Senin, 06 April 2026

HHS 2025: Indonesia Perkuat Komitmen Eliminasi Hepatitis B dan C pada 2030

EM Bukit MKes - Sabtu, 26 Juli 2025 07:04 WIB
HHS 2025: Indonesia Perkuat Komitmen Eliminasi Hepatitis B dan C pada 2030
Ilustrasi virus hepatitis menyerang organ hati manusia.
Jakarta (buseronline.com) - Peringatan Hari Hepatitis Sedunia (HHS) 2025 menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam memperkuat komitmen eliminasi hepatitis B dan C pada tahun 2030.

Mengusung tema global “Let’s Break It Down” dan tema nasional “Bergerak Bersama, Putuskan Penularan Hepatitis”, kegiatan HHS 2025 digelar dalam bentuk temu media secara daring, Selasa.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Ina Agustina Isturini menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik, memperluas edukasi, serta mendorong aksi nyata lintas sektor dalam menurunkan beban penyakit hepatitis di Indonesia.

“Hepatitis bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga tantangan sosial. Kita butuh kerja sama semua pihak untuk memutus mata rantai penularannya,” tegas dr Ina.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat 254 juta orang dengan hepatitis B kronik dan 50 juta dengan hepatitis C kronik di dunia. Keduanya merupakan penyebab utama kanker hati yang kini menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi secara global.

Di Indonesia, Survei Kesehatan 2023 mencatat sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta hepatitis C. Namun, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk penurunan prevalensi hepatitis B dari 7,1 persen pada 2013 menjadi 2,4 persen pada 2023.

Adapun capaian lain, sebanyak 89,6 persen ibu hamil telah menjalani skrining hepatitis B, dan lebih dari 93 persen bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif telah mendapatkan imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama. Cakupan imunisasi hepatitis B untuk tenaga kesehatan juga telah mencapai 58 persen sejak Oktober 2023.

Dalam hal terapi, pemberian antivirus Tenofovir bagi ibu hamil terus diperluas dengan 1.410 layanan yang tersedia di 206 kabupaten/kota.

Sementara untuk hepatitis C, pengobatan dengan Direct Acting Antiviral (DAA) yang mampu menyembuhkan lebih dari 95 persen pasien kini telah tersedia di 71 rumah sakit di 56 kabupaten/kota di seluruh provinsi.

Prof David H Muljono, anggota Komite Ahli Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes RI, menekankan pentingnya pendekatan yang spesifik dan terdesentralisasi.

“Tiga negara China, India, dan Indonesia menanggung lebih dari 50 persen beban hepatitis B dunia. Jika Indonesia berhasil mengeliminasi hepatitis, dampaknya terhadap kesehatan global akan sangat besar,” ujarnya.

Ia mencatat lebih dari dua juta infeksi baru dan 1,4 juta kematian akibat hepatitis terjadi setiap tahun. Kantong-kantong prevalensi tinggi di Indonesia masih ditemukan di wilayah seperti Maluku dan Papua.

“Lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B. Ini adalah populasi rentan yang harus segera dilindungi melalui imunisasi dan skrining dini,” tambah Prof David.

Ia juga menekankan bahwa strategi eliminasi tidak bisa bersifat seragam. “Pendekatan lokal yang melibatkan tokoh agama, adat, dan masyarakat sangat diperlukan. Diagnosis dan terapi harus tersedia hingga tingkat puskesmas agar akses bisa merata,” jelasnya.

Kementerian Kesehatan RI pun mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif melalui empat langkah gerakan “atasi”:

1. Atasi ketidaktahuan dengan edukasi,

2. Atasi keterlambatan diagnosis dengan skrining,

3. Atasi akses terbatas dengan memperluas layanan gratis,

4. Atasi stigma dengan empati dan solidaritas.

“Penanggulangan hepatitis bukan semata tugas dokter atau pemerintah. Ini adalah tugas kita bersama. Mari kita putuskan penularan hepatitis, baik secara vertikal maupun horizontal,” pungkas Prof David.

HHS 2025 diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan momentum nyata untuk bertindak bersama. Masyarakat diimbau segera memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), melengkapi imunisasi anak, serta mendukung upaya edukasi dan pemantauan kesehatan demi mewujudkan generasi Indonesia bebas hepatitis. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar