Kamis, 11 Juni 2026

Wamendikdasmen: Sekolah Harus Menjadi Ruang Tumbuhnya Inovasi dan Kemandirian Siswa

Kamis, 11 Juni 2026 10:10 WIB
Wamendikdasmen: Sekolah Harus Menjadi Ruang Tumbuhnya Inovasi dan Kemandirian Siswa
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat berkunjung ke SMA/Pondok Pesantren Welas Asih di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026).

Garut (buseronline.com) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang mendorong peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di sekitarnya.

Dilansir dari laman Jabarprov, pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungannya ke SMA/Pondok Pesantren Welas Asih di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Sabtu.

Dalam kunjungan tersebut, Fajar meninjau berbagai praktik pembelajaran yang dikembangkan sekolah, mulai dari penerapan Disiplin Positif, pengembangan portofolio siswa, budaya literasi, hingga unit bisnis yang dikelola peserta didik.

Menurutnya, berbagai program tersebut menunjukkan bagaimana pendidikan dapat berlangsung secara bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata.

Salah satu program yang mendapat perhatian adalah penerapan Disiplin Positif yang melibatkan siswa dalam penyusunan kesepakatan bersama terkait perilaku dan tanggung jawab selama menjalani pendidikan di lingkungan sekolah dan pesantren.

"Jadi disiplinnya berdasarkan kesadaran, bukan paksaan," ujar Fajar saat berdialog dengan para siswa mengenai konsep social contract yang diterapkan di sekolah tersebut.

Selain itu, Wamendikdasmen juga berdialog dengan siswa terkait proyek pembelajaran yang dijalankan melalui metode portofolio FVDS (Feel, Imagine, Do, Share).

Metode tersebut mendorong siswa mengidentifikasi masalah di lingkungan sekitar, merancang solusi, melaksanakan proyek, dan membagikan hasil pembelajaran kepada masyarakat.

Menurut Fajar, pendekatan tersebut mencerminkan praktik Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar.

Melalui pengalaman langsung, siswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga belajar mengamati, menganalisis, menulis gagasan, dan mempresentasikan hasilnya. Dalam kesempatan itu, salah seorang siswa memaparkan proyek podcast literasi sains yang dikembangkan melalui metode FVDS.

Proyek tersebut lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya literasi sains dan diwujudkan melalui produksi konten edukatif yang dipublikasikan secara digital serta dipresentasikan dalam kegiatan Share Day. Tak hanya pembelajaran akademik, Fajar juga meninjau berbagai karya dan inisiatif kewirausahaan siswa.

Salah satunya adalah Nataji Farm, proyek peternakan ayam organik yang mengintegrasikan ketahanan pangan, pengelolaan limbah, dan edukasi masyarakat. Proyek tersebut diketahui telah lolos tahap awal Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI).

Fajar mengapresiasi kemampuan siswa dalam menyusun perencanaan bisnis secara sistematis, mulai dari identifikasi masalah, perumusan solusi, strategi pengembangan usaha, hingga perhitungan kebutuhan operasional.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke studio digital Watex Impact Solution yang dikelola siswa. Unit tersebut bergerak di bidang multimedia, dokumentasi digital, pemasaran digital, dan produksi konten kreatif.

Melalui kegiatan tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola proyek dan berinteraksi dengan mitra profesional.

Menurut Fajar, pengalaman belajar yang terhubung dengan dunia nyata merupakan bagian penting dari Pembelajaran Mendalam.

Siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mengalami langsung proses kerja, kolaborasi, dan penyelesaian masalah.

Wamendikdasmen juga mengapresiasi budaya literasi yang dikembangkan sekolah, termasuk program penulisan biografi atau catatan perjalanan selama menempuh pendidikan sebagai sarana refleksi dan dokumentasi proses belajar.

Selain aspek akademik, ia menilai pendekatan pendidikan yang diterapkan SMA/Pondok Pesantren Welas Asih turut memperkuat karakter, kecerdasan sosial, dan kearifan lokal.

Hal tersebut terlihat dari berbagai program pembentukan kebiasaan positif serta pelatihan bahasa dan budaya Sunda sebagai bagian dari pembinaan karakter siswa.

Di akhir kunjungannya, Fajar menyampaikan apresiasi atas perkembangan sekolah yang dinilainya mengalami kemajuan signifikan dibandingkan kunjungan sebelumnya. Ia berharap berbagai praktik baik yang dikembangkan dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain di Indonesia.

"Yang paling penting adalah prosesnya. Ketika anak-anak terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah, berinovasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat, di situlah pendidikan menemukan maknanya. Sekolah harus menjadi ruang yang menumbuhkan inovasi dan kemandirian," pungkasnya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Wamendikdasmen Dorong Guru Menjadi Arsitek Pembelajaran Melalui Pendekatan Deep Learning
Kemendikdasmen Percepat Reformasi Guru, TPG Naik Rp2 Juta dan 230 Ribu Guru Ikuti PPG pada 2026
Wamendikdasmen Resmikan Revitalisasi Sekolah di Tabanan, Pemerintah Targetkan Tak Ada Sekolah Rusak Berat pada 2028
Wamendikdasmen Dorong Penguatan Trigatra Bangun Bahasa dan Transformasi Digital Pendidikan di Dumai
Wamendikdasmen Dorong Penguatan Sekolah Rakyat dan Jamin Akses Kuliah bagi Siswa
Guru Jadi Kunci Transformasi Pendidikan, Wamendikdasmen Tekankan Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan
komentar
beritaTerbaru