Jumat, 14 Agustus 2026

Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi SLB, Wujudkan Pendidikan Inklusif di Yogyakarta

Jumat, 14 Agustus 2026 18:35 WIB
Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi SLB, Wujudkan Pendidikan Inklusif di Yogyakarta
Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti memberikan kata sambutan peresmian sekolah hasil revitalisasi tahun 2025 yang dipusatkan di SLB Tunas Bhakti, Kabupaten Bantul, DIY, Rabu (12/8/2026).

Yogyakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mempercepat pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan khusus melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Revitalisasi Satuan Pendidikan.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, program ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam memperkuat pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia.

Program tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) revitalisasi Sekolah Luar Biasa (SLB) tahun 2026 sekaligus peresmian sekolah hasil revitalisasi tahun 2025. Kegiatan dipusatkan di SLB Tunas Bhakti, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu.

Revitalisasi dilakukan untuk mengatasi berbagai persoalan fasilitas pendidikan khusus, terutama sekolah yang mengalami kerusakan fisik dan keterbatasan sarana penunjang pembelajaran. Salah satu sekolah yang mendapatkan manfaat program tersebut adalah SLB Tunas Bhakti.

Sebelum direvitalisasi, sekolah yang memiliki 83 murid dari empat kecamatan dengan dukungan 14 guru dan satu kepala sekolah tersebut menghadapi berbagai kendala. Atap ruang kelas mengalami kebocoran ketika hujan, dinding bangunan tampak kusam dan kotor, sementara fasilitas ruang keterampilan masih terbatas.

Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu kenyamanan, konsentrasi, hingga keselamatan peserta didik berkebutuhan khusus selama mengikuti pembelajaran.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti mengatakan, pada 2026 pemerintah menargetkan revitalisasi terhadap 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Sebanyak 114 SLB yang membina 164.294 murid difabel menjadi bagian dari skema prioritas tersebut.

Selain memperbaiki bangunan, pemerintah juga melengkapi sekolah dengan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID). Kemendikdasmen juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada lebih dari 1.500 guru pendidikan inklusif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

"Layanan pendidikan untuk SLB dan sekolah inklusi adalah komitmen kami dalam menjalankan amanah Pasal 5 Ayat (2) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Setiap warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, maupun intelektual berhak mendapatkan pendidikan khusus," ujar Abdul Mu'ti.

Ia menegaskan bahwa anak-anak difabel memiliki potensi yang luar biasa sehingga harus mendapatkan fasilitas pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengapresiasi langkah Kemendikdasmen yang menerjemahkan komitmen pemerintah menjadi aksi nyata di lapangan. Ia juga berharap alokasi revitalisasi untuk wilayah DIY dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

"Perbaikan fasilitas SLB bukan sekadar perbaikan bangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang mandiri dan berdaya saing," kata Siti.

Pemerintah Daerah DIY turut memberikan dukungan terhadap program tersebut. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Raden Suci Rohmadi mengatakan revitalisasi merupakan bentuk komitmen bersama untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan berkualitas.

Di SLB Tunas Bhakti, revitalisasi mencakup rehabilitasi total enam ruang kelas, pembangunan ruang keterampilan tata boga beserta fasilitas pendukung, pembenahan area aktivitas luar ruang agar lebih aman bagi murid berkebutuhan khusus, serta pengecatan ulang seluruh gedung sekolah.

Menurut Raden, berbagai pembenahan tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah disabilitas, higienis, aman, dan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang peserta didik.

Kepala SLB Tunas Bhakti Amrih Handayani menyampaikan rasa syukur atas bantuan pemerintah. Menurutnya, revitalisasi menjadi titik balik bagi sekolah dan memberikan semangat baru kepada guru maupun murid.

Dengan fasilitas yang lebih baik, para murid kini dapat belajar dan mengembangkan bakat mereka dalam lingkungan yang lebih aman, nyaman, kondusif, dan menyenangkan.

Pada 2025, Kemendikdasmen telah merevitalisasi empat SLB di DIY, yakni SLBN 2 Bantul, SLB Islam Qotrunnada, SLB Ma'arif, dan SLB PGRI Trimulyo. Sementara pada 2026, revitalisasi menjangkau SLB Tunas Bhakti, SLB Pamardi Putra, dan SLB Bina Anggita.

Secara keseluruhan, pada 2025 program revitalisasi di DIY menjangkau 46 satuan pendidikan dengan total bantuan Rp71,3 miliar. Program tersebut mencakup PKBM, SLB, dan SMK yang tersebar di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta.

Hingga Juli 2026, program revitalisasi secara nasional telah menjangkau 1.609 satuan pendidikan dengan total bantuan mencapai Rp2,02 triliun. Bantuan tersebut mencakup 48 PKBM senilai Rp28,28 miliar, 44 SKB senilai Rp29,92 miliar, 264 SLB senilai Rp287,40 miliar, dan 1.253 SMK senilai Rp1.678,83 miliar.

Melalui program tersebut, pemerintah berharap revitalisasi tidak hanya memperbaiki kondisi fisik sekolah, tetapi juga memperkuat kualitas pendidikan sehingga anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, berkembang, mandiri, dan meraih masa depan yang lebih baik. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemendikdasmen Dorong Guru Vokasi Kuasai AI untuk Hadapi Perkembangan Teknologi
Kemendikdasmen Dorong Peningkatan Mutu Pendidikan di Kabupaten Bungo
Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Digital Guru melalui Program KLIC 2026
Kemendikdasmen Resmikan Ruang Kelas Darurat dan Revitalisasi SMP Insani Sorkam Pascabanjir
Kemendikdasmen Revitalisasi SLBN Purwosari dan Salurkan Buku Bacaan Bermutu di Kudus
Kemendikdasmen Perkuat Tracer Study SMK 2026 untuk Tingkatkan Kualitas Lulusan Vokasi
komentar
beritaTerbaru