Jenewa (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem kesehatan global melalui partisipasi aktif pada rangkaian kegiatan World Health Assembly (WHA) ke-78 yang berlangsung di Jenewa, Swiss.
Forum tahunan yang diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini menjadi ajang strategis bagi Indonesia untuk memperjuangkan kolaborasi lintas negara demi layanan kesehatan yang lebih inklusif dan tangguh.
Delegasi Indonesia, yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI, terlibat dalam berbagai agenda penting, termasuk pertemuan bilateral dengan Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Selasa di Palais des Nations, Jenewa.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menegaskan dukungan terhadap agenda kesehatan global serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam transformasi layanan kesehatan di bawah kerangka kerja WHO.
Selain Menkes dan Dirjen WHO, perwakilan Indonesia dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, Badan POM, hingga Kementerian Keuangan turut serta dalam serangkaian diskusi strategis yang juga melibatkan para pemangku kepentingan dari negara-negara anggota WHO serta lembaga donor internasional.
Kegiatan ini berlangsung sepanjang World Health Assembly ke-78 yang diselenggarakan di Jenewa, Swiss, pada pekan ketiga Mei 2025.
Dalam pernyataannya, Menkes RI menyampaikan bahwa Indonesia menyambut baik berakhirnya proses negosiasi Pandemic Agreement—sebuah instrumen hukum yang telah lama ditunggu dan menjadi tonggak penting kolaborasi multilateral di bidang kesehatan. Pemerintah Indonesia mendukung penuh agar perjanjian ini dapat disepakati secara konsensus pada level global.
Berbagai isu krusial dibahas dalam WHA ke-78, antara lain keterbatasan pendanaan kesehatan global, khususnya pasca-penarikan sebagian dukungan dari Amerika Serikat. Penyesuaian struktur dan anggaran WHO untuk periode 2026–2027 menjadi salah satu fokus utama.
WHO telah menghimpun komitmen investasi senilai USD 1,7 M dari 70 donor internasional. Indonesia berkontribusi sebesar USD 30 juta, sebuah komitmen yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam KTT G20 tahun 2024 di Rio de Janeiro, Brasil.
Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan rencana pemanfaatan dana tersebut bersama kementerian terkait, dengan fokus pada penguatan program-program kesehatan nasional dan regional yang mendapat dukungan dari WHO.
Indonesia juga mendorong pendirian WHO Collaborating Center untuk bidang keperawatan dan kebidanan di Tanah Air, melibatkan Politeknik Kesehatan Kemenkes (Poltekkes) dan berbagai perguruan tinggi sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam pengembangan tenaga kesehatan.
Dalam pidato pada sidang WHA 78, Indonesia menyampaikan pentingnya solidaritas global dalam membangun sistem kesehatan yang kuat dan merata. Menkes RI menegaskan, tidak ada negara yang bisa berdiri sendiri dalam menghadapi tantangan kesehatan dunia, terutama di tengah dinamika pasca pandemi COVID-19.
Selain itu, Indonesia terus memperkuat komitmen terhadap program eliminasi tuberkulosis (TB), termasuk pengembangan vaksin generasi baru. WHO menyambut baik uji klinis fase 3 vaksin TB yang saat ini tengah berlangsung di Afrika Selatan, Kenya, Malawi, Zambia, dan Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat penemuan vaksin TB yang efektif, setelah lebih dari satu abad tanpa inovasi besar dalam bidang tersebut.
Indonesia juga menekankan pentingnya kolaborasi kawasan, khususnya di wilayah Pasifik Barat. Pemerintah mendorong reassignment Indonesia ke WHO Regional Office for the Western Pacific (WPRO) sebagai strategi memperkuat sinergi kesehatan regional. Hal ini dinilai penting dalam mengatasi tantangan epidemiologis yang muncul di negara-negara tetangga pasca pandemi dan ke depan.
Dengan tema One World for Health, partisipasi aktif Indonesia dalam WHA ke-78 mencerminkan komitmen negara dalam memperjuangkan sistem kesehatan yang adil, tangguh, dan kolaboratif demi masa depan yang lebih sehat bagi semua. (R)
beritaTerkait
komentar