Depok (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono meninjau langsung pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis Kementerian Kesehatan dalam mendorong deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam kunjungannya, Prof Dante menegaskan bahwa deteksi dini merupakan langkah preventif yang sangat penting dalam sistem kesehatan nasional.
Ia menyebutkan bahwa sasaran program ini adalah seluruh masyarakat Indonesia, namun pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan pendekatan edukatif dan sosialisasi berkelanjutan.
“Kalau kita tahu sejak dini ada hipertensi atau obesitas, maka edukasi dan intervensi bisa dilakukan lebih awal. Ini akan mencegah penyakit berat seperti stroke atau serangan jantung,” ujar Prof Dante.
Program CKG dirancang untuk mencakup semua kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia. Pemeriksaan dilakukan secara terstruktur sesuai fase kehidupan.
Untuk anak sekolah, pemeriksaan mengikuti kalender akademik, sedangkan bagi mahasiswa dilakukan pada awal masa perkuliahan.
Menurut Prof Dante, pendekatan preventif seperti ini jauh lebih efisien secara ekonomi dibandingkan dengan penanganan kuratif.
“Mengobati penyakit jantung jelas lebih mahal daripada mencegahnya. Ini cara kita menekan biaya kesehatan nasional,” tambahnya.
UI menjadi kampus pertama yang menjadi proyek percontohan program ini sebelum diperluas ke berbagai perguruan tinggi dan komunitas di seluruh Indonesia.
Hingga saat ini, lebih dari 500 civitas akademika UI telah mendaftar untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis tersebut.
Hasil awal menunjukkan sejumlah temuan yang mengkhawatirkan, seperti tingginya angka obesitas, hipertensi, dan rendahnya aktivitas fisik di kalangan peserta.
“Padahal, UI ini kampus yang mendukung aktivitas fisik. Ini perlu menjadi perhatian,” tegas Prof Dante.
Tiga kondisi kesehatan terbanyak yang ditemukan dalam pemeriksaan awal adalah hipertensi, obesitas, dan diabetes.
Peserta yang terdeteksi memiliki risiko kesehatan akan dirujuk ke klinik terdekat untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan lanjutan.
Lebih dari sekadar skrining, program ini juga mencakup edukasi kesehatan dan tindak lanjut medis.
Hal ini sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional dari pendekatan kuratif menuju promotif dan preventif.
“Kampus punya potensi besar dalam menyebarkan kesadaran kesehatan, khususnya di kalangan generasi muda. Ini bukan hanya program medis, tapi juga program pemberdayaan masyarakat,” ujar Prof Dante.
Program ini mendapat sambutan positif dari peserta. Banyak di antara mereka yang mengaku baru pertama kali melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan terkejut dengan hasil yang menunjukkan risiko kesehatan yang sebelumnya tidak disadari.
Dengan pendekatan berbasis komunitas dan partisipasi aktif institusi pendidikan, Kementerian Kesehatan berharap angka kesakitan akibat penyakit tidak menular dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan. (R)
beritaTerkait
komentar