Selasa, 07 April 2026

Menkeu: Konsumsi Rumah Tangga dan Manufaktur Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Minggu, 25 Mei 2025 12:24 WIB
Menkeu: Konsumsi Rumah Tangga dan Manufaktur Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan perkembangan ekonomi Indonesia pada Triwulan I dalam Konferensi Pers APBN KiTa pada Jumat (23/5/2025) di Jakarta. (Dok/Kemenkeu)
Jakarta (buseronline.com) - Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,87% pada Triwulan I tahun 2025. Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran, serta sektor manufaktur dari sisi produksi, di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.

Hal ini diungkapkan Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa yang digelar di Jakarta, Jumat. Ia menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga, yang menjadi kontributor utama terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, tercatat menyumbang sebesar 54,5% terhadap total GDP, dengan pertumbuhan mencapai 4,89%.

“Ekonomi Indonesia yang tumbuh di 4,87% tadi didukung oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga itu 54,5% dari total GDP kita, yang masih terjaga mendekati 4,9% atau bahkan 5%,” ujar Sri Mulyani.

Meski demikian, Menkeu menyoroti perlambatan pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang hanya tumbuh sebesar 2,12% pada triwulan pertama. Angka ini dinilai cukup rendah jika dibandingkan dengan kinerja empat tahun terakhir, sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya mendorong investasi nasional.

“PMTB ini yang perlu untuk kita waspadai karena pertumbuhannya di Q1 hanya 2,12%. Kalau dibandingkan empat pembanding tahun sebelumnya, angka ini relatif rendah sehingga memang investment atau PMTB harus ditingkatkan,” tegasnya.

Dari sisi belanja pemerintah, terjadi kontraksi sebesar 1,38% dibandingkan tahun lalu. Menkeu menjelaskan hal ini disebabkan oleh tidak adanya belanja pemilu pada tahun 2025 serta pengurangan bantuan sosial yang sebelumnya digelontorkan pada tahun 2024 untuk merespons dampak El Nino.

Di sisi eksternal, kinerja ekspor mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,78%, sementara impor tumbuh 3,96%. Ini menunjukkan pemulihan kegiatan perdagangan internasional meski dengan laju yang masih terbatas.

Dari sisi produksi, sektor manufaktur tumbuh sebesar 4,55%, diikuti sektor perdagangan sebesar 5,03%, dan sektor pertanian yang mencatatkan lonjakan signifikan hingga 10,52%.

“Tiga sektor terbesar yakni manufaktur, perdagangan, dan pertanian, pertumbuhannya relatif stabil di atas 5%, bahkan pertanian melonjak di 10,52%,” tambah Sri Mulyani.

Sektor lain yang turut memberikan kontribusi pertumbuhan antara lain konstruksi, transportasi, informasi dan komunikasi, jasa keuangan, akomodasi, makanan-minuman, dan real estate. Namun, sektor pertambangan masih mengalami kontraksi akibat fluktuasi harga komoditas global.

“Untuk sektor-sektor yang tumbuh positif ini kita memberikan apresiasi,” tutup Menkeu.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama ini mencerminkan ketahanan domestik yang cukup kuat di tengah dinamika global, meskipun sejumlah indikator seperti investasi dan sektor pertambangan masih memerlukan perhatian dan penguatan kebijakan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Pertama di Indonesia, Sumut Luncurkan Sistem Pendaftaran Bisnis Berbasis SDGs
Menuju Swasembada Pangan, Jateng Terus Tancap Gas dengan Strategi Nyata
Dekranasda Jateng Gandeng Kemenlu untuk Dorong Promosi Produk Ekraf ke Pasar Global
Monaco Bungkam Marseille 2-1, Catat Tujuh Kemenangan Beruntun
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
komentar
beritaTerbaru