

Spesialis Program Pendidikan UNESCO Bangkok, Rika Yorozu, mendorong para pemangku kepentingan untuk mempelajari keenam pilar tersebut dan menentukan langkah implementasi yang sesuai dengan konteks masing-masing negara.

Ia juga menekankan pentingnya penerjemahan peta jalan ke dalam bahasa nasional dan bahasa lokal agar dapat diakses serta dimanfaatkan secara lebih luas. "Peta jalan ini akan lebih bermakna jika diimplementasikan secara efektif, mendorong kolaborasi dan pembelajaran berkelanjutan," kata Rika.

Selain peta jalan, SEAQIL meluncurkan ringkasan kebijakan berjudul Penguatan Peran Guru Bahasa dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa. Publikasi ini disusun berdasarkan studi kebutuhan guru melalui diskusi di Aceh Besar, Makassar, dan Ternate pada 2024.

Studi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan pemahaman guru mengenai literasi dan strategi pembelajaran yang membantu siswa memahami teks. Untuk itu, ringkasan kebijakan ini merekomendasikan tiga langkah utama, yakni menyelaraskan pemahaman guru tentang literasi, meningkatkan kapasitas guru, dan memperkuat ekosistem pendukung literasi.

Pengembangan profesional guru dinilai perlu disertai lingkungan belajar yang mendukung agar peningkatan kemampuan literasi siswa dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, ringkasan kebijakan kedua, Menilai Kebutuhan Peningkatan Kapasitas Guru Bahasa Inggris yang Inovatif dan Adaptif, berfokus pada kesiapan guru dalam mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar. Penilaian kebutuhan dilakukan di tiga wilayah, yaitu Aceh Besar, Makassar, dan Ternate.

Publikasi tersebut merekomendasikan penyusunan kebijakan komprehensif mengenai kualifikasi dan kompetensi guru serta penerapan pembelajaran inklusif yang mengakomodasi keragaman bahasa siswa melalui pendekatan translanguaging dan Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (Mother Tongue-Based Multilingual Education/MTB-MLE).

Editor
: Administrator
beritaTerkait
SEAQIL Gelar AISOFOLL ke-17, Dorong Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa
Kemendikdasmen Gelar Kompetisi Juara Kelas Indonesia, Libatkan Sekolah dari 38 Provinsi
Kemendikdasmen Perkuat Kolaborasi dengan Dewan Pendidikan, Fokus Tingkatkan Mutu Pembelajaran
KPK Hibahkan Aset Rampasan Korupsi Rp9,65 Miliar ke Pemprov DKI, Bakal Jadi Pos Damkar
Kemendikdasmen Latih Guru di Empat Provinsi untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana
Densus 88 dan Disdik DKI Gelar Workshop Sekolah Ramah Anak, Cegah Radikalisme dan Cyberbullying
komentar
beritaTerbaru