Bandung (buseronline.com) - Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menegaskan bahwa mencintai rupiah bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga bentuk nyata dari cinta tanah air. Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri kegiatan Bincang Rupiah dan Pahlawan (Rupawan) yang digelar Bank Indonesia (BI) di Convention Hall Telkom University, Kota Bandung, Jumat.
Dalam sambutannya, Erwan menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas inisiatifnya menggelar kegiatan edukatif yang mengaitkan nilai kebangsaan dengan makna rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.
“Kegiatan ini sangat istimewa. Sebuah inisiatif cerdas dari BI untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan melalui makna yang terkandung dalam rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa,” ujar Erwan.
Erwan menuturkan, rupiah bukan sekadar alat transaksi, tetapi juga menyimpan cerita perjuangan, nilai kebangsaan, dan kebanggaan nasional. Setiap wajah pahlawan yang terpampang di dalamnya, katanya, mencerminkan keberanian, pengorbanan, serta cinta tanah air yang mendalam.
Namun di era globalisasi dan digitalisasi, lanjutnya, semangat kepahlawanan itu kerap memudar di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan mata uang digital.
“Karena itu, kegiatan seperti Rupawan menjadi penting untuk menyambung ingatan kolektif bangsa bahwa kedaulatan ekonomi, seperti halnya kemerdekaan politik, harus terus dijaga dan diperjuangkan,” tuturnya.
Wagub menegaskan bahwa generasi muda merupakan penerus bangsa di era ekonomi digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mereka tidak boleh kehilangan identitas dan nilai-nilai kebangsaan.
“Menjaga rupiah berarti menjaga kepercayaan diri bangsa Indonesia di tengah arus global. Menjaga rupiah berarti memastikan perekonomian nasional tumbuh dari karya anak bangsa, bukan dikendalikan oleh kepentingan luar negeri,” tegasnya.
Erwan juga menyoroti pentingnya literasi keuangan dan nasionalisme ekonomi sebagai dua hal yang harus berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga berdaulat secara ekonomi.
Ia mengajak masyarakat untuk memaknai kepahlawanan dalam konteks kekinian bukan hanya mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata di masa kini.
“Pahlawan hari ini adalah mereka yang berbuat nyata untuk negeri — guru yang mengajar dengan dedikasi, petani yang menanam dengan ikhlas, pelaku UMKM yang berinovasi, serta anak muda yang menggunakan teknologi untuk menebar manfaat,” ujar Erwan.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Rupawan”, yakni pahlawan dalam keseharian yang menjaga rupiah, mengelola ekonomi dengan bijak, dan menebarkan semangat cinta tanah air.
“Saya berharap Bincang Rupawan 2025 tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi juga gerakan kebangsaan baru — gerakan untuk mencintai negeri melalui ekonomi yang berdaulat dan masyarakat yang berkarakter,” pungkasnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali menegaskan bahwa di era digital, ancaman terhadap kedaulatan bangsa kerap tidak kasatmata. Karena itu, generasi muda harus menjadi pelopor dalam menjaga rupiah sebagai simbol harga diri bangsa.
“Wujudkan kepahlawanan melalui Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Cinta berarti merawat rupiah, mengenal ciri keasliannya, dan menghormatinya. Bangga berarti menggunakan rupiah, mempromosikan karya Indonesia, dan percaya pada potensi bangsa,” jelas Ricky.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap rupiah mencakup kemampuan menggunakan uang dengan bijak, bertransaksi dengan aman, dan menyadari bahwa stabilitas rupiah berarti stabilitas masa depan bangsa.
“Jika dulu para pahlawan berjuang dengan mengangkat senjata, maka hari ini kita berjuang dengan kecerdasan, integritas, inovasi, serta kemampuan menjaga identitas dan martabat bangsa, baik di dunia nyata maupun dunia digital,” tandasnya.
Ricky juga memaparkan bahwa Bank Indonesia Jawa Barat telah melaksanakan 116 kegiatan edukasi dengan total lebih dari 13 ribu peserta, dalam rangka memperluas literasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah di seluruh wilayah Jabar. Selain itu, BI memastikan ketersediaan uang layak edar hingga ke pelosok daerah, agar masyarakat di setiap lapisan tetap dapat merasakan nilai dan makna rupiah.
Dengan kegiatan Bincang Rupawan ini, diharapkan semangat nasionalisme ekonomi dapat tumbuh kuat di tengah kemajuan teknologi, menjadikan rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga simbol martabat dan kedaulatan bangsa Indonesia. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar