Sabtu, 19 September 2026

Siswa SMP Negeri 1 Medan Raih Medali Emas di MTE 2026 Lewat Batu Bata Kulit Durian

Sabtu, 19 September 2026 18:40 WIB
Siswa SMP Negeri 1 Medan Raih Medali Emas di MTE 2026 Lewat Batu Bata Kulit Durian
Siswa UPT SMP Negeri 1 Medan berhasil meraih Medali Emas pada MTE 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.

Medan (buseronline.com) - Kreativitas siswa UPT SMP Negeri 1 Medan dalam memanfaatkan persoalan lingkungan menjadi karya inovatif membuahkan prestasi di tingkat internasional.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, melalui proyek Durabata, siswa UPT SMP Negeri 1 Medan berhasil meraih Medali Emas pada Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.

Durabata merupakan inovasi batu bata ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah kulit durian dan abu sekam padi.

Selain meraih medali emas di MTE 2026, siswa sekolah tersebut juga memperoleh sertifikat penghargaan dalam World Young Inventors Exhibition (WYIE) ke-10 tahun 2026 melalui inovasi yang memanfaatkan potensi buah pedada dari kawasan hutan bakau.

Anggota tim proyek ilmiah UPT SMP Negeri 1 Medan, Aira Haryono mengatakan ide Durabata muncul dari keprihatinan terhadap banyaknya limbah kulit durian yang belum dimanfaatkan secara optimal.

"Tujuan kami dalam menciptakan produk ini adalah untuk mengurangi sampah kulit durian yang berserakan, terutama di Indonesia," kata Aira saat ditemui di sekolahnya, pada 14 September 2026.

Menurut Aira, kulit durian yang selama ini umumnya dibuang diolah menjadi material yang dapat digunakan sebagai blok beton. Proses tersebut sekaligus menjadi sarana bagi siswa untuk menerapkan pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).

Dalam mengembangkan Durabata, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengidentifikasi persoalan di lingkungan, mencari solusi, melakukan eksperimen, hingga menghasilkan sebuah produk.

"STEM diperlukan karena kita perlu terus berinovasi untuk memecahkan masalah yang ada di sekitar kita setiap hari," ujarnya.

Inovasi lain dikembangkan Tim Milea dengan memanfaatkan buah pedada yang berasal dari pohon bakau. Ide tersebut muncul setelah siswa melihat potensi buah pedada yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

Anggota Tim Milea, Raisya Aurellia, mengatakan inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap potensi sumber daya di kawasan pesisir.

"Buah pedada yang dihasilkan oleh pohon bakau belum dimanfaatkan secara optimal. Jadi kami menciptakan inovasi ini untuk membuatnya lebih bermanfaat dan mudah dipasarkan," kata Raisya.

Untuk membuat produk tersebut, buah pedada dikupas, dicuci, dipotong, kemudian direbus. Setelah itu, buah disaring untuk mendapatkan ekstraknya.

Ekstrak buah pedada kemudian dicampur dengan susu kedelai sebagai sumber lemak, daun pandan sebagai pewarna alami, serta stevia sebagai pemanis. Hasilnya berupa minuman dengan cita rasa menyerupai teh susu.

Raisya melihat inovasi tersebut masih dapat dikembangkan agar memiliki nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat pesisir.

"Mungkin kita bisa membuatnya dalam bentuk bubuk agar lebih praktis, dan kemudian bisa juga digunakan sebagai produk untuk UMKM pesisir," ujarnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengapresiasi kreativitas siswa UPT SMP Negeri 1 Medan yang mampu mengembangkan karya berbasis STEM dari persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Menurut Abdul Mu'ti, pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dapat mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan inovasi.

"Prestasi siswa di UPT SMP Negeri 1 Medan menunjukkan bahwa pembelajaran yang menyerupai kehidupan nyata dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi," kata Abdul Mu'ti.

Ia mengatakan, melalui STEM, siswa belajar melihat masalah di sekitarnya, melakukan penelitian, mencoba berbagai solusi, hingga menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Keberhasilan siswa tersebut tidak terlepas dari dukungan pihak sekolah. Guru IPS sekaligus asisten peneliti siswa UPT SMP Negeri 1 Medan, Malahayati, mengatakan sekolah memberikan waktu dan ruang bagi siswa untuk melakukan kegiatan penelitian.

"Sekolah mendukung karya ilmiah ini dengan menyediakan waktu bagi anak-anak untuk melakukan kegiatan di sekolah dengan menyediakan ruang. Selain itu, sekolah juga berkolaborasi dengan orang tua," kata Malahayati.

Ia berharap pembelajaran STEM dapat semakin berkembang dan menjadi bagian yang lebih kuat dalam proses pembelajaran di sekolah.

Menurutnya, STEM tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga mendorong siswa berpikir kritis dan mampu menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. "Kami berharap STEM dapat dikembangkan secara lebih optimal di sekolah," ujarnya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Rico Waas Ajak Mahasiswa Politeknik Ciptakan Solusi untuk Persoalan Masyarakat
Wali Kota Medan Dorong Guru Jadi Teladan di Ruang Digital
DKP Sumut Perkuat Ekonomi Biru melalui Kawasan Perikanan Unggulan
Mendikdasmen dan Rico Waas Ajak Siswa SMPN 1 Medan Jadi Generasi Hebat
APBD Medan 2027 Diproyeksikan Rp7,16 Triliun, Fokus pada 17 Program Prioritas
Rico Waas: Suami Punya Peran Penting Dukung Ibu Berikan ASI Eksklusif
komentar
beritaTerbaru