Rabu, 07 Oktober 2026

Tujuh Tantangan Mengadang Perbankan Indonesia Menuju 2027

Selasa, 06 Oktober 2026 23:23 WIB
Tujuh Tantangan Mengadang Perbankan Indonesia Menuju 2027
Rektor isi Prof Muryanto Amin berikan kata sambutan pada kegiatan Seminar Nasional “Tantangan Bisnis Perbankan 2027 yang digelar IKA USU Jakarta, Selasa (6/10/2026). (Foto Humas USU)

Medan (buseronline.com) - Industri perbankan Indonesia memasuki 2027 dengan fondasi yang relatif kuat. Namun, berbagai tantangan struktural mulai dari perkembangan teknologi, ancaman siber, perubahan regulasi, ketidakpastian ekonomi, tuntutan ESG hingga kesenjangan talenta menuntut industri untuk semakin adaptif.

Per Agustus 2026, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65 persen secara tahunan, dengan tingkat permodalan 24,1 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) 2,11 persen.

Berbagai tantangan tersebut dibahas dalam Seminar Nasional Ikatan Alumni Universitas Sumatera Utara (IKA USU) Jakarta bertajuk "Tantangan Bisnis Perbankan 2027 - Adaptasi atau Tertinggal", dengan tema "Menjinakkan Risiko, Menguasai Teknologi: Tujuh Tantangan Utama Perbankan Indonesia Menuju 2027", di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Seminar mempertemukan regulator, perbankan, fintech, akademisi dan praktisi untuk merumuskan strategi menghadapi perubahan industri keuangan nasional.

Rektor USU Prof Dr Muryanto Amin SSos MSi, mengatakan semangat adaptasi yang menjadi tema seminar juga relevan dengan dunia pendidikan tinggi.

"Konsep adaptasi atau tertinggal ini juga sejalan dengan apa yang kita hadapi di Universitas Sumatera Utara. Perguruan tinggi harus beradaptasi terhadap perubahan. Kalau kita tidak mampu beradaptasi, maka kita akan tertinggal," ujarnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), kebutuhan dunia kerja dan perubahan karakter generasi mahasiswa menuntut perguruan tinggi membangun ekosistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan.

Ketua IKA USU Jakarta Tujuh Martogi Siahaan mengatakan tantangan perbankan menuju 2027 hadir secara bersamaan, bukan lagi satu per satu.

"Tantangan tersebut mulai dari risiko makroekonomi dan regulasi hingga disrupsi teknologi, keamanan siber, AI, keberlanjutan dan talenta. Karena itu, kita tidak cukup hanya beradaptasi terhadap perubahan, kita harus mampu mengantisipasinya," katanya.

Ia menyebut seminar tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan regulator, industri dan akademisi dalam membangun perspektif bersama serta merumuskan langkah konkret untuk memperkuat industri perbankan Indonesia.

Seminar mengidentifikasi tujuh tantangan utama, yakni disrupsi digital dan fintech, keamanan siber dan pelindungan data, adopsi AI, tekanan regulasi dan kepatuhan, risiko kredit dan kondisi makroekonomi, ESG, serta sumber daya manusia.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto, Adi Budiarso, mengatakan masa depan sektor jasa keuangan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan inovasi, tetapi juga kemampuan menjaga stabilitas, keamanan, tata kelola dan pelindungan konsumen.

"Transformasi digital sektor keuangan harus diarahkan menjadi mesin produktivitas yang memperluas akses pembiayaan dan memberikan manfaat nyata bagi sektor riil serta masyarakat," tegasnya.

Sementara itu, Ketua KPPU Gopprera Panggabean menilai konsolidasi dan restrukturisasi perbankan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi serta kesehatan industri.

Namun, proses tersebut harus tetap menjamin persaingan usaha yang sehat, inovasi, pilihan konsumen dan akses pembiayaan. Konsentrasi pasar dan berkurangnya jumlah pesaing efektif juga menjadi hal yang perlu diantisipasi.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan transformasi digital harus memberikan dampak ekonomi yang nyata.

BTN, katanya, terus mengembangkan transformasi proses melalui Loan Factory, Monoline Collection System, AI/OCR, modernisasi Core Banking, BDS dan AS400 untuk memperkuat efisiensi, tata kelola dan manajemen risiko.

"Teknologi bukan tujuan akhir transformasi sektor keuangan. Nilai sebenarnya terletak pada kemampuan teknologi untuk memperluas akses pembiayaan, meningkatkan efisiensi, memperkuat resiliensi dan menggerakkan sektor riil," katanya.

Dari sisi manajemen risiko, Direktur Risk Management BTN Johanes Barus menilai bank perlu bergeser dari pendekatan reaktif menuju pengelolaan risiko yang proaktif, terukur dan berbasis data.

Pemanfaatan AI dan advanced analytics dinilai dapat membantu bank menghasilkan keputusan yang lebih prediktif dan adaptif. Namun, perkembangan tersebut harus diimbangi dengan penguatan keamanan siber dan tata kelola.

Guru Besar Hukum Persaingan Usaha USU Prof Dr Ningrum Natasya Sirait SH MLi menambahkan transformasi digital tidak otomatis menciptakan persaingan usaha yang sehat.

Pergeseran kekuatan pasar menuju data, algoritma dan infrastruktur digital dapat memunculkan risiko ecosystem lock-in, self-preferencing, eksklusivitas hingga akuisisi calon pesaing.

Karena itu, kebijakan persaingan dinilai perlu lebih preventif dan diterapkan sejak tahap desain produk.

Dengan teknologi sebagai penggerak, tata kelola sebagai kompas, keamanan sebagai fondasi dan kolaborasi sebagai kekuatan, industri perbankan Indonesia diharapkan mampu menghadapi 2027 dengan lebih cerdas, tangguh, inklusif dan berkelanjutan.

Transformasi tersebut diharapkan mampu memperkuat industri perbankan sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional. (RP)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Bupati Taput Ikuti Program “Jaksa Sahabat Pendidik”
Wabup Taput Dampingi Menkop RI Beri Kuliah Umum di UNITA, Dorong Generasi Muda Manfaatkan Koperasi
Kemendikdasmen dan OJK Perkuat Literasi Keuangan Siswa melalui Rumah Pendidikan
Mendiktisaintek Dorong USU Jadi Pusat Unggulan Iptek di Sumatera
Prabowo Dorong Pendidikan Negeri Gratis hingga Perguruan Tinggi
Gebyar PAUD Tarutung 2026, Bunda PAUD Tekankan Pentingnya Bermain dan Belajar Seimbang
komentar
beritaTerbaru