Minggu, 21 Juni 2026

Masyarakat Diminta Tidak Takut, Menkes Dorong Pemeriksaan Gejala Kusta

Senin, 19 Januari 2026 11:08 WIB
Masyarakat Diminta Tidak Takut, Menkes Dorong Pemeriksaan Gejala Kusta
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pemaparan dalam media briefing terkait kondisi dan penanganan kusta di Indonesia yang dihadiri pemangku kepentingan dan perwakilan media di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala kusta.


Ia menegaskan bahwa kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang penyebabnya telah lama diketahui secara ilmiah dan dapat disembuhkan.


“Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu,” ujar Menkes Budi dalam media briefing terkait kondisi kusta di Indonesia, Kamis, di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta.


Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini muncul akibat interaksi beberapa faktor, yakni pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan. Penularan terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita kusta.


Gejala kusta dapat berupa bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, kulit yang tidak berkeringat, rontoknya alis mata, penebalan pada wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki.


Gangguan saraf juga dapat muncul, seperti nyeri pada saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk, kelemahan otot, deformitas tanpa riwayat kecelakaan, serta ulkus yang sulit sembuh.


Dilansir dari laman Kemenkes, Menkes Budi menegaskan bahwa pengobatan kusta telah tersedia dan efektif. Setelah pengobatan dimulai, risiko penularan dapat dihentikan dalam waktu singkat.


“Begitu pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi,” jelasnya.


Meski demikian, stigma dan disinformasi masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kusta. Banyak masyarakat enggan memeriksakan diri sehingga penemuan kasus sering terlambat.


Senada dengan Menkes Budi, peneliti The Habibie Center, Ansori, menilai penanganan kusta tidak hanya masalah medis, tetapi juga sosial. “Banyak orang yang sebenarnya sudah mengetahui dirinya terkena kusta, tetapi memilih menyembunyikannya karena takut terhadap konsekuensi sosial,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa stigma dan diskriminasi membuat penderita enggan berobat, sehingga deteksi dan penyembuhan menjadi tertunda.


Sementara itu, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menekankan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam penanganan kusta secara global.


“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” kata Sasakawa.


Melalui ajakan ini, Menkes Budi kembali menegaskan pentingnya peran masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala kusta, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Kemendikdasmen Tegaskan Kesetaraan Pendidikan bagi Siswa Sekolah Negeri dan Swasta
Kejagung Tahan Tersangka Korupsi Program MBG, Diduga Atur dan Perjualbelikan Titik Dapur SPPG
Maroko Raih Kemenangan Tipis 1-0 atas Skotlandia di Piala Dunia 2026
Luthfi Minta Bank Jateng Perkuat Permodalan UMKM, Dorong Naik Kelas Pelaku Usaha
Brasil Bungkam Haiti 3-0 di Piala Dunia 2026, Matheus Cunha Cetak Brace
Amerika Serikat Tundukkan Australia 2-0, Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
komentar
beritaTerbaru