Senin, 04 Mei 2026

Sinergi Fiskal dan Moneter Jadi Kunci, Wamenkeu Tekankan Peran PINISI 2026

Senin, 04 Mei 2026 09:20 WIB
Sinergi Fiskal dan Moneter Jadi Kunci, Wamenkeu Tekankan Peran PINISI 2026
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam acara Policy Dialogue-Kick Off Program PINISI 2026 yang digelar Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal ini disampaikan dalam acara Policy Dialogue-Kick Off Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) 2026 yang digelar Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin.

Dilansir dari laman Kemenkeu, dalam pemaparannya, Juda mengibaratkan kebijakan fiskal sebagai "angin" dan sektor perbankan sebagai "layar" yang harus bergerak selaras agar "kapal" ekonomi Indonesia dapat melaju menuju tujuan yang diharapkan.

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Triwulan I 2026 menunjukkan capaian yang signifikan. Belanja negara tercatat tumbuh 31,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,4 persen.

"Belanja pada Triwulan I telah mencapai 21,2 persen dari total pagu APBN. Pola belanja kini diatur lebih merata sepanjang tahun, tidak lagi terkonsentrasi di Triwulan IV, sehingga dampak terhadap pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih awal," ujar Juda.

Dari sisi penerimaan, kinerja perpajakan juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 20,7 persen secara year-to-date (ytd).

Lonjakan ini terutama ditopang oleh peningkatan signifikan pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPN Barang Mewah (PPNBM) yang mencapai 57,7 persen, mencerminkan kuatnya konsumsi masyarakat dan aktivitas dunia usaha.

Menanggapi kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh 100 dolar AS per barel, pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global. Untuk memastikan defisit APBN tetap berada di bawah batas 3 persen, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis.

Di antaranya melalui penajaman program prioritas, termasuk efisiensi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan meniadakan pemberian pada hari Sabtu dan masa libur sekolah. Langkah ini diperkirakan dapat menghemat anggaran hingga Rp1 triliun per hari.

Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan implementasi sistem coretax serta memanfaatkan windfall dari komoditas unggulan seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) guna memperkuat penerimaan negara.

Menutup pernyataannya, Juda menegaskan filosofi program Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) sebagai simbol pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga arah kebijakan ekonomi.

"PINISI adalah gambaran sebuah kapal yang berlayar menuju tujuan. Diperlukan kerja sama antara kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan pelaku usaha agar perjalanan ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang tepat," pungkasnya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru