Salatiga (buseronline.com) - Gubernur Ahmad Luthfi menyalurkan bantuan modal usaha untuk mustahik produktif dari Baznas Provinsi Jawa Tengah tahap II 2025, kepada 1.750 penerima di Kota Salatiga, Selasa.
Nilai bantuan yang disalurkan mencapai Rp5,25 M, dengan masing-masing penerima memperoleh Rp3 juta.
Secara simbolis, dilansir dari laman Jatengprov, Gubernur Luthfi menyerahkan bantuan kepada perwakilan mustahik dari Kota Salatiga, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Boyolali. Penyerahan ini juga dirangkai dengan pembekalan dan pendampingan usaha bagi para penerima manfaat.
Ketua Baznas Jateng, Ahmad Darodji, menjelaskan, bantuan tersebut bertujuan memperkuat usaha mikro masyarakat agar berkembang dan mandiri.
“Bantuan ini bukan untuk konsumsi, tetapi untuk diputar sebagai modal usaha. Kami juga melakukan pendampingan agar usaha mereka berkembang. Harapannya, dari mustahik bisa menjadi muzaki (pemberi zakat),” ujar Darodji.
Baznas Jateng juga menargetkan pada 2026 penyaluran modal usaha bagi 3.500 mustahik, serta dukungan program bantuan paket dari Baznas RI sebanyak 1.500 paket.
Selain itu, bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) 2026 disalurkan sebanyak 750 unit senilai Rp15 M, bekerja sama dengan Disperakim Provinsi Jawa Tengah.
Secara kumulatif, total bantuan RTLH yang telah disalurkan Baznas mencapai 2.874 unit, senilai sekitar Rp47,015 M. Di bidang pendidikan, Baznas Jateng menyalurkan beasiswa kepada 4.434 mahasiswa melalui 15 perguruan tinggi senilai Rp15,88 M, dan beasiswa 96.042 siswa SMA/SMK/SLB melalui UPZ senilai Rp31,6 M. Program pemberdayaan ekonomi juga digelar dengan 21 jenis pelatihan kerja, menjangkau 13.816 peserta.
Gubernur Luthfi menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Yang utama adalah memastikan masyarakat cukup sandang, pangan, dan papan,” tegas Luthfi. Ia menambahkan bahwa bantuan modal usaha merupakan stimulus untuk menggerakkan ekonomi mikro yang jumlahnya mencapai sekitar 4,2 juta pelaku usaha di Jawa Tengah.
“Modal ini sebagai stimulus. Diputar, jangan dikonsumsi. Harus naik kelas, dari mikro jadi kecil, dari kecil jadi menengah. Jangan setelah dibantu malah stagnan,” ujar Luthfi.
Melalui pembinaan, diharapkan usaha masyarakat berkembang, omzet meningkat, dan mampu menyerap tenaga kerja.
Penanganan kemiskinan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari perbaikan rumah, peningkatan pendapatan, akses kesehatan, hingga pendidikan.
“Rumahnya harus layak, kesehatannya dijaga, anaknya harus sekolah. Intervensi kita tidak boleh parsial, harus menyeluruh. Kita keroyok kemiskinan dari desa sampai provinsi,” lanjutnya.
Luthfi menyebut angka kemiskinan Jawa Tengah turun ke kisaran 9,39% dari 9,48%, dengan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 mencapai 5,37 persen, di atas rata-rata nasional.
Salah satu penerima bantuan, Kholidah, menyampaikan rasa syukurnya. Ia berharap bantuan modal usaha dapat mengembangkan usahanya sehingga kelak bisa menjadi pemberi manfaat bagi masyarakat lain.
“Alhamdulillah bersyukur banget dengan bantuan dari Baznas. Harapannya usaha lebih maju dan bantuan ini untuk modal,” ungkap Kholidah, yang berjualan bubur.
Program ini menjadi salah satu langkah nyata pemerintah provinsi dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat serta menekan kemiskinan melalui kolaborasi antara Baznas dan pemerintah daerah. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar