Selasa, 07 April 2026

Jaga Kesehatan Mata Anak: Cegah Kebutaan di Masa Depan

Kamis, 10 Oktober 2024 07:00 WIB
Jaga Kesehatan Mata Anak: Cegah Kebutaan di Masa Depan
Mata malas atau ambliopia. (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Mata malas atau ambliopia adalah salah satu penyebab hilangnya penglihatan yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani sejak dini. Kondisi ini bisa menyebabkan kebutaan di usia dewasa jika dibiarkan tanpa pengobatan.

Dokter Spesialis Mata RS Mata Cicendo, Dr dr Feti Karfiati Memed SpM(K) MKes, menjelaskan bahwa ambliopia terjadi ketika otak tidak menerima rangsangan normal dari mata, dan hanya anak-anak yang dapat mengalami kondisi ini. “Jika tidak diterapi pada masa anak-anak, hal ini akan mengakibatkan hilangnya penglihatan secara permanen,” ungkap dr Feti dalam konferensi pers Hari Penglihatan Sedunia, Senin (7/10/2024).

Penyebab utama hilangnya penglihatan pada orang dewasa berusia 20 hingga 70 tahun adalah ambliopia yang tidak diobati pada masa anak-anak. Penyebab ambliopia termasuk kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, strabismus (mata juling), serta kelainan di dalam mata seperti katarak.

Pemeriksaan penglihatan di usia sekolah seringkali terlambat, padahal ambliopia mulai sulit disembuhkan setelah usia 5 tahun. Terapi yang dilakukan setelah usia 8 hingga 10 tahun dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.

Anak-anak berisiko mengalami ambliopia jika memiliki riwayat keluarga dengan strabismus, mata malas, atau penggunaan kacamata sejak kecil. Riwayat medis seperti kelahiran prematur, perkembangan terlambat, dan diabetes juga dapat meningkatkan risiko ini.

Riwayat masalah mata seperti mata juling, mata berair, ptosis, dan penglihatan kabur juga perlu diperhatikan. Skrining untuk bayi baru lahir sebaiknya dilakukan pada usia sekitar 35 bulan, atau antara usia 0 hingga 2 tahun, untuk mengecek riwayat kesehatan mata keluarga.

Dr Feti menjelaskan prosedur skrining yang mencakup pemeriksaan pergerakan mata, posisi bola mata, refleks kornea, serta melakukan tes penutupan untuk mendeteksi mata juling. Skrining juga perlu dilakukan pada usia 36 hingga 47 bulan, di mana anak seharusnya dapat mengidentifikasi optotipe pada baris 20/50.

Setelah itu, skrining selanjutnya dilakukan saat anak berusia di atas 60 bulan, di mana anak diharapkan dapat mengidentifikasi optotipe pada baris 20/30. Skrining ulang dianjurkan setiap tahun.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dr Siti Nadia Tarmizi MEpid, menambahkan bahwa sebagian pembiayaan kesehatan untuk ambliopia dan kasus-kasus anak lainnya akan ditanggung oleh BPJS jika mereka terdaftar sebagai peserta.

“Dalam rangka Hari Kesehatan Mata, kami ingin mengingatkan masyarakat untuk melakukan deteksi lebih dini dan memperkuat perhatian guru-guru di sekolah terhadap anak didik. Jika anak tidak bisa membaca dari jarak tertentu, ini harus segera dikonsultasikan,” kata dr Nadia. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
Tags
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru