Virus ini memiliki dua manifestasi klinis utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.
Hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik untuk
Hantavirus sehingga penanganan dilakukan berdasarkan gejala yang muncul.
Menkes Budi menyebut varian Hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan varian Asia dengan tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen, lebih rendah dibanding varian Andes di Amerika Selatan yang memiliki risiko kematian hingga 60 persen. "99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia," tegasnya.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah perkembangbiakan tikus di rumah maupun tempat kerja guna meminimalkan risiko penularan. (R)
beritaTerkait
komentar