Senin, 06 April 2026

Strategi Kedokteran Presisi untuk Kurangi Beban Biaya Kesehatan

EM Bukit MKes - Minggu, 15 Februari 2026 11:12 WIB
Strategi Kedokteran Presisi untuk Kurangi Beban Biaya Kesehatan
Menteri Kesehatan Budi G Sadikin berfoto bersama sejumlah pejabat usai Forum Komunikasi Strategis Nasional “BGSI Ecosystem Roadshow” di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2/2026). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan RI mempercepat implementasi kedokteran presisi sebagai strategi menekan lonjakan pembiayaan kesehatan akibat meningkatnya kasus penyakit kronis di Indonesia.

Melalui program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), pendekatan pengobatan kini diarahkan berbasis profil genetik individu agar lebih akurat, efektif, dan efisien.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, teknologi genomik yang dikelola Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) menjadi tonggak perubahan dari paradigma lama “satu obat untuk semua” menuju terapi yang disesuaikan dengan karakter genetik masing-masing individu.

“Pemeriksaan kesehatan kita akan menjadi jauh lebih akurat, lebih presisi, dan lebih personal. Otomatis, pengobatannya juga bisa lebih tepat sasaran dan efektif dalam menyembuhkan,” ujar Budi dalam Forum Komunikasi Strategis Nasional bertajuk “BGSI Ecosystem Roadshow” di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis.

Hingga awal 2026, dilansir dari laman Kemenkes, program BGSI telah merekrut lebih dari 20.000 partisipan dan menghasilkan 16.000 whole genome sequence manusia.

Capaian tersebut dinilai bukan sekadar keberhasilan riset, melainkan fondasi basis data genomik nasional yang berpotensi menekan pemborosan anggaran kesehatan akibat terapi yang kurang tepat.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyoroti keterkaitan erat antara pengembangan genomik dan ketahanan fiskal negara.

Menurutnya, diagnosis yang lebih presisi akan memangkas biaya pengobatan jangka panjang yang timbul akibat terapi berulang atau tidak efektif.

“Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif,” kata Febrian.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan ekosistem genomik nasional merupakan proyek jangka panjang yang membutuhkan konsistensi lintas pemerintahan dan dukungan berkelanjutan.

Dukungan juga disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong agar inisiatif genomik tidak berhenti pada sektor medis semata, tetapi juga diperluas untuk mengelola dan mengoptimalkan keanekaragaman hayati Indonesia.

Menurut Luhut, pengelolaan sumber daya genetik nasional secara optimal tidak hanya memperkuat ketahanan kesehatan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan serta pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Saat ini, implementasi BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai hubs atau pusat jejaring. Ke depan, integrasi data genomik diharapkan menjadi pilar utama sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh, mandiri, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan penyakit kronis. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
Tags
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar