Karanganyar (buseronline.com) - Event Soloraya Great Sale (SGS) 2025 resmi ditutup dengan torehan sukses besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional berbasis aglomerasi. Dengan capaian transaksi hampir Rp10,7 T, SGS 2025 diproyeksikan menjadi model percontohan nasional, tak hanya bagi eks-Keresidenan lain di Jawa Tengah, namun juga untuk wilayah-wilayah di seluruh Indonesia.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap keberhasilan SGS 2025 saat menghadiri closing ceremony di De Tjolomadoe, Karanganyar, Minggu. Ia menilai konsep Trade, Tourism, and Investment (TTI) yang diusung dalam SGS sangat relevan dan berdaya ungkit kuat bagi perekonomian daerah.
“Upaya great sale dari Soloraya ini merupakan contoh yang bisa dikembangkan di seluruh Indonesia. Selain nilai transaksinya yang tinggi, SGS juga sukses menarik wisatawan dalam jumlah besar. Kami akan bahas lebih lanjut dalam retret Kadin di Akmil pekan depan,” ungkap Anindya.
Ia menyebut, keberhasilan SGS bukan hanya mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, tetapi juga menghidupkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi.
“Kami terpacu untuk membuat yang lebih besar. Soloraya bisa jadi contoh bagi provinsi lain karena bisa menggerakkan ekonomi dan mendorong kolaborasi yang konkret,” lanjutnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa SGS 2025 merupakan bukti nyata kekuatan collaborative government dalam membangun aglomerasi ekonomi lintas daerah. Selama pelaksanaan satu bulan penuh, SGS sukses menghimpun transaksi senilai hampir Rp10,7 T, yang disebut sebagai capaian luar biasa hasil dari kolaborasi tujuh kabupaten/kota di wilayah Soloraya.
“Dalam menumbuhkembangkan ekonomi baru tidak bisa sendiri. Maka tujuh kabupaten/kota di Soloraya kita jadikan satu dalam Soloraya Great Sale 2025. Ini akan jadi role model, yang akan kami geser ke Pati Raya, Pekalongan Raya, Semarang Raya, dan eks-Karesidenan lainnya,” jelas Luthfi.
Ia juga menyebutkan, investasi di Jawa Tengah hingga triwulan II 2025 telah mencapai Rp45,2 T, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan mendorong kemajuan ekonomi berkelanjutan.
“Kami berkomitmen dengan seluruh kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk punya daya dobrak dan daya saing. Dengan mendorong investasi dalam dan luar negeri, kita pastikan ekonomi daerah terus bergerak,” tegasnya.
Ketua Pelaksana SGS 2025, Ferry S Indiarto, mengungkapkan bahwa acara tahun ini menghasilkan 5,4 juta transaksi, termasuk:
232 ribu transaksi UMKM senilai Rp222 M
281 ribu transaksi pasar tradisional senilai Rp350 M
Transaksi melalui QRIS mencapai Rp3,7 T
“Tidak berlebihan kalau kami menyebut Gubernur Jawa Tengah sebagai Bapak Inisiator Aglomerasi, karena gagasan dan dorongan beliau menguatkan kerja sama lintas daerah,” kata Ferry yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Surakarta.
Ia menambahkan, SGS 2025 merupakan evolusi dari Solo Great Sale menjadi Soloraya Great Sale, yang kini melibatkan tujuh kabupaten/kota di eks-Karesidenan Surakarta. Program ini, kata Ferry, layak disebut sebagai laboratorium nyata pengembangan aglomerasi ekonomi yang sejalan dengan visi prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
SGS 2025 tak hanya memberi dampak langsung terhadap pelaku usaha lokal, tapi juga memperkuat jaringan kemitraan antarwilayah, serta menjadi ajang promosi investasi dan pariwisata daerah. Keberhasilan ini diharapkan terus berlanjut dan direplikasi ke wilayah lain untuk mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar