Senin, 06 April 2026

Pasca El Nino, Kematian DBD di Indonesia Mencapai Rekor Terendah

EM Bukit MKes - Rabu, 11 Februari 2026 11:12 WIB
Pasca El Nino, Kematian DBD di Indonesia Mencapai Rekor Terendah
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Asnawi Abdullah menyampaikan paparan saat membuka Forum Regional Dengue di Hotel JW Marriott Jakarta, Senin (9/2/2026). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Indonesia mencatatkan capaian positif dalam pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan membukukan angka kematian terendah sepanjang beberapa tahun terakhir.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang memicu lonjakan kasus dengue di berbagai negara, tingkat fatalitas pasien di Tanah Air justru menurun signifikan.

Capaian tersebut disampaikan Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, saat membuka Forum Regional Dengue yang digelar Kementerian Kesehatan bersama Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue di Hotel JW Marriott Jakarta, Senin.

Dalam paparannya, dilansir dari laman Kemenkes, Asnawi menegaskan bahwa Indonesia menunjukkan ketangguhan dalam manajemen klinis penyakit dengue. Meski penyebaran kasus masih terjadi di berbagai daerah, kualitas layanan medis serta keterlibatan aktif masyarakat mampu menekan risiko kematian pasien.

Data menunjukkan Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian akibat DBD terus menurun secara konsisten. Pada 2021, CFR tercatat 0,9 persen, kemudian turun hingga mencapai rekor terendah 0,4 persen pada 2025.

“Tren ini menunjukkan bahwa meskipun dengue masih menyebar di komunitas kita, semakin sedikit orang yang meninggal karenanya,” ujar Asnawi.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penguatan sistem kesehatan, adopsi teknologi medis terbaru, serta intervensi berbasis komunitas. Indonesia sempat menghadapi lonjakan kasus cukup tajam pada 2024 akibat dampak fenomena El Nino, namun mampu melakukan pemulihan cepat melalui strategi penanganan yang lebih proaktif dan adaptif.

Asnawi menambahkan, kerja keras tenaga kesehatan dan relawan di lapangan menjadi faktor penting dalam menekan angka fatalitas. Program pemberantasan sarang nyamuk melalui kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) dinilai efektif karena dilakukan langsung dari rumah ke rumah.

“Keberhasilan ini menunjukkan kekuatan layanan kesehatan kita dan dahsyatnya aksi komunitas, terutama melalui program Jumantik yang bekerja dari pintu ke pintu untuk menghentikan dengue langsung dari sumbernya,” jelasnya.

Dengan capaian tersebut, Indonesia kini telah melampaui target nasional angka fatalitas dengue yang ditetapkan di bawah 0,5 persen. Pemerintah pun optimistis dapat mencapai target jangka panjang pengendalian dengue.

“Dengan menjaga tingkat fatalitas tetap jauh di bawah target nasional, Indonesia kini mantap melangkah untuk mencapai tujuan utama kita, yaitu nol kematian dengue pada tahun 2030,” tegas Asnawi.

Forum Regional Dengue yang berlangsung pada 9–10 Februari 2026 ini diikuti berbagai pemangku kepentingan kesehatan dari dalam dan luar negeri. Pemerintah berharap pengalaman Indonesia dalam penguatan manajemen klinis dan kolaborasi komunitas dapat menjadi pembelajaran bersama bagi negara-negara ASEAN dalam menekan dampak penyakit dengue.

Melalui sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Indonesia optimistis pengendalian DBD akan semakin efektif sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan publik secara berkelanjutan. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar