Senin, 12 Oktober 2026

Kemenkes Ajak Keluarga Rangkul Neurodivergent, 9 dari 10 Penderita Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan

Senin, 12 Oktober 2026 17:05 WIB
Kemenkes Ajak Keluarga Rangkul Neurodivergent, 9 dari 10 Penderita Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes dr Maria Endang Sumiwi.
Karena itu, penerimaan dan pemahaman keluarga menjadi faktor penting agar anak memperoleh pendampingan yang tepat sejak dini.

Sementara itu, Ketua Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi, dan Trauma Psikososial FKUI/RSCM, dr Hervita Diatri menekankan pentingnya melibatkan People With Lived Experience (PWLE), yakni individu yang memiliki pengalaman langsung dengan gangguan kesehatan jiwa, dalam upaya penanganan.

Ia menjelaskan, pengobatan kesehatan jiwa tidak hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi juga membutuhkan psikoterapi dan rehabilitasi.

Menurut Hervita, layanan tersebut harus dapat diakses masyarakat secara lebih merata, termasuk mereka yang tinggal di luar kota besar.

Pendekatan deinstitusionalisasi dinilai menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga penanganan dapat mencakup pengobatan, psikoterapi, dan rehabilitasi secara memadai.

Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS, dr Purboyo Solek mengatakan individu neurodivergent, termasuk anak dengan disleksia dan ADHD, membutuhkan sistem dukungan yang terintegrasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ia menjelaskan, anak dengan disleksia dapat memiliki tingkat kecerdasan normal, tetapi cara otaknya memproses informasi berbeda.

Tanpa pemahaman keluarga dan akomodasi yang tepat di sekolah, anak berisiko mengalami perundungan, kecemasan, hingga depresi.

Karena itu, lingkungan pendidikan dan keluarga perlu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak, bukan memberikan stigma atau penilaian negatif terhadap perbedaan yang dimiliki.

Kemenkes berharap kolaborasi antara keluarga, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat terus diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi individu neurodivergent.

Dengan pemahaman yang tepat, pengurangan stigma, serta akses pelayanan yang memadai, setiap individu diharapkan memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan berdaya sesuai potensinya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
KPK Bekali 110 Calon Pemimpin Nasional dengan Pendidikan Antikorupsi
Tiga Kementerian Sepakati Digitalisasi Layanan Haji, Tarif MCU Diusulkan Mulai Rp800 Ribu
PMI Manufaktur Indonesia Capai 52,4, Sektor Industri Terus Ekspansif
SATUSEHAT Raih Dua Penghargaan, Perkuat Transformasi Digital Kesehatan Indonesia
Kemenkes Bekali 4.630 Dokter dan Dokter Gigi Internsip, Tekankan Lingkungan Bebas Perundungan
Kemenkes: Keselamatan Pasien Harus Dijaga Sepanjang Perjalanan Perawatan
komentar
beritaTerbaru