Jakarta (buseronline.com) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama meningkatkan peluang kesembuhan kanker.
Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, kanker bukan lagi vonis menakutkan selama penyakit tersebut ditemukan sejak stadium awal.
Hal itu disampaikan Budi saat membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa. Ia menilai ketakutan masyarakat untuk memeriksakan diri justru menjadi hambatan terbesar dalam penanganan kanker secara optimal.
“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Jika diketahui di stadium satu, kesembuhan sangat mungkin terjadi. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, harapan kesembuhan juga semakin tinggi,” ujar Budi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, keterlambatan diagnosis masih menjadi persoalan utama. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami atau Ami mengungkapkan sekitar 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia terjadi karena pasien datang berobat pada stadium lanjut.
“Terdapat sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang masa depan keluarga yang terdampak. Saat ini, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi beban tertinggi,” jelas Ami.
Ia menambahkan, kanker tergolong penyakit katastropik dengan pembiayaan besar. Negara tercatat mengeluarkan sekitar Rp5,9 T setiap tahun untuk biaya perawatan kanker, belum termasuk dampak ekonomi yang harus ditanggung keluarga pasien.
Untuk menekan angka kematian sekaligus beban pembiayaan, Kementerian Kesehatan meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara. Salah satu langkah strategisnya adalah program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, dengan target skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun.
Namun, partisipasi masyarakat masih rendah. Dari target tersebut, dilansir dari laman Kemenkes, baru sekitar 4 juta orang yang mengikuti pemeriksaan.
“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Budi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi langkah pemerintah yang memperluas akses skrining hingga ke daerah. Sebagai penyintas kanker, ia mengaku deteksi dini menyelamatkan hidupnya.
“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke Puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti akan sehat kembali. Saya adalah buktinya,” kata Linda.
Melalui penguatan deteksi dini dan peningkatan kesadaran masyarakat, pemerintah berharap angka kematian akibat kanker dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien di seluruh Indonesia. (R)
beritaTerkait
komentar