Rabu, 23 September 2026

Prabowo Dorong Penguatan Industri Tekstil Nasional, Serap 4 Juta Tenaga Kerja

Rabu, 23 September 2026 21:41 WIB
Prabowo Dorong Penguatan Industri Tekstil Nasional, Serap 4 Juta Tenaga Kerja
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Jakarta (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong penguatan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional sebagai salah satu sektor strategis yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan ekspor.

Hal tersebut menjadi salah satu agenda dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, industri TPT yang mencakup sektor hulu, antara, hingga hilir memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional.

Airlangga menyebut industri tersebut memberikan kontribusi sekitar 0,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, serta mencatat nilai ekspor sekitar 12 miliar dolar AS.

"Ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis dan dalam arahan tadi terhadap Pak Presiden, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu 5,6 persen dan untuk industri barang, kulit dan alas kaki tumbuhnya 8,25 persen," ujar Airlangga dalam keterangan pers usai rapat.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah membahas sejumlah langkah untuk memperkuat daya saing industri TPT. Langkah itu antara lain harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir, kemudahan masuknya bahan baku, serta penertiban praktik impor yang dinilai mengganggu industri dalam negeri.

Airlangga mengatakan Presiden Prabowo meminta ketentuan terkait Peraturan Teknis (Pertek) dan regulasi lainnya ditinjau untuk memastikan kelancaran pasokan bahan baku bagi industri nasional.

"Yang pertama tentu terkait dengan kemudahan bahan baku untuk masuk. Nah Bapak Presiden tadi meminta kita untuk mereview terkait dengan Pertek dan yang lain," katanya.

Pemerintah juga menyoroti persoalan impor pada sektor hilir, khususnya industri garmen. Presiden meminta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai segera menertibkan praktik impor kiloan maupun impor dalam jumlah besar yang dinilai mengganggu produsen garmen dalam negeri.

"Kemudian yang kedua, khusus untuk di hilir, yaitu terkait dengan garmen. Di mana gangguan-gangguan melalui impor kiloan, ataupun impor yang bulk rest. Itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan karena hal ini sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri," ujar Airlangga.

Selain perdagangan dan bahan baku, rapat juga membahas fleksibilitas penggunaan tenaga kerja melalui Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), khususnya untuk memenuhi kebutuhan produksi yang mengikuti siklus permintaan musiman.

Presiden Prabowo, kata Airlangga, meminta kementerian terkait mencari regulasi yang tepat mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas PKWT. Pemerintah juga akan mengevaluasi penerapan PPN bagi industri tekstil dan pakaian jadi yang berorientasi ekspor.

"Tadi Bapak Presiden juga menyatakan bahwa untuk PPN terkait dengan PKWT, nanti kita carikan regulasi yang pas dan kemudian juga kami sampaikan terkait dengan garmen dan tekstil yang berorientasi untuk ekspor, tentu terkait dengan PPN-nya diminta untuk dapat juga dievaluasi," jelasnya.

Sementara itu, Presiden Prabowo meminta Danantara segera aktif membantu proses restrukturisasi perusahaan-perusahaan tekstil yang menghadapi persoalan keuangan.

Airlangga menegaskan bahwa industri tekstil tidak dikategorikan sebagai industri yang telah memasuki fase sunset. Karena itu, pemerintah mendorong terbukanya peluang reinvestasi dan penambahan modal kerja bagi sektor tersebut.

"Terkait dengan perusahaan-perusahaan yang sedang direstrukturisasi, Bapak Presiden minta agar ini Danantara segera aktif untuk menyelesaikan dan selanjutnya terkait dengan perbankan, tadi juga disampaikan Bapak Presiden bahwa industri tekstil bukan industri yang dikategorikan sunset," ujar Airlangga.

Penguatan sektor TPT diharapkan dapat menjaga keberlangsungan industri nasional, sekaligus mempertahankan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan daya saing produk tekstil Indonesia di pasar global. (DKI1)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Wabup Deni Lumbantoruan Tekankan Kolaborasi dan Inovasi untuk Majukan Pariwisata Taput
Prabowo Dorong Pendidikan Negeri Gratis hingga Perguruan Tinggi
Pemkab Taput Tanam Serentak 2,2 Juta Bibit Kopi Arabika
Pemerintah Targetkan Produksi E20 dalam Dua Tahun, Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu
Pemkab Taput Perkuat Promosi Pariwisata dan UMKM Lewat Media Sosial
15 Kegiatan Pemulihan Pascabencana di Taput Rampung, Dua Segera Tuntas
komentar
beritaTerbaru