Senin, 21 September 2026

KPK Ajak Generasi Muda Jadikan Integritas sebagai Kebiasaan

Senin, 21 September 2026 18:55 WIB
KPK Ajak Generasi Muda Jadikan Integritas sebagai Kebiasaan
Talkshow bertajuk “Think Big, Act Right: Membentuk Generasi Muda dengan Integritas dan Kepemimpinan dalam Membangun Masa Depan” yang digelar di Universitas Udayana, Badung, Bali, Kamis (17/9/2026).

Badung (buseronline.com) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, menjadikan integritas sebagai kebiasaan dalam mengambil keputusan dan bertindak di kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari laman KPK, pesan tersebut disampaikan dalam talkshow bertajuk "Think Big, Act Right: Membentuk Generasi Muda dengan Integritas dan Kepemimpinan dalam Membangun Masa Depan" yang digelar di Universitas Udayana, Badung, Bali, pada 17 September 2026.

Talkshow yang menjadi bagian dari rangkaian Diseminasi Antikorupsi SINTESIS KPK 2026 tersebut diikuti sekitar 140 mahasiswa Universitas Udayana.

Kegiatan menghadirkan Pimpinan KPK Ibnu Basuki Widodo, Guru Besar sekaligus Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Udayana I Dewa Gede Palguna, serta Delegasi SINTESIS KPK 2026 dari Provinsi Bali, I Gede Karang Bagus Prema.

Ibnu Basuki Widodo mengatakan pemberantasan korupsi tidak hanya mengandalkan penindakan. Pendidikan dan pencegahan juga harus dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, ketiga pendekatan tersebut merupakan bagian dari Strategi Trisula Pemberantasan Korupsi yang mencakup pendidikan masyarakat, pencegahan, dan penindakan.

"Integritas bukan sekadar pengetahuan mengenai korupsi. Integritas adalah kebiasaan mengambil keputusan yang benar, meskipun tidak selalu mudah dan tidak selalu diawasi," ujar Ibnu.

Ia menjelaskan, korupsi dapat muncul dalam berbagai bentuk dan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kebutuhan, keserakahan hingga kelemahan sistem.

Karena itu, budaya antikorupsi perlu dibangun melalui pembentukan karakter sekaligus penguatan sistem yang mampu mencegah terjadinya korupsi.

Di lingkungan pendidikan, Ibnu mengingatkan agar integritas menjadi bagian dari kehidupan seluruh warga kampus.

Berdasarkan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024, masih ditemukan persoalan integritas akademik, seperti perilaku menyontek serta pemberian hadiah atau gratifikasi yang dianggap wajar oleh sebagian pihak.

"Anak muda dapat memulai gerakan antikorupsi dari lingkungan yang paling dekat. Perubahan tidak harus selalu menunggu seseorang menjadi pejabat atau pemegang jabatan formal," katanya.

Ibnu juga mendorong civitas akademika menerapkan prinsip No Bribery, No Gift, No Kickback, dan No Luxurious Hospitality. Masyarakat juga dapat berkontribusi dalam pemberantasan korupsi dengan memanfaatkan kanal pengaduan resmi KPK.

Sementara itu, Prof I Dewa Gede Palguna menegaskan bahwa integritas tidak sebatas kepatuhan terhadap aturan. Integritas juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menggunakan kewenangan, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.

Palguna mengatakan demokrasi membutuhkan warga negara yang mampu berpikir kritis, memahami hak dan kewajiban, menghormati proses hukum, serta menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

"Kompetensi dan integritas merupakan dua unsur yang perlu berjalan bersama. Kemampuan yang tinggi akan memberi manfaat lebih besar apabila digunakan dengan tanggung jawab dan orientasi kepentingan publik," tuturnya.

Dari kalangan generasi muda, I Gede Karang Bagus Prema menekankan bahwa integritas dapat dimulai dari tindakan sederhana. Di antaranya jujur mengerjakan tugas, disiplin terhadap komitmen, tidak mengambil hak orang lain, serta berani menyampaikan hal yang benar.

"Generasi muda jangan berhenti pada slogan. Nilai antikorupsi harus diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan, mulai dari lingkungan kampus, komunitas, organisasi, hingga ruang digital," ujar Prema.

Ia menambahkan, kepemimpinan generasi muda tidak selalu harus dimulai dari jabatan formal. Kepemimpinan dapat dibangun melalui keteladanan, konsistensi terhadap nilai, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mengambil tanggung jawab.

Talkshow tersebut menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk memahami pemberantasan korupsi dari berbagai perspektif, mulai dari penegakan hukum, konstitusi, tata kelola pendidikan hingga pengalaman generasi muda.

Melalui kegiatan itu, KPK mendorong mahasiswa menjadikan integritas bukan sekadar pengetahuan, tetapi kebiasaan yang terus dilatih. Perubahan dinilai dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten di lingkungan terdekat. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
KPK Petakan 12 Risiko Korupsi di Perguruan Tinggi
KPK Temukan 41 Anomali Tata Kelola Pemda Sumut, PBJ Paling Rawan
KPK Minta Pengendalian Gratifikasi di Kampus Tak Sekadar Seremonial
Bobby Nasution dan 33 Kepala Daerah se-Sumut Teken Komitmen Bersama KPK Cegah Korupsi
Alumni SINTESIS KPK Dorong Gerakan Antikorupsi Lewat Distrik Muda
KPK Dorong PAKSI Bali Perkuat Edukasi dan Budaya Antikorupsi
komentar
beritaTerbaru