Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memperkuat upaya pencegahan kebutaan dan penanganan gangguan penglihatan melalui percepatan deteksi dini, perluasan layanan kesehatan mata, serta peningkatan akses operasi katarak di seluruh Indonesia.
Dilansir dari laman Kemkes, langkah tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono saat menghadiri peringatan World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia 2026 yang diselenggarakan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) di Jakarta, pada 24 Oktober 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Dante menegaskan bahwa gangguan penglihatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mata, tetapi juga berdampak besar terhadap kualitas hidup, produktivitas, dan kemandirian seseorang.
"Gangguan penglihatan, termasuk katarak, memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang. Pemerintah bersama Perdami berkomitmen mengurai antrean operasi katarak dan mengakselerasi pemerataan dokter spesialis mata hingga wilayah terpencil," ujar Dante.
Menurutnya, penanganan gangguan penglihatan merupakan investasi penting untuk meningkatkan Angka Harapan Hidup Sehat atau Health-Adjusted Life Expectancy (HALE), yakni indikator yang menggambarkan lamanya seseorang dapat hidup dalam kondisi sehat tanpa gangguan kesehatan yang signifikan atau disabilitas.
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, gangguan penglihatan menjadi tantangan yang perlu ditangani secara serius. Kondisi tersebut dapat membatasi aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas masyarakat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes mendorong percepatan pelaksanaan Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional melalui sejumlah sasaran strategis.
Pemerintah menargetkan sedikitnya satu juta orang yang berisiko mengalami gangguan penglihatan dapat menjalani deteksi dini kesehatan mata di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Selain itu, cakupan operasi ditargetkan mencapai 80 persen dari penderita katarak tingkat sedang hingga berat.
Kemenkes juga menargetkan sedikitnya 80 persen pasien pascaoperasi katarak memperoleh hasil pemulihan tajam penglihatan yang baik. Sementara itu, angka Cataract Surgical Rate (CSR) ditargetkan mencapai minimal 3.000 tindakan operasi katarak per satu juta penduduk setiap tahun.
Upaya deteksi dini turut diperkuat melalui pemanfaatan funduskopi atau oftalmoskopi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Pemeriksaan ini memungkinkan tenaga medis melihat bagian dalam mata, termasuk retina dan pembuluh darah, untuk membantu mendeteksi penyakit mata sejak dini.
Dante menilai keterlibatan dokter umum dan dokter yang menangani penyakit kronis, seperti diabetes, penting untuk memperluas jangkauan pemeriksaan mata.
"Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat. Begitu pula jika semua dokter endokrin seperti saya melakukan funduskopi, retinopati diabetik akan makin banyak terdeteksi secara dini," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Perdami, Prof Budu, menyampaikan bahwa tantangan kesehatan mata di Indonesia semakin kompleks. Selain katarak, kasus kebutaan juga berkaitan dengan gangguan refraksi, retinopati diabetik, age-related macular degeneration (AMD) atau degenerasi makula terkait usia, serta glaukoma.
Menurut Budu, perubahan pola hidup dan transisi demografi turut memengaruhi tren penyakit mata di Indonesia. Karena itu, diperlukan penguatan kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk menekan angka kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah atau ditangani.
Ia menyebut katarak masih menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di dunia sehingga upaya pencegahan dan penanganannya perlu terus ditingkatkan.
Perdami pun menyambut baik penguatan sinergi dengan Kemenkes dalam mengatasi persoalan kesehatan mata nasional. Budu mengajak seluruh cabang Perdami di Indonesia untuk mempercepat upaya penanggulangan kebutaan akibat katarak serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mata.
Peringatan World Sight Day 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata, melakukan pemeriksaan secara berkala, dan memperoleh penanganan yang tepat sejak dini.
Melalui penguatan deteksi dini, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, dan pemerataan tenaga medis, pemerintah berharap beban gangguan penglihatan di Indonesia dapat ditekan sehingga masyarakat dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan mandiri. (R)
beritaTerkait
komentar