Selasa, 06 Oktober 2026

Nawal Dorong Batik Sragen Berkolaborasi dengan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Selasa, 06 Oktober 2026 16:10 WIB
Nawal Dorong Batik Sragen Berkolaborasi dengan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Ketua Dekranasda Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin saat menjadi narasumber dalam Talkshow Sragen Batik Heritage Fest 2026 bertema “Batik Sragen dan Situs Warisan Dunia: Potensi dan Peluang” yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung SIKK Kabupaten Sragen, Minggu (4/10/2026).

Sragen (buseronline.com) - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mendorong inovasi batik dengan mengangkat karakter dan potensi khas setiap daerah.

Menurut Nawal, pengembangan batik berbasis potensi lokal tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga dapat mendukung sektor pariwisata dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi kreatif.

Dilansir dari laman Jatengprov, hal itu disampaikan Nawal saat menjadi narasumber dalam Talkshow Sragen Batik Heritage Fest 2026 bertema "Batik Sragen dan Situs Warisan Dunia: Potensi dan Peluang" yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung SIKK Kabupaten Sragen, pada 4 Oktober 2026.

Nawal mengatakan, pengembangan batik tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama di setiap daerah. Sebab, masing-masing daerah memiliki potensi dan karakter yang dapat diterjemahkan menjadi motif maupun produk batik.

"Bagaimana kolaborasi ini kita bentuk, semisal batik kita collab dengan pariwisata. Kita lihat ada Sangiran. Itu sebagai tanda bahwa tujuan kita, misalnya untuk pariwisata di Sragen, dengan membeli batik yang motif ini," ujar Nawal.

Ia menilai Situs Sangiran dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dalam pengembangan motif batik khas Sragen. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat citra Sragen sebagai daerah tujuan wisata sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.

Selain pariwisata, Nawal mendorong pengembangan batik melalui sektor ekonomi kreatif. Potensi lokal seperti Bengawan Solo dapat diolah menjadi inspirasi motif maupun desain produk yang memiliki ciri khas tersendiri.

Produk batik juga dinilai tidak harus terbatas dalam bentuk kain. Pelaku usaha dapat mengembangkan batik menjadi berbagai produk kriya, seperti tas dan produk lainnya yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

"Jadi bagaimana kita bersama-sama lewat keunggulan masing-masing. Misalnya, lewat ekonomi kreatif, kita juga kembangkan dengan kriya seperti tas," katanya.

Nawal juga mendorong agar inovasi batik diarahkan untuk memperluas pasar hingga tingkat global. Kolaborasi antar sektor dinilai penting untuk menciptakan segmen pasar baru, sekaligus mempertahankan karakter batik yang berbasis pada potensi daerah.

Di sisi lain, regenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan industri batik. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menjadi pengusaha, perajin, dan inovator batik.

"Maka anak-anak muda mungkin nanti bisa menjadi pengusaha batik, inovator segmen anak muda, dengan belajar membatik, berkarya lewat batik, menemukan potensi ekonomi di batik, dan kemudian bisa meningkatkan kesadaran melestarikan batik," jelasnya.

Nawal menegaskan, inovasi dan regenerasi harus berjalan beriringan agar batik tetap berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budaya daerah.

"Jadi ini menjadi salah satu potensi bagaimana kolaborasi-kolaborasi harus dijaga, kita kembangkan lewat ekonomi kreatif ataupun dengan keikutsertaan para pemuda," pungkasnya. (R)

beritaTerkait
Posyandu 6 SPM di Jateng Didorong Aktif Layani dan Tindaklanjuti Aduan Masyarakat
Porprov XVII Jateng Diikuti 7.990 Atlet, Jadi Ajang Pembinaan Menuju PON
Gubernur Jateng Dorong MES Perkuat UMKM dan Ekonomi Syariah
Pemprov Jateng Percepat Verifikasi 4.230 Gerai Koperasi Merah Putih
Pemprov Jateng Siapkan Kawasan Industri Halal untuk Tarik Investor
Wamendikdasmen Dorong Revitalisasi Sekolah di Daerah Rawan Banjir Demak
komentar
beritaTerbaru