Senin, 06 April 2026

Pendekatan Terintegrasi Lingkungan, Vektor, dan Manusia Jadi Kunci Tangkal Dengue

EM Bukit MKes - Rabu, 11 Februari 2026 11:18 WIB
Pendekatan Terintegrasi Lingkungan, Vektor, dan Manusia Jadi Kunci Tangkal Dengue
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI dr Murti Utami menyampaikan sambutan pada Forum Regional Dengue di Hotel JW Marriott Jakarta, Senin (9/2/2026). (Dok/Kemenkes)

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memfinalisasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue periode 2026–2029 sebagai langkah strategis menghadapi tantangan urbanisasi, perubahan iklim, serta tingginya mobilitas penduduk yang memicu peningkatan risiko penyebaran demam berdarah dengue (DBD).


Kebijakan ini juga menjadi bagian dari upaya mencapai target global “Nol Kematian akibat Dengue pada 2030”.


Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes RI, dr Murti Utami, menegaskan bahwa pendekatan konvensional tidak lagi memadai untuk menekan penyebaran dengue.


Menurutnya, intervensi tunggal harus digantikan dengan strategi terpadu yang mencakup pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan klinis.


“Urbanisasi yang tinggi, perubahan iklim, dan peningkatan mobilitas masyarakat menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan preventif. Kita harus memadukan surveilans yang kuat, pelibatan masyarakat, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi berkelanjutan agar selangkah lebih maju dari penyakit ini,” ujar Murti saat membuka Forum Regional Dengue di Hotel JW Marriott Jakarta, Senin.


Forum tersebut dihadiri pejabat tinggi kementerian kesehatan negara-negara ASEAN, Sekretariat ASEAN, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah daerah, sektor swasta, serta para pakar kesehatan. Pertemuan ini bertujuan menyusun rekomendasi kebijakan terintegrasi untuk melindungi sekitar 670 juta penduduk ASEAN dari ancaman dengue.


Dalam RAN 2026–2029, Kemenkes menetapkan empat pilar utama pengendalian dengue. Pertama, meningkatkan deteksi dini dan diagnosis kasus agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Kedua, memperkuat tata laksana klinis serta sistem rujukan untuk menekan angka kematian.


Ketiga, mendorong pencegahan terintegrasi melalui pengendalian vektor, inovasi teknologi seperti Wolbachia, vaksinasi, dan komunikasi risiko kepada masyarakat. Keempat, memperkuat sistem surveilans terpadu dan peringatan dini (early warning system) untuk respons cepat saat terjadi wabah.


“Seluruh upaya ini akan ditopang tata kelola yang kuat, pembiayaan berkelanjutan, kemitraan strategis, serta riset dan inovasi yang terus-menerus,” tambah Murti.


Dilansir dari laman Kemenkes, Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menekankan bahwa pendekatan komprehensif menjadi kunci keberhasilan di lapangan. Menurutnya, pengendalian dengue harus menyasar lingkungan, nyamuk penular, dan manusia secara bersamaan.


“Kita harus mengontrol lingkungannya, vektor nyamuknya, dan manusianya melalui vaksin. Ketiganya harus berjalan bersamaan. Jangan sampai kita bicara vaksin, tapi lingkungannya dibiarkan kumuh,” tegas Prima.


Terkait inovasi, pemerintah berkomitmen melanjutkan program nyamuk ber-Wolbachia yang saat ini telah diterapkan di lima kota. Evaluasi program tersebut akan menjadi dasar perluasan ke 20 hingga 100 kota secara bertahap. Selain itu, Kemenkes juga mendorong pemerintah daerah mengadopsi vaksin dengue secara mandiri sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.


Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Asnawi Abdullah, menilai kolaborasi antarnegara di kawasan ASEAN sangat penting karena dengue merupakan masalah lintas batas.


Namun, tantangan terbesar dinilai tetap berada pada sinergi di tingkat nasional. Ketua Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, dr Suir Syam, menegaskan peran pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian penyakit ini.


“Mengingat angka kesakitan di Indonesia masih tinggi, tidak mungkin pemerintah pusat bekerja sendiri. Masyarakat dan pemerintah daerah harus bergerak bersama untuk mencegah dengue sejak dari sumbernya,” ujarnya.


Melalui pendekatan terintegrasi tersebut, pemerintah optimistis pengendalian dengue dapat dilakukan lebih efektif, sekaligus mempercepat terwujudnya target nol kematian akibat dengue pada 2030. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar