Sabtu, 19 September 2026

Pemprov Sumut Kembangkan Kawasan Unggulan Perikanan Tangkap dan Budidaya

Jumat, 18 September 2026 15:50 WIB
Pemprov Sumut Kembangkan Kawasan Unggulan Perikanan Tangkap dan Budidaya
Konferensi pers di lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9/2026).

Medan (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mengembangkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya sebagai program strategis untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.

Program tersebut dikembangkan secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Pemprov Sumut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU) telah menyusun master plan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut Jenny Masniari Sinaga mengatakan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap pada 2026 diprioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur Sumut. Sedangkan pada 2027, pengembangan akan diarahkan ke Kepulauan Nias.

"Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur dan tahun 2027 kita kembangkan di Kepulauan Nias," ujar Jenny dalam konferensi pers di lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, pada 17 September 2026.

Menurut Jenny, penentuan kawasan unggulan didasarkan pada potensi serta produksi perikanan di masing-masing daerah. Data DKP Sumut mencatat produksi perikanan Sumut pada 2025 mencapai 382.127,77 ton.

Sementara target produksi perikanan pada 2026 mencapai 383.036,91 ton. Hingga triwulan II 2026, realisasi produksi telah mencapai 200.931,45 ton.

Sejumlah daerah dengan produksi perikanan tinggi pada 2025 antara lain Tapanuli Tengah (Tapteng), Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai.

"Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir," kata Jenny.

Ia menjelaskan, konsep tersebut mencakup pemberian alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan nelayan, kemudian dilanjutkan dengan penguatan hilirisasi hingga pengolahan hasil perikanan.

Untuk wilayah pengelolaan perikanan 572, kawasan yang dikembangkan mencakup Kepulauan Nias, yakni Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli. Sementara wilayah pantai barat meliputi Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal.

Komoditas potensial di wilayah tersebut antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe, dan bawal.

Sedangkan wilayah pengelolaan perikanan 571 mencakup kawasan pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara.

Komoditas potensial di kawasan tersebut meliputi kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.

Jenny menegaskan, pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi. Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, serta memperkuat rantai usaha perikanan.

Dalam master plan tersebut juga disusun pengembangan kawasan unggulan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai. "Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin," ujarnya.

Pengembangan kawasan perikanan tangkap juga akan diintegrasikan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Pada 2025, program tersebut telah dibangun di empat wilayah, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara.

Pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.

Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut Muhammad Riza Kurnia Lubis mengatakan Sumut memiliki potensi besar dalam pengembangan perikanan budidaya.

Salah satu komoditas unggulan yang banyak diminati adalah udang vaname yang hingga kini menjadi komoditas ekspor. Selain itu, Pemprov Sumut juga memberikan perhatian terhadap pengembangan rumput laut karena memiliki peluang pasar ekspor.

"Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsern Sumut seperti tahun ini kita prioritaskan rumput laut juga diminati pasar ekspor," kata Riza.

Pemprov Sumut berharap pengembangan kawasan perikanan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir dapat meningkatkan nilai tambah hasil perikanan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi nelayan dan masyarakat pesisir. (P3)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemprov Sumut Salurkan Rp49,5 Miliar untuk Program Bersekolah Gratis
Pemprov Sumut Perkuat Pengelolaan Aset Daerah untuk Dongkrak PAD
Pemprov Sumut Dorong Percepatan PSEL Medan Raya, Groundbreaking Ditargetkan Desember 2026
Pemprov Sumut Perkuat Perlindungan PMI, Persempit Ruang Gerak TPPO
Pemprov Sumut Dorong HKTI Jadi Mitra Strategis Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Pemprov Sumut Kenalkan Wisata dan Kuliner kepada Delegasi Malaysia-Thailand
komentar
beritaTerbaru