Sabtu, 22 Agustus 2026

Eks Pabrik Kina Bandung Jadi Jejak Sejarah Industri Farmasi Indonesia

Sabtu, 22 Agustus 2026 19:46 WIB
Eks Pabrik Kina Bandung Jadi Jejak Sejarah Industri Farmasi Indonesia
Eks Pabrik Kina di kawasan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, menjadi salah satu saksi penting perjalanan industri farmasi Indonesia.

Bandung (buseronline.com) - Eks Pabrik Kina di kawasan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, menjadi salah satu saksi penting perjalanan industri farmasi Indonesia.

Dilansir dari laman Jabarprov, berdiri sejak 29 Juni 1896 dengan nama Bandoengsche Kinine Fabriek NV, pabrik tersebut pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan kina dunia.

Pada masa itu, kina memiliki peran strategis karena menjadi bahan utama dalam pengobatan penyakit malaria.

Tingginya kebutuhan terhadap pengobatan malaria mendorong berkembangnya industri kina di Bandung sekaligus membuka hubungan perdagangan dengan berbagai negara.

Manajer Pengelolaan Aset PT Kimia Farma, Hilman Firmansyah mengatakan keberadaan Pabrik Kina memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi perkembangan industri farmasi nasional.

"Pabrik Kina ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Berdiri sejak 1896, kawasan ini menjadi bagian dari perjalanan industri farmasi Indonesia dan menunjukkan bagaimana Bandung pada masa itu sudah terhubung dengan perdagangan kina dunia," ujar Hilman.

Seiring perjalanan waktu, pengelolaan Pabrik Kina mengalami sejumlah perubahan. Pada 1939, pabrik diserahkan kepada Indische Combine Voor Chemische Industrie (Inschen).

Kemudian saat pendudukan Jepang sekitar 1942, pabrik diambil alih dan dikenal dengan nama Rikuyun Kinine Seizoshyo.

Setelah Jepang menyerah pada 1945, pengelolaan pabrik kembali berada di tangan Belanda sebelum akhirnya dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia pada 1958.

Pabrik Kina selanjutnya menjadi bagian dari perjalanan perusahaan negara di bidang farmasi dan alat kesehatan hingga berkembang menjadi PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

Pada masa kejayaannya, produksi kina dari Bandung tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga diperdagangkan ke pasar internasional.

Dokumen perdagangan tahun 1916 mencatat adanya transaksi dan kredit pengiriman kina dari Bandung menuju Rusia.

Pada masa pendudukan Jepang, produksi pil dan tablet kina dari Bandung juga dikirim ke Jepang serta sejumlah wilayah lainnya untuk mendukung kebutuhan Jepang selama Perang Pasifik.

Salah satu produk yang dihasilkan adalah tota kina, yaitu kina yang belum dipisahkan dari berbagai alkaloid yang terkandung di dalamnya.

Seiring perkembangan kebutuhan operasional, produksi kemudian dipindahkan ke pabrik baru di Banjaran, Kabupaten Bandung, pada 2020.

Hilman menilai perjalanan Pabrik Kina menunjukkan besarnya kontribusi industri tersebut terhadap sektor kesehatan sekaligus perdagangan internasional pada masanya.

"Ini bukan hanya cerita tentang sebuah bangunan atau pabrik, tetapi tentang bagaimana sebuah industri di Bandung pernah memiliki peran dalam rantai pasok kina dunia. Karena itu, nilai sejarahnya penting untuk terus dikenalkan kepada generasi sekarang," katanya.

Kini, eks Pabrik Kina menjadi pengingat perjalanan panjang industri farmasi Indonesia sekaligus bukti bahwa Bandung telah memiliki keterhubungan dengan perdagangan dan perkembangan kesehatan global sejak lebih dari satu abad lalu. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemko Bandung Tawarkan Sejumlah Proyek Strategis kepada Investor melalui Investor Day 2026
Investasi Kota Bandung Tembus Rp6,4 Triliun, Target Akhir Tahun Rp12 Triliun
Pemko Bandung Perkuat UMKM Perempuan, Dorong Akses Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko
Pemprov Jabar Salurkan Bantuan Peternakan ke Kelompok Ternak di Bandung Barat
Pemko Bandung Usut Tuntas Penebangan 35 Pohon di Empat Lokasi
Kampoeng Rajoet Binong Jati Ubah Botol Plastik Jadi Benang
komentar
beritaTerbaru