Tebo (buseronline.com) - Siswa SNT 16 Tebo, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, mendapatkan pengalaman belajar berbeda dalam memahami risiko kebakaran.
Dilansir dari laman Kemendikdasmen, tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, siswa diajak mengamati lingkungan, berdiskusi, memetakan wilayah, serta menentukan rute evakuasi yang cepat dan aman.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penerapan pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika (STEAM). Melalui pendekatan ini, siswa didorong menghubungkan materi pelajaran dengan berbagai persoalan nyata yang ada di lingkungan sekitar.
Salah seorang siswa kelas 10 SNT 16 Tebo, Regiana Putri, mengaku pembelajaran tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan karena siswa dapat belajar melalui diskusi kelompok dan praktik secara langsung.
"Ini sangat menyenangkan karena kami tidak terbatas hanya pada materi di kelas. Seperti kemarin, kami belajar tentang evakuasi kebakaran. Kami dapat menilai dan mempertimbangkan rute evakuasi tercepat dan teraman karena kami mendiskusikannya bersama dan mencobanya secara langsung," ujar Regiana.
Menurut Regiana, pembelajaran dengan praktik langsung membuat siswa lebih mudah memahami hubungan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.
"Kita dapat memahaminya dengan lebih baik, menerapkannya langsung pada kehidupan dan kebiasaan kita, dan hal itu berdampak nyata pada pengetahuan dan pemikiran siswa kita," katanya.
Guru SNT 16 Tebo Vitri Yanti menjelaskan pembelajaran untuk siswa kelas 10 diawali dengan diskusi mengenai persoalan kebakaran yang terjadi di lingkungan sekitar. Salah satu peristiwa yang menjadi bahan pembelajaran adalah kebakaran di SMPN 2 Sungai Penuh.
Dari pembahasan tersebut, siswa kemudian diarahkan untuk merancang sistem evakuasi kebakaran. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, mulai dari mengidentifikasi penyebab kebakaran, mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika kebakaran terjadi, hingga menentukan cara penanganannya.
"Minggu pertama pembelajaran dimulai dengan mengidentifikasi masalah-masalah terkini di lingkungan sekitar. Kemudian, siswa mengidentifikasi mengapa kebakaran terjadi, apa penyebabnya, apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran, dan bagaimana cara menanganinya," jelas Vitri.
Memasuki minggu kedua, siswa melakukan pengamatan lingkungan menggunakan citra satelit atau penginderaan jauh. Kegiatan ini membantu siswa memahami kondisi wilayah sekaligus menjadi dasar untuk menentukan kemungkinan rute evakuasi.
Vitri menilai kegiatan tersebut membuat siswa semakin mengenal lingkungan sekitar. Mereka juga mendapatkan pengalaman dalam memetakan lokasi yang sebelumnya belum diketahui.
"Anak-anak menjadi lebih sadar akan lingkungan sekitar mereka dan dapat mempelajari apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran. Selain itu, mereka juga belajar cara memetakan lokasi yang sebelumnya tidak dikenal," ujarnya.
Pembelajaran
STEAM di SNT 16 Tebo juga dilaksanakan melalui kolaborasi antarguru dan lintas mata pelajaran. Pada jenjang SMP, pembelajaran melibatkan Pendidikan Pancasila, Matematika, dan Bahasa Indonesia.
Sementara pada jenjang SMA, pembelajaran mengintegrasikan Pendidikan Pancasila, Geografi, Matematika, dan Fisika.
"Pembelajaran STEM lebih menarik karena materinya kaya akan kolaborasi antar beberapa guru dan topik yang saling terkait," kata Vitri.
Kepala Sekolah SNT 16 Tebo, Memolo, mengatakan penerapan
STEAM merupakan bagian dari upaya sekolah menjalankan kurikulum terpadu. Sekolah juga ingin melihat efektivitas pendekatan tersebut terhadap kualitas pembelajaran di kelas.
"Kami menerapkan kurikulum terpadu, jadi kami ingin melihat efektivitas dan dampaknya di kelas. Selain itu, sekolah-sekolah berharap adanya peningkatan kualitas pembelajaran, karena ini adalah sesuatu yang baru," ujar Memolo.
Melalui pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga belajar mengamati lingkungan, bekerja sama, memecahkan masalah, serta menerapkan pengetahuan untuk menghadapi situasi nyata.
Memolo mengatakan penerapan pembelajaran STEAM akan berlangsung selama tiga minggu. Setelah itu, sekolah akan melakukan evaluasi dan memberikan umpan balik sebagai bahan perbaikan untuk pelaksanaan berikutnya.
"Rencananya sekolah akan menerapkannya selama tiga minggu, kemudian mengevaluasinya dan memberikan umpan balik. Selanjutnya, praktik ini akan dilakukan lagi pada kesempatan berikutnya," pungkasnya. (R)
beritaTerkait
komentar