Sabtu, 19 September 2026

Menkeu Sebut Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Gejolak Global

Sabtu, 19 September 2026 14:55 WIB
Menkeu Sebut Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Gejolak Global
Menkeu RI Suahasil Nazara.

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Keuangan (Menkeu) RI Suahasil Nazara menyebut perekonomian Indonesia tetap resilien di tengah gejolak ekonomi global.

Dilansir dari laman Kemkeu, hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, serta kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih terjaga.

Suahasil mengatakan pemerintah terus mencermati perkembangan global sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Konflik di Timur Tengah dan perubahan suku bunga Amerika Serikat menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.

"Kita selalu sangat memperhatikan apa yang terjadi di global. Memperhatikan apa yang terjadi di global itu menjadi penting untuk kita menyiapkan antisipasi perekonomian Indonesia. Dan salah satu antisipasinya adalah antisipasi yang harus dilakukan oleh APBN," ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta, pada 18 September 2026.

Meski menghadapi tekanan global, sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 tercatat 5,45 persen. Sementara inflasi pada Agustus 2026 berada di level 3,19 persen.

"Itu adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia itu stay resilient. Indonesia itu tetap resilien perekonomiannya, gerak ekonominya, gerak di masyarakat," katanya.

Ketahanan ekonomi juga terlihat dari aktivitas masyarakat. Penjualan mobil dan sepeda motor, penjualan semen, serta konsumsi tercatat mengalami pertumbuhan. Keyakinan konsumen juga menguat dan penjualan riil kembali berada dalam fase ekspansif.

Namun, pemerintah tetap mewaspadai sektor manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur menjadi salah satu indikator yang terus diperhatikan karena sektor tersebut masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global.

"Jadi, harus kita waspadai, kita tidak boleh lengah, tapi Indonesia kondisi ekonominya cukup resilien, malah saya bisa katakan sangat resilien," tegas Suahasil.

Dari sisi harga, pemerintah terus menjaga inflasi agar berada dalam kisaran sasaran. Harga pangan menjadi salah satu faktor yang dipantau, terutama sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga.

Pemerintah juga menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak bersubsidi, tarif listrik, serta sejumlah harga lain yang berada dalam kewenangan pemerintah.

Sementara itu, arus modal ke pasar keuangan domestik mulai menunjukkan pemulihan. Akumulasi capital inflow hingga 11 September 2026 tercatat mencapai Rp141,6 triliun.

Untuk Surat Berharga Negara (SBN), arus modal asing secara neto mencapai Rp40,8 triliun. Adapun arus masuk pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat Rp171,6 triliun, sejalan dengan penurunan penerbitan SRBI oleh Bank Indonesia.

Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga akhir Agustus 2026 juga dinilai tetap kuat. Keseimbangan primer berada di posisi positif, sementara defisit anggaran masih terkendali.

"Pendapatan negara Rp2.055,6 triliun, 65 persen dari target. Belanja negaranya Rp2.295 triliun, maka defisitnya adalah Rp240,1 triliun, yang artinya adalah 0,93 persen dari PDB kita," pungkas Suahasil. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemerintah Terima Pertimbangan DPD RI untuk RAPBN 2027
Suahasil Nazara Tegaskan APBN Harus Sehat dan Kredibel
Komisi XI DPR Setujui Anggaran Kemenkeu 2027 Rp49,80 Triliun
Pemerintah Dorong Investasi Berkualitas untuk Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Menkeu Purbaya Dorong FTA dan Energi Bersih Dongkrak Daya Saing Ekspor Indonesia
Pemerintah Optimistis Ekonomi Nasional Tetap Solid pada 2027
komentar
beritaTerbaru