Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia terus memperkuat langkah penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dengan mengoptimalkan peran kader kesehatan serta memperluas jangkauan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menyentuh jutaan warga di seluruh tanah air.
Wakil Menteri Kesehatan, Prof Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India.
“Diperkirakan terdapat sekitar 1.090.000 kasus baru TBC di Indonesia setiap tahun. Tahun ini saja, kita sudah berhasil mengidentifikasi sekitar 900 ribu kasus,” ungkap Prof Dante dalam Forum Public Hearing bertajuk “Negara Beri Bukti, Masyarakat Terima Hasil”, Rabu.
Menurutnya, tantangan selanjutnya adalah memastikan seluruh pasien yang telah teridentifikasi mendapatkan pengobatan secara tuntas.
Pemerintah kini menyediakan obat-obatan dengan durasi pengobatan lebih singkat, yaitu enam bulan, untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menyelesaikan terapi.
Peran kader TBC disebut sangat krusial dalam memastikan pengobatan berjalan sesuai rencana. “Kader TBC bertugas mendampingi pasien, mengidentifikasi kontak erat, serta mengarahkan pasien untuk segera memulai pengobatan jika ditemukan kasus,” jelas Prof Dante.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk menurunkan prevalensi TBC melalui deteksi dini dan edukasi tentang pentingnya menyelesaikan pengobatan secara menyeluruh.
Pemerintah juga menegaskan bahwa pengendalian TBC tidak bisa dilakukan oleh negara saja, melainkan membutuhkan pelibatan aktif masyarakat, terutama melalui kader-kader kesehatan di lapangan.
Selain penguatan kader TBC, pemerintah juga menggencarkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah diluncurkan sejak 10 Februari 2025.
Hingga kini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 6,9 juta warga di berbagai daerah.
“Data menunjukkan, sebelum adanya CKG, hanya 39,8% masyarakat yang rutin memeriksakan kesehatannya. Sisanya, 60,2%, belum pernah sama sekali, yang menyebabkan banyak penyakit kronis terdeteksi terlambat,” papar Prof Dante.
Program CKG menyasar deteksi dini penyakit kronis seperti gagal ginjal, jantung, diabetes, dan kanker, serta ditujukan khusus bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, dan anak sekolah dalam rangka mempersiapkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
“Pemeriksaan kesehatan sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Anak-anak yang tumbuh sehat secara fisik dan mental adalah fondasi masa depan Indonesia,” tegas Prof Dante.
Salah satu warga penerima manfaat, Indri Meti menyampaikan apresiasinya terhadap layanan CKG. “Lewat CKG, saya bisa tahu kondisi kesehatan saya, dari tekanan darah, jantung, hingga gigi. Terima kasih kepada pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Komunikasi Kepresidenan PCO, Hasan Hasbi menjelaskan bahwa Public Hearing menjadi forum transparansi dan partisipasi publik.
“Kami membuka ruang dialog langsung antara masyarakat dan pembuat kebijakan, agar masukan dan kritik bisa diterima, serta perbaikan program dapat segera dilakukan,” ujarnya.
Hasan juga menambahkan bahwa forum semacam ini penting untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait program pemerintah, sekaligus menunjukkan komitmen negara dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif dan berdampak luas. (R)
beritaTerkait
komentar