Kamis, 23 Juli 2026

Kosabangsa 2025: Wujud Nyata Mahasiswa Berdampak untuk Masyarakat

Sabtu, 17 Mei 2025 10:45 WIB
Kosabangsa 2025: Wujud Nyata Mahasiswa Berdampak untuk Masyarakat
Mendiktisaintek Brian Yuliarto (tengah) bersama jajaran pimpinan Kemdiktisaintek dalam acara "Ngopi Bareng Kemdiktisaintek," membahas peluncuran tiga program strategis, termasuk Program Kosabangsa 2025. (Dok/Diktisaintek)
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan resmi meluncurkan tiga program strategis nasional dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketiga program tersebut adalah Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh BEM, Program Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi PUI-PT, serta Call for Proposal Program Kosabangsa Tahun 2025.

Peluncuran program dilakukan secara daring melalui kanal YouTube Kemdiktisaintek pada Rabu (14/5/2025), sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi yang relevan, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Ketiga program ini menjadi implementasi nyata dari visi Diktisaintek Berdampak, yang menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penggerak utama transformasi sosial dan ekonomi nasional.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa program-program ini dirancang untuk memperkuat tridarma perguruan tinggi, khususnya aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan kebutuhan bangsa.

“Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ini berperan sebagai instrumen strategis untuk mengarahkan riset dan pengabdian agar lebih berdampak, sesuai kebutuhan bangsa, serta mendukung pencapaian Asta Cita dan visi Indonesia Emas 2045,” ujar Menteri Brian.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mempercepat kemajuan dan keadilan sosial.

Salah satu program unggulan yang diluncurkan adalah Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat). Program ini mengusung konsep pengabdian kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha dalam menyelesaikan persoalan nyata di wilayah tertinggal, daerah rawan bencana, dan kawasan miskin ekstrem.

Kosabangsa 2025 akan difokuskan pada pengembangan ekonomi lokal, sistem pertanian berkelanjutan, kesehatan masyarakat, pendidikan adaptif, dan pemanfaatan teknologi tepat guna.

Melalui pendekatan rekayasa sosial berbasis iptek, Kosabangsa diharapkan memperkuat ketahanan masyarakat akar rumput serta menciptakan transformasi sosial dari bawah.

Program kedua yang diluncurkan adalah Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh BEM, yang memperkuat posisi mahasiswa sebagai pelaku utama perubahan sosial. Program ini memberi ruang kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk merancang dan melaksanakan program pemberdayaan berbasis riset dan pendekatan partisipatif.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, menyatakan bahwa mahasiswa tidak hanya dilatih untuk berpikir kritis, tetapi juga dibentuk menjadi pemimpin yang berempati dan solutif.

“Mahasiswa Berdampak adalah pengejawantahan etis dari tanggung jawab intelektual mahasiswa untuk menjadi pelaku perubahan. Ini bukan kegiatan biasa, tapi bagian dari pembentukan karakter pemimpin bangsa,” tegasnya.

Program ketiga adalah Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi PUI-PT, yang ditujukan untuk memperkuat pusat unggulan iptek (PUI) di lingkungan perguruan tinggi. Program ini mendorong penguatan sumber daya manusia, fasilitas riset, tata kelola, dan kemitraan strategis dengan industri serta sektor publik.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menegaskan pentingnya mengintegrasikan riset dengan kebutuhan nyata masyarakat.

“Kita ingin hasil riset bukan hanya berhenti di jurnal. Tapi hadir sebagai solusi: menciptakan kemandirian desa, produk inovatif yang bisa dikomersialisasi, dan membuka akses teknologi bagi komunitas,” ungkap Dirjen Fauzan.

Ketiga program ini merupakan bentuk nyata dari komitmen Kemdiktisaintek dalam menjadikan pendidikan tinggi sebagai solusi atas tantangan pembangunan nasional.

Kemdiktisaintek berharap riset dan pengabdian yang dilakukan tidak hanya bersifat akademik, namun mampu menjawab kebutuhan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara luas.

“Mari kita manfaatkan program-program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ini sebagai arah kebijakan yang memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan bangsa,” ajak Menteri Brian dalam penutup sambutannya.

Dengan peluncuran ini, Kemdiktisaintek berharap seluruh elemen di perguruan tinggi—mahasiswa, dosen, dan peneliti—dapat bersinergi untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif, berdaya, dan berkeadilan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
LBH Medan Minta Hak Keluarga Korban Ledakan Grand Polonia Dipenuhi
Pemkab Garut Terima Bantuan Dua Unit Portable USG Senilai Rp400 Juta
Kemenag Banda Aceh Gandeng Densus 88 Perkuat Wawasan Kebangsaan ASN
Di Balik Adhi Makayasa, Ada Doa Orang Tua dan Tekad Mengabdi untuk Negeri
Wagub Jabar Apresiasi Festival Rakyat Nusantara 2026, Dorong UMKM Terus Berkembang
Presiden Prabowo Jamu Perwira Remaja TNI-Polri dan Keluarga di Istana
komentar
beritaTerbaru