Rabu, 03 Juni 2026

Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata

Selasa, 07 April 2026 12:12 WIB
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Petani mengoperasikan mesin panen (combine harvester) saat panen padi di salah satu lahan pertanian di Jawa Tengah. (Dok/Jatengprov)

Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat upaya swasembada pangan dengan strategi terintegrasi berbasis data dan intervensi lapangan. Program ini ditujukan untuk memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat sekaligus mendukung target swasembada pangan pada 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa hingga awal 2026, sejumlah indikator produksi menunjukkan tren positif.

Produksi padi mencapai 4.169.353 ton gabah kering giling (GKG) dari target 10.559.679 ton atau sekitar 39,48 persen. Produksi jagung tercatat 984.959 ton dari target 3.700.000 ton (26,62 persen), sementara kedelai baru mencapai 762 ton dari target 52.790 ton (1,44 persen).

Komoditas hortikultura juga menunjukkan perkembangan. Produksi bawang merah mencapai 144.705 ton dari target 617.015 ton (23,45 persen), dan cabai sebesar 80.892 ton dari target 456.621 ton (17,72 persen). Di sektor peternakan, produksi telur tercatat 238.154 ton dari target 917.863 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton dari target 942.497 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton dari target 76.570 ton (23,41 persen).

"Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga," ujar Frans, sapaan akrab Kepala Distanak.

Hingga Maret 2026, neraca pangan Jawa Tengah relatif aman, dengan surplus beras sebesar 702.409 ton. Surplus juga tercatat pada komoditas daging dan telur, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Untuk mendukung pencapaian target, dilansir dari laman Jatengprov, Pemprov Jawa Tengah mengalokasikan berbagai program strategis. Bantuan benih dan sarana produksi disiapkan untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, dan bawang merah TSS 25 hektare. Pada sektor perkebunan, intervensi mencakup tebu 1.010 hektare, kopi 770 hektare, dan kelapa 540 hektare.

Modernisasi pertanian diperkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian, antara lain 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, 30 unit traktor roda empat, 100 unit pompa air, 10 unit combine harvester, serta puluhan cultivator dan hand tractor.

Selain itu, program perlindungan petani meliputi asuransi usaha tani padi seluas 10.449 hektare, asuransi tembakau 10.000 hektare, dan subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani.

Intervensi juga dilakukan melalui pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan program kesehatan hewan, termasuk vaksinasi 100.000 ekor ternak dan pengobatan 10.000 ekor ternak.

Frans menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pertanian. Hal ini meliputi penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian.

Pemerintah juga mengembangkan konsep kemitraan "petarung sejati" antara pelaku usaha dan petani untuk menjaga ketersediaan dan distribusi komoditas strategis, termasuk penyediaan 450 ton cabai rawit merah untuk menghadapi periode off-season.

Meski menghadapi tantangan berupa alih fungsi lahan, penurunan luas baku sawah sebesar 17.114 hektare pada 2025, dan potensi kehilangan produksi hingga 191.297 ton, Pemprov Jawa Tengah terus memperkuat koordinasi lintas sektor.

Sinergi dilakukan dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, hingga aparat keamanan.

"Kolaborasi menjadi kunci. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis Jawa Tengah mampu mencapai swasembada pangan, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan kesejahteraan petani," ujar Frans.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, menekankan bahwa swasembada pangan menjadi salah satu program prioritas sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan strategi terintegrasi, modernisasi pertanian, dan perlindungan petani, Jawa Tengah menargetkan capaian swasembada pangan yang stabil pada 2026, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan produksi. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Ahmad Yohan Ajak Seluruh Elemen Bangsa Bersatu Kawal Swasembada Pangan
Digitalisasi Pendidikan di Teluk Bintuni Diperkuat, Setiap Sekolah Akan Terima Tambahan IFP pada 2026
161 Tim Mahasiswa Ramaikan Lomba Artikel Populer Program Pemprov Jateng
Presiden Prabowo Resmikan Renovasi Museum dan Perpustakaan Seskoad di Bandung
Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus
USU Siapkan SDM Masa Depan Bangsa
komentar
beritaTerbaru