Selasa, 07 April 2026

Self-Diagnosis Kesehatan Jiwa dengan AI, Dokter Ingatkan Risiko Tinggi bagi Gen Z dan Gen Alpha

Senin, 01 Desember 2025 06:19 WIB
Self-Diagnosis Kesehatan Jiwa dengan AI, Dokter Ingatkan Risiko Tinggi bagi Gen Z dan Gen Alpha
Psikiater FKUI-RSCM, dr Kristiana Siste, menyampaikan pemaparan dalam Dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance di Gedung Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (26/11/2025). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Tren penggunaan kecerdasan artifisial (AI) untuk menilai kondisi kesehatan mental di kalangan anak muda semakin mengkhawatirkan.

Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr Kristiana Siste, memperingatkan bahwa praktik self-diagnosis menggunakan chatbot AI dapat menimbulkan kesalahan persepsi hingga risiko penanganan yang keliru.

Peringatan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance di Gedung Kemenko PMK, Rabu.
Menurutnya, Gen Z dan Gen Alpha adalah kelompok paling rentan karena sangat akrab dengan teknologi digital.

“AI ini seringkali digunakan oleh Gen Z dan Gen Alpha untuk menanyakan, ‘Aku kepribadiannya apa? Introvert atau extrovert? Aku depresi nggak sih?’” ujar dr Siste.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian anak muda bahkan menggunakan chatbot sebagai tempat bercerita ketika merasa kesepian. Minimnya komunikasi dan kedekatan di dalam keluarga membuat mereka lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada AI dibandingkan kepada orang tua atau teman.

dr Siste menjelaskan, meski AI dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining awal, khususnya untuk mendeteksi kecanduan internet, game, atau judi online, teknologi tersebut tidak mampu menilai kondisi psikologis secara akurat. Karena itu, kesimpulan yang diberikan sering kali tidak tepat atau terlalu berlebihan.

Ia menyoroti fenomena baru di media sosial, di mana anak muda memposting hasil “diagnosis” dari AI lalu melakukan self-treatment tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya dan berpotensi memperburuk kesehatan mental mereka.

“AI tidak boleh dijadikan dasar diagnosis. Banyak hasilnya yang keliru dan akhirnya membuat pengguna semakin cemas,” ujarnya.

Selain risiko medis, dr Siste menilai penggunaan AI sebagai tempat bercerita juga dapat memunculkan ketergantungan emosional. Jika berlangsung lama, hal ini bisa membuat anak muda menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa lebih dipahami oleh chatbot dibanding manusia.

“Ini membuat relasi sosial semakin melemah, padahal dukungan sosial adalah faktor penting untuk kesehatan mental,” jelasnya.

Menurut dr Siste, penggunaan AI harus ditempatkan sebagai pendukung, bukan pengganti tenaga kesehatan. Orang tua harus berperan aktif dalam memonitor dan membimbing interaksi anak dengan teknologi.

“AI bagus jika digunakan bersama-sama oleh keluarga. Orang tua harus mengerti dulu, kemudian mengajak anaknya berinteraksi bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesadaran digital dan literasi kesehatan mental perlu diperkuat agar pemanfaatan AI dapat memberi manfaat tanpa mengorbankan kesehatan psikologis generasi muda. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru