Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memperluas akses layanan kesehatan mata sekaligus memperkuat deteksi dini gangguan penglihatan melalui peluncuran program Launching of Improved Access to Eye Health in Indonesia dan Vision Screening Event, Senin. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah menekan angka gangguan penglihatan yang masih tinggi di Tanah Air.
Program tersebut dinilai mendesak mengingat sekitar 3,6 juta anak Indonesia masih mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi menggunakan kacamata. Kondisi ini berisiko menghambat tumbuh kembang, prestasi belajar, hingga kualitas hidup anak di masa depan.
Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan deteksi dini menjadi kunci utama pencegahan gangguan penglihatan. Karena itu, skrining kesehatan mata akan dilakukan secara masif dan terintegrasi melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Sepanjang 2025, Kemenkes telah melakukan skrining kesehatan mata terhadap sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun. Hasilnya, sekitar 17 persen di antaranya terdeteksi mengalami gangguan penglihatan.
“Pada tahun 2026, melalui Program Cek Kesehatan Gratis, kami menargetkan skrining terhadap sekitar 140 juta masyarakat Indonesia, mulai dari bayi hingga lansia,” ujar Nadia.
Ia menambahkan, perluasan skrining ini diharapkan mampu mempercepat penanganan kasus sejak dini sehingga masyarakat dapat segera memperoleh koreksi atau pengobatan yang tepat.
Upaya penguatan layanan kesehatan mata tersebut juga mendapat dukungan dari World Health Organization (WHO) melalui inisiatif global SPECS 2030. Program ini bertujuan mengeliminasi gangguan penglihatan yang dapat dicegah maupun dikoreksi melalui kolaborasi lintas negara.
Perwakilan WHO Indonesia, Fransiska, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Indonesia yang secara resmi bergabung dalam kerangka SPECS sejak Oktober 2025.
Sejalan dengan inisiatif global itu, dilansir dari laman Kemenkes, OneSight EssilorLuxottica Foundation turut menyatakan kesiapan bermitra dengan Kemenkes dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan mata. Dukungan akan difokuskan pada pelatihan tenaga kesehatan, khususnya perawat, agar mampu melakukan pemeriksaan dasar penglihatan di tingkat layanan kesehatan primer.
Perwakilan OneSight EssilorLuxottica Foundation, Patricia Koh, menegaskan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi faktor penting untuk memastikan layanan kesehatan mata dapat diakses lebih merata, terutama di wilayah dengan keterbatasan dokter spesialis.
Sebagai langkah konkret, program ini juga akan menjangkau daerah terpencil melalui penyediaan patient center di Kepulauan Seribu. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menghadirkan layanan deteksi dini, pemeriksaan, serta edukasi kesehatan mata yang inklusif bagi masyarakat pesisir dan kepulauan.
Melalui kolaborasi pemerintah, organisasi internasional, dan mitra swasta, Kemenkes menargetkan layanan kesehatan mata yang lebih merata sehingga gangguan penglihatan dapat dicegah sejak dini dan kualitas hidup masyarakat Indonesia terus meningkat. (R)
beritaTerkait
komentar