Senin, 06 April 2026

Warga Kuala Cangkoi di Pengungsian Terjaga dari Risiko DBD dan Malaria

EM Bukit MKes - Selasa, 27 Januari 2026 11:30 WIB
Warga Kuala Cangkoi di Pengungsian Terjaga dari Risiko DBD dan Malaria
Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan jentik dan pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air di pos pengungsian Desa Kuala Cangkoi, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (20/1/2026), sebagai upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) dan malaria pascaban

Aceh Utara (buseronline.com) - Upaya pencegahan penyakit pascabanjir terus dilakukan di Kabupaten Aceh Utara. Tim Pengendali Vektor Dinas Kesehatan Provinsi Aceh bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan Kepala Puskesmas Lapang melaksanakan pengendalian vektor nyamuk di sejumlah pos pengungsian Desa Kuala Cangkoi, Selasa.


Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggap darurat bencana banjir sekaligus langkah antisipasi terhadap potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria di lokasi pengungsian.


Pengendalian vektor dilakukan melalui pemeriksaan jentik nyamuk pada tempat-tempat penampungan air di area pengungsian, pemberian bubuk abate, serta edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan sarang nyamuk dengan penerapan 3M Plus.


Kepala Puskesmas Lapang, Mastuti, mengatakan banjir berdampak pada seluruh desa di wilayah kerjanya. Dari total 11 desa, tiga desa mengalami dampak paling parah akibat terjangan banjir.


“Kami memiliki 11 desa dan semuanya terdampak banjir. Tiga desa yang terdampak paling parah adalah Desa Kuala Cangkoi, Matang Baro, dan Kuala Keretou. Bahkan ada rumah warga yang hanyut dibawa air,” ujarnya.


Dalam kegiatan tersebut, dilansir dari laman Kemenkes, tim menyusuri pos-pos pengungsian di wilayah pesisir dan melakukan pemeriksaan langsung terhadap tempat penampungan air yang tidak tertutup, kubangan air di sekitar tenda pengungsian, serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) darurat. Edukasi kepada warga disampaikan menggunakan bahasa daerah agar pesan pencegahan penyakit lebih mudah dipahami dan diterapkan.


Ketua Tim Pengendali Vektor Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Muhammad Jamil, menjelaskan bahwa bubuk abate diberikan pada penampungan air di luar rumah atau penampungan air dalam rumah yang tidak digunakan sebagai air minum.


“Jika ditemukan jentik pada tempat penampungan air minum, air akan dipindahkan terlebih dahulu ke wadah lain. Selanjutnya tempat penampungan disikat dan dibersihkan agar telur nyamuk dapat dihilangkan,” jelas Jamil.


Salah seorang warga pengungsian, Efendi (50), menyambut positif kegiatan pemeriksaan jentik tersebut. Ia mengaku hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus DBD maupun malaria di lingkungan pengungsian Kuala Cangkoi.


Sementara itu, Muhammad Jamil menegaskan bahwa hingga kini belum terjadi peningkatan kasus DBD dan malaria pascabanjir di Kabupaten Aceh Utara. Ia juga mengingatkan bahwa Aceh Utara telah berstatus eliminasi malaria sejak tahun 2020.


Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat melalui 3M Plus, yakni menutup, menguras, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta melakukan langkah tambahan lainnya guna mencegah perkembangbiakan nyamuk di lingkungan sekitar.


“Upaya pencegahan harus terus dilakukan agar masyarakat di pengungsian tetap terlindungi dari risiko penyakit menular, khususnya DBD dan malaria,” pungkasnya. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar