Selasa, 07 April 2026

Pusat Inflammatory Bowel Disease Pertama di Indonesia Diresmikan Wamenkes Prof Dante

Rabu, 17 September 2025 07:05 WIB
Pusat Inflammatory Bowel Disease Pertama di Indonesia Diresmikan Wamenkes Prof Dante
Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono bersama jajaran saat meresmikan Inflammatory Bowel Disease (IBD) Center pertama di Indonesia di RS Abdi Waluyo, Jakarta, Jumat (12/9/2025). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof Dante Saksono Harbuwono meresmikan Inflammatory Bowel Disease (IBD) Center pertama di Indonesia yang berlokasi di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta, Jumat.

Fasilitas baru yang dinamai IBD Center Prudhof Simanidrata ini menjadi wujud nyata implementasi pilar Transformasi Layanan Rujukan yang digencarkan Kementerian Kesehatan.

Transformasi kesehatan yang diluncurkan Kemenkes terdiri dari enam pilar, mulai dari layanan primer, rujukan, sistem ketahanan kesehatan, pembiayaan, SDM kesehatan, hingga teknologi dan digitalisasi.

Dalam pilar layanan rujukan, pemerintah menekankan pentingnya memperluas jejaring layanan spesialis, tidak hanya melalui rumah sakit milik pemerintah, tetapi juga melalui kemitraan strategis dengan fasilitas kesehatan swasta, termasuk pusat IBD ini.

"Saya ucapkan selamat kepada Rumah Sakit Abdi Waluyo yang pertama kali memberikan layanan pusat IBD untuk Indonesia," ujar Prof Dante.

Keberadaan pusat IBD ini juga menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat data penyakit, pemetaan kebutuhan, serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan lanjutan.

Menurutnya, upaya ini penting agar Indonesia memiliki basis data nasional yang lebih kuat sekaligus mendorong kolaborasi lintas rumah sakit dalam sistem rujukan.

“Mudah-mudahan setelah ini kita punya angka nasional, sehingga kita bisa melihat bagaimana sebenarnya magnitude masalah ini, dan pusat-pusat IBD seperti ini bisa terus dikembangkan,” tambahnya.

Kemenkes menilai bahwa data nasional yang akurat akan menjadi landasan perencanaan kebijakan kesehatan di masa depan, termasuk untuk penyakit yang prevalensinya selama ini belum terukur secara jelas.

Program transformasi juga mendorong setiap rumah sakit untuk berperan aktif sebagai simpul dalam jejaring layanan, sehingga pasien dari berbagai daerah dapat dirujuk secara cepat dan tepat.

Selain aspek layanan, fasilitas baru ini diharapkan memperkuat ekosistem transformasi kesehatan melalui peningkatan edukasi publik, deteksi dini, serta kolaborasi penelitian klinis.

Dengan demikian, peran rumah sakit tidak hanya sebagai penyedia layanan kuratif, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan inovasi kesehatan.

"Yang paling penting adalah mengedukasi masyarakat dan menapis kasus-kasus yang selama ini mungkin ada di bawah permukaan dan tidak pernah terdiagnosis dari aspek klinis," ungkap Prof Dante.

Ke depan, Kemenkes berharap lebih banyak rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta, berinisiatif menghadirkan layanan unggulan yang selaras dengan agenda transformasi.

Langkah ini sejalan dengan target membangun sistem kesehatan yang tangguh, adil, dan mampu melayani seluruh lapisan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru