Senin, 21 September 2026

PISA 2025: 80 Persen Murid Indonesia Punya Rasa Ingin Tahu Tinggi

Senin, 21 September 2026 11:50 WIB
PISA 2025: 80 Persen Murid Indonesia Punya Rasa Ingin Tahu Tinggi
Foto bersama di Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang digelar Pusat Asesmen Pendidikan, BKPDM, Kemendikdasmen RI, di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mengungkapkan potensi positif dalam diri murid Indonesia.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, sebanyak 80 persen murid Indonesia menyatakan memiliki rasa ingin tahu terhadap banyak hal, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mencapai 73 persen.

Temuan tersebut disampaikan dalam Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang digelar Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, di Jakarta, pada 15 September 2026.

Kepala BKPDM Toni Toharudin mengatakan, hasil PISA 2025 perlu dilihat bukan hanya sebagai laporan capaian pendidikan, tetapi juga sebagai dasar untuk memperbaiki dan mempercepat peningkatan mutu pendidikan Indonesia.

"Pada tahun 2025, perlu kita tempatkan bukan sekadar sebagai laporan capaian, melainkan sebagai dasar untuk memperbaiki dan juga mempercepat peningkatan mutu pendidikan kita," ujar Toni.

Ia menyebut kenaikan kemampuan membaca dan sains patut diapresiasi. Namun, penurunan pada kemampuan matematika menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan pembelajaran yang tepat.

Salah satu fokus yang perlu diperkuat adalah kemampuan bernalar, memecahkan masalah, serta menerapkan pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengatakan, tingginya rasa ingin tahu menjadi salah satu temuan positif dari PISA 2025 di Indonesia.

Indonesia juga menunjukkan kemampuan self-directed learning yang relatif baik, yaitu kemampuan murid merencanakan dan mengelola pembelajaran secara mandiri.

Selain itu, 74 persen murid Indonesia mengaku berupaya lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD sebesar 60 persen.

Dibandingkan PISA 2022, jumlah murid Indonesia yang menyatakan ingin tahu tentang banyak hal meningkat 7,3 poin persentase. Sementara murid yang mengaku berupaya lebih keras menghadapi tantangan meningkat 7,2 poin persentase.

Perwakilan Dewan Pendidikan Nasional Ali Saukah menilai rasa ingin tahu tersebut merupakan modal penting yang perlu dikembangkan melalui pembelajaran. "Itu (rasa ingin tahu) modal sosial yang menurut saya sangat bagus membuat kita optimis," kata Ali.

Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung Edy Tri Baskoro, rasa ingin tahu perlu diarahkan menjadi kemampuan berpikir dan bernalar. Ia mendorong pembelajaran matematika yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mencoba berbagai cara penyelesaian, menjelaskan alasan, serta melakukan refleksi.

Edy juga mengusulkan penerapan konsep one reasoning problem every day, yakni satu soal bernalar setiap hari. Jika diterapkan selama sekitar 200 hari belajar dalam setahun selama sembilan tahun, murid berpotensi mendapatkan sekitar 1.800 pengalaman bernalar.

Penguatan kemampuan berpikir juga membutuhkan peran guru. Diana Rochintaniawati dari Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan, guru dapat mengembangkan pembelajaran berbasis inquiry atau penyelidikan agar murid terbiasa menemukan, menguji, merefleksikan, dan menyampaikan argumentasi berdasarkan bukti.

Data PISA 2025 menunjukkan 82 persen murid Indonesia menilai guru memberikan perhatian terhadap pembelajaran mereka dalam sebagian besar pelajaran sains. Sebanyak 85 persen juga mengatakan guru terus mengajar sampai mereka memahami materi. "Jadi ajaklah siswa itu dari inquiry," ujar Diana.

Sementara itu, Sri Rezki Widuri dari INOVASI menyebut pendekatan Pembelajaran Mendalam dapat mendorong murid tidak berhenti pada tahap memahami. Murid diarahkan untuk menerapkan, mengevaluasi, merefleksikan, dan mentransfer pengetahuan ke dalam situasi baru.

Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting. Survei Tanoto Foundation dan J-PAL pada 2025 terhadap 8.060 orang tua di 17 kabupaten/kota pada lima provinsi menunjukkan 92 persen orang tua menganggap keterlibatan dalam pendidikan anak penting. Sebanyak 68 persen orang tua juga membantu anak mengerjakan tugas.

Rata-rata orang tua menghabiskan 104 menit setiap hari untuk mendampingi pendidikan anak. "Jadi, sebenarnya peluang kita adalah bagaimana kita memanfaatkan 104 menit itu menjadi lebih baik," kata Murni Leo dari Tanoto Foundation.

Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa tingginya rasa ingin tahu murid Indonesia dapat menjadi modal untuk memperkuat kemampuan berpikir, bernalar, dan memecahkan masalah.

Melalui Pembelajaran Mendalam, potensi tersebut diharapkan berkembang menjadi kebiasaan bertanya, mengeksplorasi, merefleksikan pengalaman, dan menerapkan pengetahuan dalam berbagai situasi. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Luncurkan Playbook Respons Cepat Tangani Hoaks Kesehatan
Polri Kembali Raih Opini WTP BPK, Jadi yang ke-13 Kali
Hasil PISA 2025, Skor Sains dan Membaca Indonesia Naik
Kemendikdasmen Fasilitasi 32.828 Guru Lanjut S1/D4 pada 2026
Aksi Pencegahan Korupsi 2025–2026 Capai 67,49 Persen
Pemerintah Dorong Investasi Berkualitas untuk Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi
komentar
beritaTerbaru