Sabtu, 26 September 2026

MBG Harus Bergizi dan Aman, Pengawasan Pangan Jadi Perhatian

Sabtu, 26 September 2026 17:40 WIB
MBG Harus Bergizi dan Aman, Pengawasan Pangan Jadi Perhatian
Sonata Talkshow bertema “Makan Bergizi Gratis: Sudah Bergizi, Apakah Sudah Aman?” yang disiarkan langsung melalui Radio Sonata, Rabu (23/9/2026).

Bandung (buseronline.com) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya harus mampu memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga wajib memastikan makanan aman sejak bahan baku dipilih hingga dikonsumsi.

Dilansir dari laman Jabarprov, hal tersebut menjadi pembahasan dalam Sonata Talkshow bertema "Makan Bergizi Gratis: Sudah Bergizi, Apakah Sudah Aman?" yang disiarkan langsung melalui Radio Sonata, pada 23 September 2026.

Talkshow menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Dr dr Agung Firmansyah Sumantri SpPD KHOM MMRS FINASIM serta Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bandung dr Dewi Primasari SpDLP.

Agung mengatakan, MBG merupakan program yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui.

"Kalau menurut saya MBG ini tujuannya baik, programnya sebenarnya bagus. Tujuannya tentunya adalah investasi kualitas manusia, jadi indeks pembangunan manusia tujuan akhirnya," ujar Agung.

Meski mendukung program tersebut, Agung menilai pelaksanaannya perlu dibarengi pengawasan agar makanan yang diberikan benar-benar memenuhi kebutuhan gizi, aman dikonsumsi, dan tepat sasaran.

"Kami dari DPRD Kota Bandung tentunya mendukung program ini karena ini memiliki dampak langsung ke masyarakat. Tapi dukungan ini juga harus bersama dengan pengawasan yang baik," katanya.

Ia menegaskan, keamanan pangan harus diperhatikan dalam seluruh proses penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, kebersihan dapur, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi.

"Mulai dari pemilihan bahan makanannya, kualitas dan penyimpanan bahannya, kebersihan dapurnya, higienisnya yang membuat masakannya, terus bagaimana mengemas makanannya, kemudian bagaimana transportasinya, sampai makanan ini diterima betul-betul dan bisa dikonsumsi oleh anak," tuturnya.

Sementara itu, Dewi menjelaskan bahwa pemenuhan gizi saat ini mengacu pada prinsip gizi seimbang, salah satunya melalui konsep Isi Piringku.

"Sekarang sudah tidak pakai slogan 4 Sehat 5 Sempurna. Sekarang yang dipakai adalah gizi seimbang, atau yang paling sederhana kita tuangkan dalam konsep Isi Piringku," jelas Dewi.

Menurutnya, konsep tersebut memperhatikan kebutuhan zat gizi makro dan mikro, termasuk jenis dan porsi makanan. Secara umum, setengah bagian piring terdiri dari sayur dan buah, sedangkan bagian lainnya berisi sumber karbohidrat serta protein nabati dan hewani.

Namun, pemenuhan gizi saja belum cukup. Dewi menekankan pentingnya keamanan pangan karena makanan bergizi tetap berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan apabila pengolahannya tidak dilakukan secara tepat.

Ia menyebut lima faktor utama dalam menjaga keamanan pangan, yakni menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dan matang, memasak makanan hingga matang sempurna, menggunakan air serta bahan baku yang aman, dan menjaga makanan pada suhu yang aman.

"Jadi program ini selain juga bergizi juga harus aman. Selain kita mendukung, kita juga harus memastikan dia aman, karena jangan sampai dia jadi semacam sakit," ujarnya.

Dewi mengatakan risiko kontaminasi dapat muncul dalam setiap tahapan, mulai dari pemilihan dan penyimpanan bahan baku, pengolahan, penyajian, penyimpanan hingga proses distribusi. "Memang setiap rangkaiannya ada risiko," katanya.

Karena itu, pengawasan keamanan pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dalam pelaksanaan MBG, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki ahli gizi yang berperan dalam menentukan menu dan dapat berkoordinasi dengan ahli gizi puskesmas.

Apabila terjadi dugaan keracunan makanan, petugas puskesmas akan melakukan pemeriksaan di sekolah dan dapur. Sampel makanan yang dikirim pada hari tersebut juga dapat diperiksa untuk mengetahui kemungkinan kontaminasi.

"Kalau ada kasus, kami dari puskesmas biasanya turun ke sekolah dan ke dapur. Sekolah dan dapur harus punya sampel makanan yang hari itu dikirimkan. Nanti sampelnya kita tes, apakah ada kontaminasi, risiko mikrobiologi atau zat kimia lainnya," jelas Dewi.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab suatu kejadian dan memastikan apakah berkaitan dengan keracunan makanan atau faktor lainnya.

Dewi juga mengimbau masyarakat agar tidak panik apabila menemukan dugaan kasus gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan. Masyarakat diminta segera mencari pertolongan dan melaporkan kejadian tersebut kepada fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

"Jangan panik, yang kedua juga segera cari pertolongan. Laporkan ke faskes terdekat. Nanti kita bisa investigasi dan kita cari penyebabnya," ujarnya.

Pengawasan terhadap aspek gizi dan keamanan pangan secara bersama-sama diharapkan dapat memastikan program MBG berjalan sesuai tujuan serta memberikan manfaat bagi tumbuh kembang penerima manfaat. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
IGD Kota Bandung Tetap Siaga 24 Jam, Warga Diminta Tak Panik Hadapi Gejala Influenza
Ekonomi Kota Bandung Tumbuh 5,80 Persen pada Triwulan II 2026
Pajak Warga Jabar Topang Pendidikan Hampir 1 Juta Siswa
Festival Literasi Ciamis 2026 Dorong Masyarakat Terus Membaca dan Belajar
Pemko Bandung Targetkan PAD Sumbang Lebih dari 60 Persen Pendapatan Daerah
Indonesia Sukses Gelar Dua Kejuaraan Indoor Skydiving Internasional
komentar
beritaTerbaru