Sabtu, 07 November 2026

Pemko Bandung Waspadai Lima Momentum Pemicu Inflasi hingga 2027

Sabtu, 07 November 2026 06:37 WIB
Pemko Bandung Waspadai Lima Momentum Pemicu Inflasi hingga 2027
Kepala BPS Kota Bandung Nevi Hendri dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kota Bandung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Selasa (3/11/2026).

Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemko) Bandung memperkuat langkah pengendalian inflasi menjelang lima momentum besar hingga 2027. Dilansir dari laman Jabarprov, upaya tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi.

Lima momentum yang menjadi perhatian Pemko Bandung meliputi Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, Ramadan, Idulfitri, serta Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Kelima periode tersebut berpotensi meningkatkan permintaan barang dan jasa yang dapat memicu kenaikan harga.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pengendalian inflasi menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berlangsung secara berkualitas.

Berdasarkan data Oktober 2026, inflasi tahunan (year on year/yoy) Kota Bandung tercatat sebesar 2,95 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) mencapai 2,18 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada semester II tercatat sebesar 5,78 persen.

"Pada dasarnya, kita ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonominya harus berkualitas. Salah satu syaratnya adalah pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan tingkat inflasi yang terkendali," kata Farhan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kota Bandung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, pada 3 November 2026.

Untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga, Pemko Bandung bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat pemantauan harga, memastikan ketersediaan stok pangan, serta menjaga kelancaran distribusi dari pasar induk ke pasar tradisional.

Koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga ditingkatkan guna mengantisipasi gejolak harga.

Farhan memastikan ketersediaan beras di Kota Bandung dalam kondisi aman. Pasokan beras tercatat surplus sekitar 35.000 ton dari berbagai varietas, mulai dari beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga beras premium.

Harga rata-rata beras saat ini mencapai Rp13.585 per kilogram atau sekitar Rp85 di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). "Kita pastikan stoknya ada. Stok beras banyak sekali. Kita punya surplus beras sampai 35.000 ton," ujarnya.

Selain pangan, sejumlah komoditas dan kelompok pengeluaran turut memengaruhi inflasi Kota Bandung, di antaranya bahan bakar minyak (BBM), kontrak dan sewa rumah atau kos-kosan, sigaret kretek putih, emas perhiasan, serta transportasi udara.

Farhan menyebut transportasi udara termasuk dalam 10 besar faktor yang memengaruhi inflasi. Hingga Senin (2/11/2026), jumlah penumpang pesawat tercatat sekitar 2.200 orang per hari seiring bertambahnya destinasi penerbangan domestik.

Berdasarkan data hingga Oktober 2026, terdapat sekitar 18 juta perjalanan masuk (inbound) ke Kota Bandung dan 14 juta perjalanan keluar (outbound). Selisih empat juta perjalanan tersebut dinilai menjadi peluang ekonomi untuk mendorong sektor pariwisata dan jasa.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Wilayah BI Jawa Barat Junanto Herdiawan mengapresiasi langkah Pemko Bandung dalam mengendalikan inflasi. Menurutnya, inflasi Kota Bandung masih terkendali dan diperkirakan berada dalam rentang sasaran pada 2026.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemprov Jateng Perkuat Pengendalian Inflasi, Hampir 2.000 Operasi Pasar Digelar
Pemko Bandung Siapkan Infrastruktur Logistik Pangan, Ketergantungan Pasokan Luar Daerah Capai 94 Persen
Pemko Bandung Dorong Perempuan Rutin Skrining Kanker Payudara dan Serviks
Pemko Medan Perkuat Pengendalian Inflasi, Stabilitas Harga Bahan Pokok Jadi Prioritas
Pemko Bandung Perketat Pengawasan Restoran dan SPPG
Pemko Bandung Gencarkan Skrining HIV Sukarela, Perkuat Peran Masyarakat
komentar
beritaTerbaru