Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI terus mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah melalui platform Rumah Pendidikan.
Dilansir dari laman
Kemendikdasmen, platform yang menyediakan sekitar 4.000 sumber belajar ini diharapkan dapat membantu guru menyiapkan materi pembelajaran sekaligus memudahkan siswa memahami pelajaran secara lebih menarik dan interaktif.
Pemanfaatan Rumah Pendidikan diperkenalkan melalui kegiatan Sapa Sekolah 2026 di SMA Negeri 80 Jakarta. Mengusung tema "Hari Belajar Lebih Menyenangkan dengan Ruang Murid", kegiatan ini memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk mengenal serta mencoba langsung berbagai fitur pembelajaran digital, mulai dari materi interaktif, laboratorium virtual, hingga permainan edukatif.
Kepala Sub-Dinas Pendidikan Wilayah
Jakarta Utara I, Iis Budiana, yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak hanya berfokus pada penggunaan perangkat teknologi dan akses internet, tetapi juga pada manfaatnya bagi proses belajar mengajar.
"Keberhasilan digitalisasi pembelajaran tidak diukur dari berapa banyak aplikasi yang kita gunakan, tetapi dari seberapa banyak teknologi membantu guru mengajar lebih baik dan siswa belajar lebih bermakna," ujar Iis.
Kepala Divisi Tata Kelola dan Transformasi Digital Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), Agus Triarso, menjelaskan bahwa Rumah Pendidikan dikembangkan melalui kontribusi berbagai pihak, termasuk penyedia konten, guru, dan masyarakat.
Sejumlah mitra, seperti PesonaEdu dan Assemblr Edu, turut menyediakan materi pembelajaran. Guru juga dapat mengirimkan video pembelajaran hasil karya sendiri untuk melalui proses kurasi sebelum ditayangkan di platform tersebut.
"Rumah Pendidikan bukan hanya milik Pusdatin atau Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tetapi milik semua orang," kata Agus.
Bagi SMA Negeri 80 Jakarta, kehadiran Rumah Pendidikan menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan waktu guru dalam mempersiapkan media pembelajaran.
Kepala
SMA Negeri 80 Jakarta, Satya Winarah, mengungkapkan bahwa sejumlah guru memiliki beban mengajar hingga 35 jam atau lebih sehingga membutuhkan sumber belajar yang praktis dan siap digunakan.
Saat ini, sekolah tersebut memiliki dua unit Panel Datar Interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP) yang digunakan secara bergantian oleh para guru dari Senin hingga Jumat.
Satya berharap pemanfaatan perangkat tersebut semakin optimal dengan dukungan sumber belajar digital. Ia juga mendorong para guru untuk berkontribusi melalui karya pembelajaran agar dapat dimanfaatkan oleh sekolah lain.
Kebutuhan akan media visual juga dirasakan Turmiati, guru kimia di SMA Negeri 80 Jakarta. Menurutnya, materi seperti bentuk molekul dan reaksi kimia membutuhkan ilustrasi atau animasi agar konsep yang abstrak lebih mudah dipahami siswa.
Selama ini, Turmiati kerap mencari materi pendukung melalui YouTube. Ia berharap Rumah Pendidikan dapat menyediakan konten yang akurat, jelas, dan kredibel untuk membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam.
Dari sisi siswa, Muhammad Raskha Aqila, siswa kelas XI D, menilai fitur interaktif pada Ruang Murid dapat membantu memahami pelajaran secara lebih menyeluruh. Ia tertarik dengan permainan edukatif dan materi yang memungkinkan siswa belajar secara aktif.
"Jika ada aplikasi interaktif seperti ini, itu akan lebih baik. Aplikasi ini lebih interaktif dan memberikan pemahaman holistik, bukan hanya satu jawaban pada satu waktu seperti AI," ujar Raskha.
Hal senada disampaikan Eunike Serafina Orlin, siswi kelas XI yang akrab disapa Unik. Dalam kegiatan tersebut, ia mencoba mempelajari materi serta mengerjakan latihan soal Ekonomi dan Geografi melalui Ruang Murid.
Menurut Unik, materi bergambar dan latihan interaktif membuat proses belajar lebih menarik. Ia berencana memanfaatkan Rumah Pendidikan untuk mempersiapkan ujian akhir sekaligus mempelajari mata pelajaran di luar jurusannya, termasuk Fisika.
Kegiatan Sapa Sekolah 2026 menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi pendidikan perlu disertai sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa. Guru membutuhkan materi praktis untuk mendukung persiapan mengajar, sedangkan siswa memerlukan media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mudah dipahami.
Melalui program ini, Kemendikdasmen mendorong agar Rumah Pendidikan tidak hanya dikenal oleh warga sekolah, tetapi juga digunakan secara berkelanjutan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Dengan dukungan teknologi dan sumber belajar yang berkualitas, digitalisasi pendidikan diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, menyenangkan, dan bermakna bagi guru maupun siswa. (R)
beritaTerkait
komentar